JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 166 "Praktek apa sayang??"


__ADS_3

Moranno tersenyum, pikiran usilnya tiba - tiba muncul dikepalanya.


"Suamiku, kenapa kau senyum - senyum sendiri.....?" Tanya Yurina heran sambil menoleh kiri kanan.


"Habiskan saja makanmu sayang......" Ucap Moranno masih tersenyum sendiri.


"Udah habis..... aku mau lagi......" Yurina mengangkat piringnya dengan kedua tangannya lau memperlihatkan pada suaminya.


"Sayang..... serius kau yang menghabiskannya sendiri?" Giliran Moranno yang keheranan.


"Iya, kenapa.....??" Tanya Yurina sambil menurunkan piringnya kembali diatas meja.


"Iyaaaa...... gak kenapa - kenapa, cuman heran saja, biasanya kau tidak terlalu suka makan steak daging. Sebentar sayang, aku ambilkan lagi....." Moranno beranjak menuju meja sajian, tak lama ia kembali membawa beberapa potong steak daging dalam piring ditangannya.


"Terima kasih suamiku....." Wajah Yurina nampak berbinar menatap piring didepannya. Tanpa menunggu lama, Yurina kembali memotong - motong daging dalam piringnya menggunakan pisau dan garpu.


Di masukkannya potongan - potongan daging itu menggunakan garpu ditangan kirinya kedalam mulutnya.


Moranno menatap wajah isterinya yang begitu menikmati santapannya. Walau sempat merasa sedikit aneh, Moranno merasa senang, mungkin isterinya itu sedang berselera makan pikirnya.


Kepala Moranno menoleh kesana - kemari mencari orang yang sempat mencuri perhatiannya itu, sepertinya dua orang yang ia cari sudah menghilang ditengah para tamu dipesta itu.


"Suamiku,.siapa yang kau cari.....?" Yurina ikut menengok kesana - kemari.


"Hmm..... tidak ada....." Ucap Moranno saat tidak menemukan siapa yang ia cari.


"Teruskan makanmu sayang....." Ucap Moranno lagi sambil menyendok makanannya kemulutnya sendiri.


"Sudah habis......." Yurina kembali memperlihatkan piring kosongnya sambil tersenyum malu.


Moranno sedikit mendelik, menatap wajah isterinya tak percaya, lalu berpindah kepiring, dan berpindah lagi kewajah isterinya.


"Kenapa..... suamiku??"


"Ahh tidak..... sepertinya kau suka sekali makan steak itu? Apa kau mau aku mengambilkannya lagi untukmu sayang?" Moranno berdiri hendak bergegas.


"Tidak..... cukup suamiku..... aku sudah kenyang....." Yurina menahan tangan suaminya yang hendak pergi.


"Habiskan makananmu suamiku..... aku rasanya mengantuk mau tidur setelah makan banyak....." Ujar Yurina sambil menguap.


Moranno duduk kembali dikursi lalu segera menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit.

__ADS_1


"Kita berpamitan dulu dengan pengantinya sayang....." Ajak Moranno setelah membersihkan mulutnya menggunakan tissue seusai makan. Ia menggandeng tangan Yurina mendekati dua pengantin yang sedang duduk dipelaminan.


"Kok buru - buru.... acara belum selesai lho....." Ucap Lisa sambil berdiri.


"Aku sudah kenyang, steakmu enak, aku jadi mengantuk...." Ucap Yurina memberi alasan.


"Tapi kita berdua belum mengobrol banyak...." Lisa berusaha menahan sahabatnya itu.


"Memang mau mengobrol apa?"


"Itu, pengalaman malam pertamamu?" Bisik Lisa sambil melirik Moranno dan dokter Randiasa suaminya. Ia khawatir bila pertanyaannya didengar oleh kedua pria itu


"Hushh..... Lisa kau nakal ya nanya - nanya yang begituan, sebenatar lagi kau juga akan mengalaminya sendiri...." Yurina ikut berbisik ditelinga Lisa, membuat Moranno dan dokter Randiasa saling berpandangan.


"Sakit gak??" Tanya Lisa dengan wajah serius masih dalam mode berbisik.


"Gak tahu...." Jawab Yurina sambil menggelengkan kepalanya berkali - kali.


"Kok gitu sih jawabnya?" Lisa merengut, membuat Moranno dan dokter Randiasa kembali berpandangan sambil mengedikkan pundak mereka tanda tidak mengerti apa yang sedang di bahas kedua sahabat itu.


"Apa kau lupa kalau suamiku merenggutnya dengan paksa sebelum ia menjadi suamiku??" Yurina kembali mendekatkan bibirnya ditelinga Yurina dengan suara berbisik, wajahnya sedikit kesal pada pertanyaan Lisa, karena mengingatkannya pada masa lalunya itu.


Namun rasa penasarannya membuat ia tetap bertanya pada sahabatnya itu membuat Yurina gregetan karena ia khawatir pertanyaan konyol sahabatnya itu didengar kedua pria yang telah menjadi suami mereka masing - masing.


"Sudahlah.... gak perlu nanya - nanya, kau praktek aja langsung." Ucap Yurina dengan wajahnya yang sedikit merona.


"Praktek apa sayang?" Tanya Moranno menatap wajah Yurina sambil mengangkat keningnya.


