
Moranno turun dari mobil dan duduk dikursi rodanya. Disusul oleh nyonya Agatsa.
Dua pengawal pribadi Moranno mendorong kursi rodanya menuju lobby. Nyonya Agatsa berjalan disisi putranya dengan langkah tegak. Beberapa pengawal mengikuti mereka dari belakang.
"Selamat datang tuan Moranno dan nyonya besar...." Sapa resepsionis dengan sikap berdiri dan membungkuk hormat.
Beberapa pegawai yang ada dilobby turut membungkuk hormat pada Moranno dan nyonya Agatsa yang melintas dilobby.
Wajah mereka nampak kaku saat melihat kehadiran Moranno pagi itu.
Pintu lift pribadi Moranno segera terbuka. Moranno, nyonya Agatsa, dan beberapa pengawal turut masuk ke lift.
Didalam lift Moranno sempat berpikir tentang sikap para pegawainya yang terlihat takut saat melihatnya.
Tak lama berselang, pintu lift kembali terbuka. Asisten Rudi, dan sekretaris Fhani sudah menyambut didepan lift sambil membungkuk hormat.
"Selamat pagi tuan Moranno dan nyonya Agatsa." Sapa asisten Rudi dan sekretaris Fhani bersamaan.
"Selamat pagi asisten Rudi dan sekretaris Fhani...." Moranno membalas sapaan kedua bawahannya itu.
"Cukup sampai disini. Biarkan asisten Rudi yang mendorong kursi rodaku." Kata Moranno pada para pengawalnya itu.
"Baik tuan....." Para pengawal pribadinya lalu membungkuk hormat dan mengundurkan diri kembali masuk kedalam lift.
Asisten Rudi lalu mendorong kursi roda Moranno dengan hati - hati menuju ruang kerja diikuti nyonya Agatsa. Sementara sekretaris Fhani kembali kemejanya.
Moranno menyapu seluruh isi ruang kerjanya dengan pandangan matanya. Untuk sekian bulan lamanya ia meninggalkan ruang kerjanya itu karena musibah kecelakaan yang telah menimpanya.
Semuanya masih tetap sama. Berkas - berkas teratur rapi pada rak - rak sesuai susunan.
File - file penting masih tertata rapi dalam lemari - lemari kaca yang terkunci rapat.
Moranno bangkit dari kursi rodanya dan duduk dimeja kerjanya. Ia memperhatikan beberapa susunan berkas yang menggunung diatas meja kerjanya itu.
"Apa ini asisten Rudi?" Tanya Moranno sambil memperhatikan berkas yang terletak diatas mejanya satu - persatu.
"Surat pernyataan permohonan maaf dari para pegawai yang telah melakukan demonstran beberapa hari yang lalu tuan." Jelas asisten Rudi yang berdiri disisi meja Moranno. Sementara nyonya Agatsa duduk dimeja kerjanya yang tak jauh dari meja kerja Moranno.
"Pegawai kita berdemo? Untuk apa?" Tanya Moranno datar sambil menatap lekat pada asisten Rudi.
__ADS_1
"Karena keterlamabatan gaji. Perusahaan induk yang biasanya menerima gaji tanggal lima, kini menjadi tanggal sembilan. Anak cabang perusahaan yang biasanya menerima gaji di tanggal enam menjadi tanggal sepuluh."
"Para pegawai itu tidak terima, karena selama enam bulan terakhir, keterlambatan itu terjadi terus menerus setiap bulannya tuan, sehingga beberapa hari yang lalu terjadilah demo yang dilakukan oleh hampir semua pegawai di perusahaan induk dan anak - anak cabang perusahaan Agatsa Grup." Jelas asisten Rudi.
"Benarkah itu mom? Mengapa aku tidak diberitahu?" Tanya Moranno beralih pada ibunya yang duduk tenang dimeja kerjanya.
"Itu benar Moranno. Beberapa hari lalu Yurina mengatakan kau sedang terapi bersama Margareth. Juga Margareth menyampaikan pada Yurina bila terapi yang kau jalani saat itu sangat menentukan keberhasilan pemulihanmu, bila kau mendapat beban pikiran yang berat, tentu saja akan berpengaruh pada hasil terapimu. Jadi mommy memutuskan untuk tidak memberitahumu untuk sementara waktu sampai keadaanmu benar - benar pulih." Jelas nyonya Agatsa gamblang.
"Lalu apa hubungannya dengan berkas permohonan maaf ini asisten Rudi?" Tanya Moranno kembali memperhatikan lembaran - lembaran kertas dimejanya itu.
Asisten Rudi lalu memberikan ponsel pintarnya pada Moranno. Moranno memperhatikan video siaran langsung salah satu televisi swasta yang berdurasi empat puluh menit itu yang sengaja disimpan asisten Rudi diponselnya.
Moranno memperhatikan dengan penuh minat. Diawal video itu ia melihat Yurina isterinya menemui para pendemo didampingi asisten Rudi dan beberapa pengawal yang melindunginya dari para pendemo yang berusaha berbuat anarkis padanya.
Moranno beberapa kali menahan napasnya saat mendengar kata - kata teriakan para pendemo yang menyerang langsung pribadi isterinya itu tanpa rasa canggung dan hormat.
Tak terasa Moranno mengepalkan tangannya melihat aksi - aksi dari para pegawainya yang tidak terduga itu.
