
Semua yang hadir hanya bisa ternganga mendengar ucapan nyonya Agatsa sambil menatap pada dokter Rosalie dan tuan Hartawan yang menjadi salah tingkah.
"Benal omaa....??." Tanya gadis kecil itu dengan wajahnya yang berbinar.
"Hmmmm....." Angguk nyonya Agatsa mengiyakan.
"Yeayýy....... mamah.... Loca auu dedek....!!." Serunya girang memeluk dokter Rosalie yang masih berdiri terpaku.
Diseretnya tangan dokter Rosalie. Mau tak mau dokter Rosalie mengikuti langkah Rosalia menuju ayahnya.
"Rosa, mamah mau dibawa kemana ini?" Tanya dokter Rosalie sambil mengikuti langkah kecilnya.
"Puyang.... ma... papah....."Sahutnya sambil meraih tangan ayahnya.
Tuan Hartawan yang masih berdiri terpaku ditempatnya semakin terkejut saat putrinya menyeret tangannya dan juga tangan dokter Rosalie kearah mobilnya.
"Rosalia sayang.... jangan begini nak.... mamah dokter mau kerja. Mamah dokter juga bawa mobil sendiri sayang...." Ucap tuan Hartawan menghentikan langkah kecil putrinya sambil berjongkok.
"Iya sayang..... tadi mamah kan antar Rosa pake mobil mamah, jadi mamah tidak bisa ikut mobil papah Rosa. Kasihan kan mobilnya nanti ketinggalan." Dokter Rosalie ikut memberi alasan.
"Mamaaahhh... Loca ini auu dedek. Omaa kata, Loca.... halus.... intaa... ma.... papah.... mamah. Ucapnya polos.
"Iyaaa.... tapi.... tapi..... tidak semudah itu sayang." Ucap tuan Hartawan gelagapan.
" Huaaaaaa..... Huaaaaaaa........"Tiba - tiba gadis kecil itu menangis begitu kencang, membuat semua orang terperangah.
"Hooeeekkk..... Hoooeeeekkkk" Bayi Billy dan bayi Willy ikut menangis kencang, membuat suasana begitu riuh.
Yurina dan bibi Nur segera menggendong keduanya untuk mendiamkannya.
Sementara tuan Hartawan yang mau menggendong Rosalia, tangannya ditepis oleh putrinya yang terlihat marah.
"No... no.... papah nakallll... gakkk... auuu tacih dedek...." Tolaknya tak mau disentuh sang ayah.
Dokter Rosalie terpaksa ikut membujuk dan menggendongnya.
"Ayo sayang, udah nangisnya ya, kita pulang sekarang." Kata dokter Rosalie sambil membawa Rosalia masuk kedalam mobil ayahnya.
Ia berusaha mengatasi keributan yang terjadi dirumah keluarga Agatsa.
Tuan Hartawan segera menyusul dan membuka pintu dekat kemudi.
"Papahhh... duduk tini.... ma... Loca... dan mamahhh...." Panggil Rosalia pada ayahnya sambil menunjuk tempat duduk disampingnya.
"Sayang.... mobilnya tidak mungkin nyetir sendiri. Bagaimana mungkin bisa sampai kerumah kalau papah ga nyetir." Ucap tuan Hartawan menatap putrinya.
"Ka-kak Lalaaa.... tiniii...!!." Teriak Rosalia dari dalam mobil.
Pengasuh Rara segera mendekat, melongokkan sedikit kepalanya lewat kaca mobil yang terbuka.
"Iya nona Rosa...." Sahutnya sambil melemparkan senyuman pada Rosalia.
"Ka-kak Lala.... yang tetil......"Perintahnya dengan wajah tak mau dibantah.
__ADS_1
Pengasuh Rara, menatap kearah tuan Hartawan, ia nampak bingung dengan permintaan gadis kecil yang lagi badmood itu.
