
"Terima kasih suamiku, kau sudah setia menemaniku sepanjang pagi hingga siang ini. Kerumah sakit dan juga kekantor polisi." Kata Yurina sambil menerima suapan terakhir sup yang disuap Moranno kedalam mulutnya.
"Iya sayang. Itu sudah kewajibanku sebagai suamimu." Sahut Moranno sambil membersihkan sudut-sudut bibir Yurina menggunakan tissue.
"Sekarang minum susumu." Moranno membantu Yurina memegang gelas susunya hingga isinya berpindah ke lambung isterinya itu. Ia meletakkan kembali gelas susu yang telah kosong kedalam nampan diatas nakas.
"Ayo, sikat gigimu dulu, setelah itu kau harus tidur siang." Ucap Moranno. Yurina hanya menurut perkataan Moranno yang menuntunnya menuju westafel.
"Buka mulutmu sayang." Kata Moranno sambil mengoles pasta gigi disikat gigi Yurina.
"Aku bisa melakukannya sendiri suamiku." Tolak Yurina dan berusaha meraih sikat gigi ditangan Moranno.
"Biar aku yang melakukannya sayang." Moranno tak membiarkan Yurina mengambil sikat gigi dari tangannya.
"Kau sudah banyak berbuat untukku suamiku. Aku tak ingin terlalu manja padamu. Nanti aku selalu bergantung padamu. Bukankah itu merepotkan?" Ujar Yurina berusaha menjelaskan supaya suaminya itu memahami maksudnya.
"Aku suka kau merepotkanku, apalagi manja padaku. Bukankah aku suamimu? Hmmm? Ayo, bukalah mulutmu, kau harus segera tidur siang sayang." Moranno tetap pada pendiriannya.
Yurina akhirnya membuka mulutnya. Ia sedikit mendongakkan wajahnya kearah Moranno.
Moranno mulai menggosok gigi Yurina perlahan. Dari sisi depan hingga gigi bagian belakang, dari atas hingga kebawah. Ia lakukan berulang-ulang hingga dirasa bersih.
Yurina hanya bisa berdiam diri dan menurut. Dipandangnya wajah Moranno yang tepat berada di depan wajahnya yang tengah sibuk menggosok giginya.
Wajah Moranno semakin terlihat tampan dimatanya. Yurina masih serasa bermimpi menjadi isteri seorang Moranno. Dalam mimpi pun Yurina tidak berani membayangkan bisa mendapatkan suami yang nyaris sempurna seperti Moranno. Ia hanya tahu, sebagai anak panti asuhan, ia harus berkerja keras supaya hidupnya sendiri bisa lebih baik suatu hari nanti. Namun insiden yang terjadi antara dirinya dan Moranno mengubah segalanya. Awalnya ia berpikir bahwa itu adalah suatu malapetaka, namun saat ia berusaha menerimanya dengan ikhlas, hal buruk itu mampu Tuhan ubahkan menjadi hal yang tidak ia duga seperti sekarang ini. Ia merasa menjadi wanita yang sangat beruntung sejagat antero.
Tanpa sadar, Yurina tersenyum-senyum sendiri oleh pikiran-pikirannya itu sambil menatap wajah tampan pria yang menjadi suaminya itu. Moranno begitu pokus pada gigi sang isteri, sehingga tidak menyadari bila Yurina memandanginya dengan kagum.
"Sudah selesai. Sekarang berkumurlah menggunakan ini." Moranno memberikan gelas yang telah ia isi air dari wastafel pada Yurina.
Yurina langsung melakukan apa yang dikatakan Moranno padanya.
Moranno kembali menuntun Yurina ketempat tidur setelah selesai menggosok gigi dan membantunya berbaring ditempat tidur.
Yurina memandang kearah Moranno yang melangkah menuju dimana kotak obat berada, dari sana ia mengambil sesuatu lalu berbalik ketempat Yurina berbaring.
"Aku akan mengoles luka lebammu itu dengan salep ini." Kata Moranno membuka penutup salep
"Apakah masih terasa sakit?" Tanya Moranno saat tangannya mengoles dibagian luka lebam pada wajah Yurina.