Hati Moranno pun berdebar - debar, saat Yurina mulai berbicara lantang, membuat semua pendemo serentak terdiam. Keheningan yang tercifta membuat suara Yurina yang menggema begitu jelas terdengar setiap katanya.
Moranno tidak menyangka, dibalik kelembutan dan kesederhanaan Yurina isterinya, ia sanggup berbicara seberani dan selantang itu sehingga membuat semua pegawai yang berdemo itu bungkam tanpa bisa membantah sepatah katapun.
Bahkan, Yurina mampu membuat pernyataan yang sangat berani menurut yang Moranno amati.
Moranno tersenyum bangga setelah menonton tayangan ulang yang tersimpan diponsel pintar milik asisten Rudi.
"Berikan daftar nama para pendemo itu padaku sekarang asisten Rudi, termasuk orang - orang yang berteriak - teriak ditengah kerumunan para pendemo dihari itu." Perintah Moranno pada asistennya itu.
Asisten Rudi lalu mengambil berkas daftar nama yang dimaksud Moranno, yang beberapa hari sebelumnya telah ia serahkan pada nyonya Agatsa.
"Ini tuan....." Kata asisten Rudi sambil menyerahkan berkas ditangannya.
Sesaat lamanya Moranno memperhatikan berkas - berkas yang ada ditangannya itu, lalu membolak - balik lembar demi lembar yang bertuliskan ribuan nama - nama para pendemo itu disertai tempat perusahaan mereka berkerja.
Tak Lama kemudian, Moranno memberi paraf pada setiap lembarnya.
"Aku memaklumi apa yang dilakukan para pegawai kita itu mom...." Kata Moranno sambil memandang kearah ibunya.
"Bagi mereka yang sebagai tulang punggung keluarga, keterlambatan gaji itu tentulah sangat mengganggu, karena mereka perlu cepat memenuhi kebutuhan keluarganya sehari - hari mom....."Jelasnya.
__ADS_1
"Jadi, aku putuskan..... Semua para pendemo yang tertera namanya didaftar ini dan yang telah membuat surat pernyataan permohonan maafnya, boleh masih berkerja diperusahaan Agatsa Grup, baik di induk perusahaan Agatsa Properti Grup, maupun di dua puluh empat anak cabang perusahaan. Sesuai dengan posisi mereka sebelumnya."
"Dan untuk empat nama yang telah terdaftar khusus ini, perintahkan mereka menemuiku langsung besok pagi. Dan siapkan semua data yang diperlukan tentang mereka. Dan jangan ada satupun yang terlewatkan. Kau mengerti asisten Rudi?." Kata Moranno pada asisten Rudi.
"Iya tuan, saya mengerti. Saya akan segera mempersiapkannya." Ucap asisten Rudi sigap.
"Mommy percaya padamu Moranno..... Apa yang kau putuskan, mommy anggap itu adalah keputusan kita yang terbaik." Kata Nyonya Agatsa menyetujui pada apa yang telah diputuskan putranya itu.
"Dan kau perlu juga mengetahui hal penting lainnya Moranno."
"Apa itu mom....." Tanya Moranno memandang kearah ibunya.
"Beberapa dari para pemegang saham juga telah menarik dirinya dari kerjasama yang kita lakukan selama ini. Daftar nama mereka juga sudah ada didaftar ini. Mereka pun telah menarik sahamnya
sejak beberapa bulan yang lalu. Dua minggu setelah kau dinyatakan koma."
"Saat itu, mommy menyangka..... Perusahaan yang sudah dibangun oleh daddy mu dan dikembangkan olehmu akan benar - benar bangkrut." Kata nyonya Agatsa terlihat sedikit termenung.
"Tapi syukurlah.... Hal itu tidak benar - benar terjadi pada perusahaan kita Moranno. Apa lagi sekarang, kau sudah bisa kembali berkerja, mommy senang sekali." Tambah nyonya Agatsa lagi dengan wajah berseri.
"Iya mom, kita seharusnya patut bersyukur kepada Tuhan. Semuanya yang terjadi pada kita ini hanya oleh karena anugerah dan kemurahan dari Tuhan saja."
"Berikanlah daftar nama pemegang saham yang telah menarik kerja samanya dengan perusahaan kita mom?" Pinta Moranno pada ibunya.
Asisten Rudi segera mengambil berkas dimeja nyonya Agatsa dan segera menyerahkan berkas tersebut pada Moranno.
"Berikan juga laporan yang biasa aku periksa, terhitung saat musibah kecelakaan itu asisten Rudi." Perintah Moranno lagi.
"Baik tuan...."Ucap asisten Rudi bergegas.
Asisten Rudi segera memindahkan terlebih dahulu berkas - berkas surat permohonan maaf yang menggunung milik para pegawai yang berdemo dari meja Moranno ketempat lain.
Setelahnya, asisten Rudi membawa satu tumpukan berkas dari dalam lemari kaca yang terkunci rapat dan meletakkannya diatas meja Miranno.
Moranno mulai sibuk memeriksa berkas yang telah diberikan asistennya itu.
***
Sore itu, Yurina yang sudah berpakaian rapi dan wangi. Kedua bayi kembarnya juga telah didandan rapi.
__ADS_1
Yurina dan bibi Nur membawa kedua bayi kembar itu dalam keretanya masing - masing ke halaman sambil menunggu Moranno pulang dari berkerja.
"Nampak seorang security menghampiri mereka dengan tergesa - gesa.