"Hm.... buat steak daging.... iya steak daging, Lisa mau ptaktek buat steak daging...." Jawab Yurina asal dan sedikit gugul.


"Steak daging??" Tanya Moranno mengerutkan alisnya.


"Iya steak daging yang aku makan tadi, sampai aku mengantuk kekenyangan....?"Yurina masih menjawab asal.


"Bukannya steak daging itu resep dari Lisa.... Lisa 'kan seorang chief.....?" Ucap Moranno curiga menatap isterinya itu.


"Itu..... Lisa menanyakan resepku, aku juga bisa masak steak daging, kau ingatkan kalau aku pernah membuatkan steak daging untukmu saat di villa, awal kita menikah.... kau ingatkan suamiku......?" Ucap Yurina yang terlihat bingung membuat penjelasan, sementara Lisa ikut berkeringat dan merasa was - was.


" Hm.... iya.... aku ingat...." Sahut Moranno dengan senyumnya, mengingat pertama kali Yurina memasak untuknya. Selain itu ia tak mau memperpanjang pertanyaannya karena melihat Lisa yang nampak tegang hingga berkeringat. Dari gerak - gerik keduanya, Moranno tahu bahwa isterinya dan sahabatnya itu sedang membahas sesuatu yang tidak biasa.


Untung saja para tamu masih sibuk menikmati hidangan makan malamnya, sehingga mereka bisa mengobrol sedikit panjang dari sebelumnya.

__ADS_1


"Lis, udah dulu ya, aku permisi dulu, kasian para bayiku menunggu untuk menyusui...."


"Baiklah...... terima kasih ya sudah datang malam ini....." Keduanya saling berpelukan erat beberapa saat lamanya, lalu melepaskan kembali pelukannya masing - masing.


Moranno ikut bersalaman dan hanya mengurai senyumnya pada Lisa yang juga memperlihatkan senyumnya.


Setelahnya, Moranno beralih bersalaman dengan dokter Randiasa.


"Sekali lagi..... Selamat atas pernikahan anda dokter, dan selamat berbahagia...." Ucap Moranno mengulas senyum. Kali ini Moranno nampak lebih ramah dari sebelumnya.


"Terima kasih tuan Moranno.....dan terima kasih juga karena telah berkenan hadir diacara pernikahan kami yang sangat sederhana ini bila dibandingkan dengan pesta - pesta yang biasa diadakan keluarga tuan." Ucapnya membalas jabatan Moranno. Wajahnya yang tenang menyiratkan dirinya seorang yang rendah hati.


"Anda terlalu merendah dokter....." Sahut Moranno masih menjabat erat tangan dokter Randiasa.


"Tidak tuan.... saya selalu bersikap apa adanya....." Senyum sang pengantin pria itu.


Moranno menepuk punggung dokter Randiasa pelan beberapa kali dengan penuh makna, namun tidak melanjutkan ucapannya. Yurina dan Lisa hanya memperhatikan kedua pria itu.


Yurina dan Moranno akhirmya meninggalkan kedua pengantin itu dipelaminan mereka saat beberapa tamu datang menghampiri untuk berpamitan.


Moranno memelankan langkahnya sejenak saat pandangannya kembali melihat sepasang pria dan wanita yang telah menyita perhatiannya.


"Ada apa suamiku?" Tanya Yurina menatap wajah Moranno.


"Ikut aku sayang....." Moranno menarik tangan Yurina untuk mengikutinya, melewati beberapa tamu undangan.


Yurina langsung mendelik saat melihat siapa yang diincar oleh suaminya itu.


"Suamiku.... bukannya itu....." Yurina sempat menahan napasnya kaget melihat sang wanita bergelayut erat dilengan prianya, berbaur diantara para tamu.


"Iya.... itu mereka..... diam dan tenanglah sayang....." Moranno dan Yurina melangkah dengan hati - hati melewati beberapa tamu yang tengah berdiri sambil berbincang dengan tamu lainnya.


"Ebem......" Suara Moranno berdehem. Namun pria dan wanita itu seperti tidak mendengar karena dimana mereka berdiri nampak lebih ramai.


"Ehemm...." Suara Moranno sedikit lebih keras dari sebelumnya, membuat Yurina menahan senyumnya, karena kedua pria dan wanita itu masih tidak mendengar. Keduanya sibuk dengan kemesraan yang mereka ciftakan diruang pesta itu tanpa memperdulikan orang - orang disekitanya.


"Dokter Rosalie dan tuan Hartawan......" Panggilan Yurina spontan membuat kedua orang yang dipanggil namanya itu segera membalikkan tubuh mereka secara bersamaan.


Sang wanita serta - merta melepaskan tangannya dari lengan sang pria, terlihat sekali wajahnya sangat gugup tertangkap basah oleh Moranno dan Yurina. Sementara sang pria tetap bersikap tenang, seolah tidak terjadi sesuatu apapun.


"Bisakah dijelaskan pada kami.... apakah ini artinya anda berdua sedang membuat suatu pengumuman akan kedekatan hubungan kalian, dokter Rosalie dan tuan Hartawan?" Ledek Moranno. Senyumnya membuat dokter Rosalie jengah.

__ADS_1


__ADS_2