
"Yurina, ikutlah denganku." Kata Nyonya Agatsa memandang sejenak pada Yurina lalu melangkah menuju salah satu gasebo yang ada ditaman depan paviliun tanpa menunggu jawaban dari menantunya itu.
"Iya nyonya besar." Jawab Yurina masih menunduk hormat lalu melangkah mengikuti ibu mertuanya. Jantung dalam dada Yurina tiba-tiba berdetak tak beraturan, ia sedikit risau apa yang akan terjadi pada dirinya dan mertuanya itu.
"Duduklah...." Ujar Nyonya Agatsa tanpa melihat kearah Yurina saat mereka telah tiba digasebo yang ada ditengah taman.
Yurina mendudukan dirinya agak jauh dari mertuanya. Hatinya masih tetap berdebar memikirkan apa yang mertuanya akan katakan padanya.
Hanya ada hening diantara mereka beberapa saat lamanya. Yurina tidak berani bergerak sedikitpun ditempat duduknya. Dalam benak Yurina, terlintas kejadian demi kejadian tentang dirinya dan sang mertua, dan selalu ada saja hal tidak menyenangkan terjadi, hampir setiap kali mereka bertemu membuat Yutina semakin terlihat gelisah.
Yurina sedikit lega saat melihat bibi Nur datang menghampiri mereka digasebo dengan membawa nampan ditangannya.
"Letakan saja diatas meja bibi." Ucap nyonya Agatsa saat bibi Nur sudah ada didekat mereka. Bibi Nur lalu meletakan nampan yang berisi dua gelas kosong dan satu teko berisi teh herbal dengan hati-hati.
"Sekarang lanjutkan kembali pekerjaanmu." Kata nyonya Agatsa lagi saat melihat bibi Nur telah meletakkan nampan diatas meja.
"Baik nyonya besar." Kata bibi Nur sambil memberi hormat sebelum pergi.
Setelah kepergian bibi Nur, hati Yurina kembali berdebar tidak beraturan. Rasa gugup tiba-tiba saja menyerangnya.
Nyonya Agatsa meraih teko yang ada diatas meja, menuangkan isinya kedalam dua gelas kosong yang telah tersedia. Setelah itu ia melihat kearah Yurina dengan tatapan datarnya.
"Minumlah teh ini...." Ucap Nyonya Agatsa dengan suara datar seperti ekspresi wajahnya.
"Iya nyonya besar... Terima kasih." Sahut Yurina yang terlihat sangat canggung, namun ia tetap tidak bisa bergeser dari tempat duduknya. Serasa ada lem kayu yang membuatnya menempel disana.
Yurina melihat ibu mertuanya menyesap tehnya dengan gaya elegannya. Wanita berumur itu masih terlihat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi. Setiap gerakannya memperlihatkan kelembutan namun ada ketegasan disana membuat Yurina sedikit bergidik.
"Kenapa kau tidak minum tehmu? Apakah kau berpikir aku menaruh racun didalamnya?" Ucap nyonya Agatsa tiba-tiba membuat Yurina terkejut walau nada suaranya masih terdengar datar.
"I... Iya nyonya besar...." Yurina segera bergeser mendekati meja lalu meraih gelas tehnya dan meminumnya langsung habis karena gugup.
Nyonya Agatsa yang melihat tingkah Yurina merasa heran dibuatnya.
__ADS_1
"Apakah kau sangat haus, sehingga teh dalam gelasmu yang panas itu langsung habis dalam seteguk?" Ucap nyonya Agatsa memandang menantunya itu masih dengan wajah datarnya.
Yurina yang baru menyadarinya merasa mulutnya terasa panas.
"Buka mulutmu sekarang. Aku ingin melihat apakah mulutmu itu melepuh atau tidak?" Perintah nyonya Agatsa terdengar sedikit memaksa, masih dengan suara datarnya.
Yurina tidak ada pilihan lain, ia membuka mulutnya, dan memperlihatkan pada mertuanya. Nyonya Agatsa memperhatikan kedalam rongga mulut menantunya itu yang terlihat memerah.
"Untung saja tidak melepuh, hanya terlihat memerah saja. Apakah kau sengaja melakukan itu supaya aku dan putraku bertengkar lagi? Hmmm?" Ucap nyonya Agatsa spontan.
"Ti... Tidak nyonya besar. Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya merasa sangat gugup. Sehingga tidak terasa saya merasa haus dan meminumnya dengan sekali teguk." Jawab Yurina jujur sambil memandang wajah mertuanya dengan perasaan sedikit takut.
Nyonya Agatsa memperhatikan wajah Yurina dengan seksama. Ia tidak melihat ada kebobongan disana. Dan bisa terlihat bahwa menantunya itu sangat gugup.
Dalam relung hatinya, tiba-tiba saja terbesit rasa kasihan melihat menantunya itu, namun ia berusaha menyembunyikannya.
"Apakah kau masih merasa haus? Kita bisa memesan jus pada pelayan." Kata nyonya Agatsa berusaha menepis perasaannya.
"Benarkah? Jangan salahkan aku bila kau berbohong." Ucap nyonya Agatsa acuh.