"Sudah tidak terlalu sakit seperti kemarin." Sahut Yurina.
"Lukamu terlihat mulai mengering. Sepertinya dalam dua tiga hari kedepan akan sembuh." Ujar Moranno tetap mengoles ke seluruh luka lebam yang ada diwajah Yurina dengan telaten.
"Sudah selesai." Moranno menutup penutup salep dan meletakkannya diatas nakas. Ia menyelimuti tubuh Yurina dengan selimut hingga kelehernya.
"Tidurlah.... Aku akan tetap disini menemanimu." Ucap Moranno sambil mencium kening Yurina.
"Terrima kasih."
Moranno mengelus rambut Yurina untuk menidurkannya. Yurina memiringkan tubuhnya menghadap Moranno yang berbaring disebelahnya.
Dipandangnya wajah Moranno yang juga tengah memandangnya.
"Ada apa sayang? Kenapa melihatku seperti itu? Apakah wajahku terlihat semakin tampan, hmmm?" Ujar Moranno sambil menyunggingkan senyumnya.
Yurina ikut tersenyum. Wajah Moranno memang semakin tampan dimatanya setiap harinya.
"Kenapa diam? Berarti benarkan kalau wajahku semakin tampan?" Ujar Moranno percaya diri.
Yurima semakin tersenyum lebar mendengar ucapan Moranno yang begitu percaya diri.
"Kenapa hanya tersenyum terus sayang . Atau mungkin wajahku yang tampan ini tidak terlihat menarik dimatamu? hmmm?" Ujar Moranno penasaran pada sikap Yurina yang hanya memberi respon tersenyum.
Yurina semakin tersenyum lebar hingga tertawa.
"Nah, malah tertawa. Kenapa sayang? Apa yang membuatmu tertawa? Hmmm?" Tanya Moranno semakin penasaran.
"Aku.... aku...." Yurina masih tertawa, namun tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
Setelah sekian detik ia tertawa, ia akhirnya menghentikan tawanya saat melihat wajah Moranno yang masih memandangnya dengan heran, namun senyumnya tetap terulas diwajahnya.
"Maafkan aku suamiku... Aku hanya merasa geli saja." Ucap Yurina berusaha menahan tawanya.
"Apa yanng membuatmu geli sayang?" Tanya Moranno masih penasaran.
"Kau mengatakan dirimu tampan dengan sangat percaya dirinya, namun saat aku hanya tersenyum kenapa percaya dirimu itu tiba-tiba pudar." Jelas Yurina masih berusaha menahan tawanya.
"Oh.... begitu rupanya." Wajah Moranno terlihat lega mendengar ucapan Yurina.
"Sayang, kau tahu... Aku sangat perduli pada pendapatmu tentang diriku." Lanjut Moranno dengan wajah yang berangsur-angsur berubah serius dan kembali mengelus rambut Yurina dengan penuh perasaan.
"Suamiku, dimataku... kau terlihat tampan setiap harinya. Kebaikan hatimu semakin membuatku tertarik padamu. Jujur... Awalnya aku takut menerima permintaanmu menikahiku karena aku sudah mengandung anakmu." Ucap Yurina sambil mengusap perutnya yang bergerak halus dari dalam.
"Aku takut... Karena kita sangat berbeda. Berbeda dalam segalanya. Dalam status bermasyarakat, engkau jauh diatasku, keluargamu sangat terhormat, kalian bergaul dengan orang-orang kelas atas. Sedangkan aku hanya seorang anak panti asuhan. Dalam ekonomi, kau bahkan telah memperlihatkan dan membawaku pada beberapa perusahaan keluargamu diawal kita menikah. Keluargamu memiliki kerajaan bisnis yang kuat. Pada saat itu aku merasa berada ditempat yang salah." Yurina menghentikan sejenak ucapannya. Moranno masih tetap mendengarkannya sambil tetap mengelus rambut Yurina dengan lembut.
"Karena kondisiku yang sedang mengandung memaksaku untuk tetap disisimu. Ditambah dukungan dokter Rosalie padaku, menurutnya bahwa bayi-bayi itu nanti memerlukan ayahnya. Apa yang akan aku katakan bila bayi-bayi itu bertanya padaku tentang ayah mereka bila aku tak hidup dengan ayah mereka."
