JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 105 "Suamiku, cepatlah bangun, diriku menunggumu bersama bayi - bayi kita"


__ADS_3

"Silahkan duduk nyonya besar dan nyonya muda." Dokter Rogen mempersilahlan.


"Terima kasih dokter." Sahut keduanya dan duduk pada kursi sofa di hadapan dokter Rogen.


"Begini nyonya besar, saya menjawab dahulu apa yang telah nyonya sampaikan, untuk membawa tuan Moranno keluar negeri."


"Untuk kondisi tuan Moranno sekarang ini, sangat tidak disarankan untuk berpergian keluar negeri."


"Apa dokter Rogen menyuruh kami menunggu dengan ketidak - pastian seperti ini. Itu sama halnya kita menanti kematian putra saya tanpa mampu berbuat apa - apa." Ketus nyonya Agatsa.


"Saya tidak bermaksud demikian nyonya besar. Saya bersama team dokter saraf dirumah sakit ini sudah mencari beberapa rekomendasi dokter saraf terbaik diluar negeri." Ucap dokter Rogen.


"Kami sudah mengantongi tiga nama dokter saraf ini, dan mendatangkannya ke Indonesia. Ini lebih efektif dibandingkan membawa tuan Moranno keluar negeri, itu bisa membuat kelelahan fisik dan sarafnya nyonya besat. Dan bila itu terjadi, kondisinya akan semakin melemah dan tentu saja sangat berbahaya."


"Untuk mempertahankan kondisi tuan Moranno seperti sekarang ini saja sangat sulit dilakukan."


"Kami juga sudah melakukan tndakkan medis interpretasi hasil pemeriksaan radiologis, Seperti CT scan, PET scan pada otak dan saraf. Interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium, tes darah, tes urine serta analisis cairan otak."


"Ketiga dokter ini berasal dari Jepang, dan Singapura. Bila nyonya besar dan nyonya muda menyetujui, kami akan segera menghubungi ketiga dokter saraf ini untuk mengatur jadwal. Karena mereka merupakan dokter andalan dirumah sakit dimana mereka berkerja." Kata dokter Rogen.


Nyonya Agatsa tidak langsung menjawab, ia terlihat sedang berfikir.


"Bagimana nyonya besar dan nyonya muda? Kita harus cepat mengambil tindakan, bila berlama - lama, bisa mengakibatkan cedera saraf permanen pada tuan Moranno." Jelas dokter Rogen.


"Untuk saya, saya setuju dokter Rogen, lakukan yang terbaik buat suami saya, supaya ia bisa kembali pulih seperti dulu." Ucap Yurina.


Nyonya Agatsa masih terdiam. Ia masih belum selesai dengan pikirannya.


"Mohon maaf, saya permisi lebih dulu nyonya besar dan dokter Rogen. Saya harus membersihkan tubuh suami saya dan segera pulang untuk menemui bayi saya kembali yang masih menyusui." Yurina bangkit dari duduknya dan tidak lupa membungkuk hormat pada ibu mertuanya yang masih terdiam.


"Baik nyonya muda, terima kasih." Sahut dokter Rogen.


Yurina lalu keluar meninggalkan ruangan dokter Rogen menuju tempat dimana Moranno dirawat.


"Nyonya muda, anda telah kembali?" Ucap ibu Mira, saat melihat Yurina.


"Iya ibu Mira, saya akan membersihkan tubuh suami saya dulu sebelum pulang." Kata Yurina.


"Ijinkanlah saya ikut membantu nyonya muda." Pinta ibu Mira.


"Tidak usah ibu Mira, saya bisa melakukannya sendiri." Ujar Yurina menolak.

__ADS_1


"Saya mohon nyonya muda, sekalian saya ingin menengok tuan." Pintanya.


"Baiklah...."


Ibu Mira lalu mengikuti Yurina yang lebih dulu menuju ruang rawat Moranno. Wanita itu dapat melihat ada kesedihan diwajah Yurina.


Ibu Mira bergidik, saat melihat banyaknya alat medis yang menempel ditubuh Moranno.


Ia tidak berani mengeluarkan kata - kata apapun mengenai apa yang ia lihat, khawatir Yurina bertambah sedih.


"Nyonya mau mengambil apa?" Tanya ibu Mira saat melihat Yurina memegang baskom aluminium berukuran sedang.


"Mengambil air hangat buu..." Sahut Yurina yang ingin keluar menuju kamar mandi.


"Saya saja nyonya muda, anda baru saja habis melahirkan, jangan mengangkat apapun dulu, berbahaya nyonya." Katanya ibu Mira.