"Iya benar nyonya besar. Saya sudah tidak haus lagi. Tapi... Bolehkah saya meminta segelas teh itu lagi untuk membasahi tenggorokan saya yang kering?" Ucap Yurina dengan sangat hati-hati pada sang mertua.
Nyonya Agatsa kembali memandang kearah Yurina dengan wajah datarnya, ia merasa heran mendengar ucapan menantunya itu. Namun ia mengurungkan niatnya yang ingin mencelanya, karena ia melihat wajah menantunya itu masih terlihat sedikit gugup.
"Tuanglah sendiri. Kau bisa melakukannya kan?" Ucapnya masih memandang menantunya lalu segera mengalihkan pandangannya ketempat lain.
"Iya nyonya besar." Yurina meraih teko dengan hati-hati lalu menuangkan isinya kedalam gelas kosongnya.
Yurina lalu membenarkan sikap duduknya dan menyesap tehnya dengan perlahan, sedikit demi sedikit untuk membasahi tenggorakannya yang terasa kering. Tanpa ia sadari, ia meniru gaya sang mertuanya.
Nyonya Agatsa yang diam-diam memperhatikan menantunya itu sedikit menyunggingkan senyum diwajah datarnya, dan berusaha menyembunyikan reaksinya saat melihat menantunya dengan membuang pandangannya ketempat lain.
"Bagaimana keadaanmu dan juga kandunganmu?" Tanya nyonya Agatsa ditengah keheningan yang mendera mereka.
__ADS_1
"Sehat saja nonya besar." Sahut Yurina singkat dengan perasaan kaget, karena ini hal yang pertama kali mertuanya itu menanyakan tentang dirinya dan juga kandungannya.
"Berapa usia kandunganmu sekarang?"Tanya nyonya Agatsa lagi tanpa memandang kearah Yufina.
"Menurut dokter Rosalie sembilan minggu lagi, maka bayi-bayi ini akan lahir." Sahut Yurina memandang kearah nyonya Agatsa.
Nyonya Agatsa terkesiap mendengar jawaban Yurina. Ia spontan memperhatikan perut menantunya itu yang memang terlihat begitu besar. Selama mereka tinggal serumah, nyonya Agatsa memang tidak terlalu perduli pada menantunya itu, apalagi pada kandungan Yurina, ia sama sekali tidak memperhatikannya.
"Apa maksud perkataanmu dengan bayi-bayi ini Yurina?" Kata nyonya Agatsa dengan pertanyaan menyelidik. Tatapan matanya masih terus mengarah keperut Yurina yang terlihat begitu besar yang tidak seperti wanita hamil pada umumnya.
"Saya.... Saya sedang mengandung bayi kembar nyonya besar." Ucap Yurina ikut terkejut melihat reaksi mertuanya.
"Sungguh??" Nyonya Agatsa seolah tak percaya. Tanpa disadari suaranya sedikit meninggi dan bertekanan.
"I... Iya nyonya besar... Saya sungguh tidak berbohong." Ucap Yurina kembali gugup karena nada suara nyonya Agatsa yang berubah.
Nyonya Agatsa segera tersadar, saat melihat wajah Yurina yang kembali terlihat begitu gugup melihat reaksinya yang berubah. Ia berusaha menahan gejolak perasaannya yang tiba-tiba menggelora. Ia baru merasakan perasaan itu dihatinya. Perasaan itu begitu ingin meledak saat mengetahui bahwa Yurina, menantu yang tidak pernah diakuinya itu sedang mengandung cucu kembarmya, anak dari putra kesayangannya.
Dengan sekuat tenaga nyonya Agatsa berusaha meredam segala perasaan yang bergejolak didalam dadanya. Ia buru-buru membuang wajahnya kearah lain, supaya Yurina tidak melihat perubahan wajahnya.
Yurina hanya terdiam ditempat duduknya. Untuk mengurangi rasa gugupnya, kembali ia menyesap teh herbal didalam gelasnya dengan masih meniru gaya elegan sang mertua.
Setelah dirasa hatinya tenang, nyonya Agatsa kembali menoleh kearah Yurina dengan tatapan datarnya.
"Kegiatan apa yang sudah kau lakukan untuk mempersiapkan dirimu saat persalinan nanti?" Tanya nyonya Agatsa berusaha bersikap tenang.
"Selain rajin memeriksakan kandungan pada dokter Rosalie, saya selalu mengusahakan setiap pagi dan sore berolah raga ringan dengan cara berjalan kaki. Dokter Rosalie juga menyarankan saya untuk mengikuti kelas ibu hamil yang dilakukan setiap satu minggu sekali, yang dipandu oleh dokter Rosalie langsung di tempat prakteknya.
Nyonya Agatsa hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Yurina sambil menyesap tehnya berulang-ulang hingga habis.
***
☆☆☆ Happy reading... Semoga tetap semangat dan sabar membaca JAGA HATIMU UNTUKKU hingga tamat. Mohon tinggalkan like dan komennya ya, supaya author semakin semangat menulis. 🙏🙏😁😁🙏🙏 ☆☆☆
__ADS_1