"Saat pertama kali kau memperkenalkanku pada seluruh pegawaimu di Agatsa Properti Grup dimana aku pernah menjadi cleaning service, bagiku itu sangat menguras pikiranku, aku sangat gugup. Aku memikirkan pendapat mereka tentangku, juga apakah mereka bisa menerimaku. Tapi saat aku melihat dirimu dengan percaya diri memperkenalkanku sebagai isterimu, bahkan didepan para pemegang saham dan para dewan direksi dan tidak merasa malu tentang diriku, aku merasa kau sungguh menerima diriku yang bukan siapa-siapa ini." Yurin masih terus mengungkapkan isi hatinya. Moranno tetap mendengarkannya dengan penuh perhatian.
"Aku merasa kau pria yang sangat istimewa. Aku adalah wanita yang terlalu beruntung bisa hidup bersamamu. Bila aku bermimpi, aku tak ingin bangun dari mimpiku ini." Ujar Yurina dan meraih tangan suaminya yang membelai rambutnya lalu menciumnya.
***
Yurina terbangun dari tidur siangnya, dengan mata masih terpejam ia meraba tempat tidur disebelahnya dengan tangannya. Tidak ada siapa-siapa disana.
Yurina menebarkan pandangannya keseluruh sudut kamar. Moranno yang ia cari tidak nampak disana.
Yurina berusaha bangkit dari tempat tidurnya dengan susah payah, tubuhnya terasa semakin berat.
"Kau sudah bangun sayang." Kata Moranno yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan masih menggunakan handuk yang terlilit dipinggangnya.
"Iya. Aku mencarimu suamiku."Jawab Yurina saat melihat Moranno berjalan kearahnya.
"Kenapa mencariku. Apakah kau sudah merindukanku lagi? Hmmm?" Kata Moranno sambil duduk disisi tempat tidur.
"Iya. Aku merindukanmu suamiku?"
"Mereka bereaksi didalam sana sayang." Ujar Moranno merasakan pergerakkan para bayinya di perut Yurina.
"Iya.... Mereka akan bereaksi bila ada sesuatu menekan perutku seperti sekarang ini."
Moranno melepaskan pelukannya lalu mengusap perut Yurina yang masih bergerak.
"Suamiku, aku lapar. Tapi aku tak ingin makan sup lagi." Ucap Yurina pada Moranno yang tengah mengusap perutnya.
"Kau ingin makan apa sayang?" Tanya Moranno memandang wajah Yurina.
"Aku ingin sayuran, dan buah-buahan saja." Ujar Yurina sambil memikirkan apa yang ia inginkan.
"Lauknya??"
"Tidak mau...."
"Lalu sumber proteinnya dari mana kalau tidak ada lauknya?"
"Tapi aku ingin itu saja."
"Baiklah.... baiklah...." Moranno segera mengikuti keinginan Yurina, ia menelpon dapur menggunakan ponselnya dan memesan sesuai yang diminta Yurina. Selama mengandung isterinya itu tak memilih makan, apa saja masuk kemulutnya, mungkin karen ia masih belum terlalu pulih jadi hanya ingin makan yang ia sebutkan itu saja pikir Moranno.
"Sebentar ya sayang, bibi akan mengantarkan makananmu. Sekarang kau mandi dulu, hari sudah semakin sore. Sini àku bantu melepaskan pakaianmu."
Yurina hanya mengikuti apa yang dikatakan Moranno. Ia tidak berkata apa-apa. Karena walaupun menolak Moranno pasti tetap ingin ia yang melakukan semuanya itu untuknya selama ia belum terlalu pulih pikirnya.
Moranno mengambil handuk kimono yang telah ia sediakan. Dikenakannya pada Yurina yang baru saja membersihkan diri dibantu olehnya. Lalu dituntunnya kembali Yurina kepembaringannya.
Suara ketukan pintu terdengar saat Yurina dan Moraano baru selesai berpakaian.
"Kau disini ya sayang,, aku akan membukakan pintu." Kata Moranno lalu berjalan untuk membuka pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Tuan, saya membawakan pesanan tuan untuk nyonya muda." Ucap bibi Sun.