"Apakah tidak merepotkan ibu Mira?" Kata Yurina ragu.


"Tidak nyonya, berikan saja pada saya. Biarkan saya yang mengambilnya." Kata ibu Mira mengambil baskom ditangan Yurina.


"Baiklah, terima kasih ibu Mira."


"Dimana kkamar mandinya nyonya? Tanya ibu Mira lagi.


Ibu Mira lalu pergi menuju arah yang telah dikatakan Yurina.


"Suamiku, apa kabarmu?" Ucap Yurina pada Moranno, sesaat setelah ibu Mira pergi.


"Apakah kau mendengarkanku? Aku sangat merindukanmu suamiku?" Kata Yurina sambil menatap lekat wajah suaminya yang seperti sedang tertidur.


Diusapnya wajah Moranno perlahan. Lalu bibirnya mengecup kening suaminya itu begitu lama. Kemudian baru ia melepaskannya.


"Bayi - bayi kita, Billy dan Willy... Mereka tumbuh sehat, mereka sangat kuat minum ASI, sehinga sekarang tubuh mungil mereka sudah lebih berisi."


"Kau pasti senang melihat mereka, mereka sangat menggemaskan, mata mereka sudah bisa mulai pokus melihat beberapa benda berwarna cerah." Air mata Yurina berjatuhan mengenai wajah Moranno.


"Mata mereka mengerjap - ngerjap saat melihat mainan yang digantung dikereta dan ranjang bayi mereka." Yurina terus berbicara seolah - seolah Moranno bisa mendengarkan setiap perkataannya.


"Diriku, dan bayi - bayi kita menunggumu untuk bangun suamiku. Kita akan bermain bersama."


"Hatiku terasa sepi. Bangunlah cepat suamiku. Aku sungguh merindukanmu...." Yurina menyeka air matanya yang jatuh diwajah Moranno dengan tangannya.

__ADS_1


Terdengar ketukan pintu dari luar. Yurina segera menghapis air matanya menggunakan kedua tangannya.


"Masuklah...." Ucap Yurina.


Ibu Mira masuk dengan baskom berisi air hangat dikedua tangannya. Dibawanya mendekati Yurina.


"Terima kasih ibu Mira...."


"Iya nyonya muda, sama - sama." Ibu Mira meletakkan baskom itu dilantai.


Yurina segera membasahi kain bersih dengan air hangat yang dibawakan ibu Mira.


Ia mulai mengusap dan membersihkan wajah telinga, hingga leher Moranno menggunakan kain basah ditangannya berulang - ulang hingga bersih.


Sementara ibu Mira memperhatikan apa ya g Yurina lakukan.


Situasi itu membawanya mengingat akan mendiang suaminya.


Tidak terasa, air matanya keluar dari sudut - sudut matanya.


Walaupun sudah mengikhlaskan kepergian mendiang suaminya, ibu Mira selalu saja mengeluarkan air matanya saat mengingatnya.


"Ibu Mira saya akan membersihkan seluruh tubuh suami saya. Saya mohon maaf, saya minta ibu Mira menunggu diluar sebentar." Kata Yurina pada ibu Mira.


"Oh, tidak apa - apa nyonya. Saya akan keluar sekarang." Ibu Mira lalu segera keluar ruangan sambil menghapus air matanya.


Yurina mulai membuka kancing baju suaminya hingga kecelananya. Nampak luka - luka akibat kecelakaan itu sudah mulai mengering.


Dengan hati - hati, dibersihkannya seluruh tubuh Moranno. Hanya bagian depan saja.


Tubuh Moranno sepenuhnya belum boleh digerakan, apalagi dibolak balik sesuai anjuran dokter Rogen.


Tangan Yurina kembali mengancing baju pasien yang dikenakan Moranno dengan hati - hati.


"Bagaimana suamiku, apakah tubuhmu merasa lebih segar dan nyaman sekarang?" Kata Yurina sambil memaksakan senyuman diwajahnya yang selalu ingin menangis melihat kondiai Moranno.


Yurina mendekatkan wajahnya ke wajah Moranno yang masih menggunakan alat oksigen dihidung dan mulutnya.


"Suamiku, cepatlah bangun, diriku menunggumu bersama bayi - bayi kita."


"Aku akan pulang hari sudah sore, dan kembali lagi besok. Bayi - bayi kita membutukanku dirumah." Yurina kembali mengecup kening Moranno lama. Ia enggan melepaskannya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat lamanya Yurina melepaskan kecupannya dari kening suaminya itu.


__ADS_2