"Terima kasih bibi. Berikan padaku." Kata Moranno sambil meraih nampan ditangan bibi Sun.
"Apakah masih ada yang anda butuhkan tuan?"
"Sementara cukup bibi. Nanti saya akan memanggil bibi lagi bila masih ada yang saya butuhkan."
"Baik tuan. Saya permisi dulu." Bibi Sun kembali kedapur. Moranno menutup kembali pintu kamar dengan rapat, lalu membawa nampan ditangannya ke tempat Yurina yang menunggunya disofa.
"Ayo sayang, makanlah." Kata Moranno mempersilahkan Yurina makan sayur-sayuran sesuai pesanannya.
Moranno meraih buah yang ada dinampan lalu mulai mengupasnya satu persatu dengan pisau buah. Dipotongnya buah-buahan itu dan memasukkannya kedalam piring buah, lalu meletakkannya diatas meja yang ada dihadapan Yurina.
Yurina yang sudah menghabiskan sayur-sayurannya lalu melanjutkan makan buah-buahan yang ada diatas meja.
"Apakah kau masih ingin menambahnya sayang?"
"Cukup. Aku sudah kenyang."
"Sekarang kita menggosok gigimu."
Yurina kembali menurut, saat Moranno menuntunnya menuju wastafel.
Seperti sebelumnya Moranno mulai mengosok gigi Yurina. Mulai sisi depan, hingga sisi belakang, atas dan bawah berulang-ulang hingga akhirnya selesai.
Setelah berkumur, Moranno mengantar Yurina kembali ketempat tidurnya.
"Suamiku, kau memperlakukanku seperti seorang bayi saja. Aku tak ingin merepotkanmu, karena aku merasa sudah bisa sendiri, aku sudah bertenaga, dan bisa berjalan kesana kemari sendiri." Ungkap Yurina pada suaminya itu.
"Apa kau merasa seperti itu sayang?" Tanya Moranno.
"Iya suamiku, aku sudah lebih bertenaga, sudah bisa sendiri. Nanti bila aku diperlakukan seperti ini terus, aku bisa manja. Kurang gerak bisa membuatku sulit melahirkan. Apalagi aku berencana untuk melahirkan secara normal suamiku."
"Baiklah, berarti kau tidak mau diperlakukan seperti bayi?" Kata Moranno sambil membantu Yurina naik ketempat tidur.
"Iya suamiku." Sahut Yurina membenarkan.
"Jadi kau sudah benar-benar merasa bertenaga?"
"Iya..."
"Dan kau juga mau banyak bergerak supaya melahirkan normal?"
"Iya...."
"Kalau begitu ayo kita berolahraga bersama sekarang."
"Apa maksudmu suamiku?" Kata Yurina melihat gelagat Moranno yang mencurigakan.
"Kau bilang tak ingin diperlakukan seperti bàyi kan. Sekarang aku akan memperlakukanmu sebagai wanita dewasa isteriku." Ucap Morrano semakin mendekatkan wajahnya kewajah Yurina.
"Bukan begitu maksudku sua....." Yurina tak dapat melanjutkan kata-katanya. Bibir Moranno sudah mendarat dibibirnya.
Lembutnya sentuhan Moranno dan hangatnya sesapan yang dilakukan Moranno membuat Yurina terbuai.
Tangan Yurina tanpa sadar memeluk erat leher Moranno membuat tengkuknya menekan sehingga ciuman keduanya semakin dalam.
Yurina dan Moranno sama-sama melepaskan ciuman mereka untuk mengambil oksigen yang menipis diparu-paru mereka.
Beberapa detik selanjutnya, keduanya kembali melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda.
Suara-suara pembuktian cinta mereka mulai terdengar bersahut-sahutan, menggema memenuhi kamar tidur mereka.
Keduanya sama-sama melepaskan kerinduan yang terpendam didalam dada.
Para bayi yang didalam sanapun ikut bergerak, memperlihatkan gelombang-gelombang halus diperut ibu mereka.
Hingga akhirnya keduanya sama-sama terhempas oleh alunan-alunan irama cinta yang mereka ciftakan berdua.
__ADS_1
***