Tuan Hartawan yang mengerti maksud tatapan keponakannya itu segera melemparkan kunci mobil, dan dengan cekatan disambut oleh pengasuh Rara.
Tuan Hartawan membuka pintu mobil lalu duduk disebelah putrinya dengan wajah kusut.
Dokter Rosalie bergeser dari dududuknya hendak keluar, dengan cepat tangan kecil Rosalia menahannya.
"No.... No...Noooo..... mamah tini aja, gak yoyeh kelual - kelual yagiiii...." Ucap Rosalia sambil menggunakan isyarat jari telunjuknya didepan wajah dokter Rosalie.
"Mobil mamah gimana dong sayang....? Nanti gimana mamah berangkat kerjanya?" Ucap dokter Rosalie seolah memohon pada Rosalia.
"Papah yang antal....." Ucapnya sambil memegang erat tangan dokter Rosalie dan ayahnya.
"Papah auu nanaa....?" Protes Rosalia saat melihat ayahnya bergegas keluar dari mobil.
"Papah pamit dulu pada tuan rumah, tidak sopan main pergi gitu aja sayang." Ucap tuan Hartawan sambil melangkah keluar.
"Maafkan kami nyonya besar, nyonya muda atas kegaduhan yang dilakukan Rosalia sore ini disini?" Ucap tuan Hartawan.
"Tidak masalah tuan...." Sahut nyonya Agatsa seraya tersenyum.
"Kami pamit dulu...." Tuan hartawan membungkuk memberi hormat lalu bergegas kembali masuk kemobilnya dan duduk disisi putrinya.
"Ka-kak Lalaa.... lalan cekalang...." Perintahnya.
Pengasuh Rara lalu menjalankan mobil tuan Hartawan perlahan.
Entahlah, apa yang terjadi setelah itu.
***
Waktu menunjukkan jam 10.15 pagi. Yurina turun dari helikopter pribadi milik keluarga Agatsa.
Tidak lupa Yurina mengenakan semua perlengkapan yang telah dipersiapkan asisten Rudi. Jas panjang hingga lutut kakinya, kaos tangan, topi lebar, hingga kacamata, semuanya berwarna gelap.
Hal itu dilakukan supaya tidak ada orang yang mengenalinya.
"Nyonya muda..... kita akan melanjutkan perjalanan menggunakan mobil selama dua puluh menit." Ucap seorang pengawal yang mendampinginya, saat sebuah mobil mewah berwarna merah menyala berhenti dihadapan mereka.
"Hmmmm....." Yurina hanya menganggukkan sedikit kepalanya.
Yurina segera masuk, dan mobil itu segera keluar dari area bandara melaju menyusuri jalan raya yang tidak terlalu ramai.
Kiri - kanan jalan terlihat begitu asri, ditumbuhi pohon - pohon cemara yang menghijau sepanjang jalan.
Udara tampak begitu segar. Bangunan - bangunan pinggir jalan banyak terbuat dari bahan kayu terbaik dinegeri ini.
Nampaknya, warga yang tinggal didaerah itu begitu sejahtera dan damai.
Tak lama berselang, mobil yang ditumpangi Yurina melewati kawasan yang nampak begitu kering dan gersang.
Beberapa sampah dibiarkan terbuang begitu saja disisi - sisi jalan.
__ADS_1
Udara nampak panas dan tidak bersih. Terlihat beberapa pemulung memungut botol - botol plastik dan beberapa kardus yang dilemparkan begitu saja dipinggir jalan.
Sepuluh menit berikutnya, mobil yang ditumpangi Yurina memasuki area rumah sakit.
Yurina melirik arloji ditangannya, sudah menunjukkan pukul 10.35.
Ia bergegas turun saat dua pengawalnya membukakan pintu mobil sambil membungkuk hormat.
Seorang pengawal berjalan mendahului sebagai penunjuk arah.
Rumah sakit itu tampak ramai, beberapa keluarga pasien lalu lalang dilorong - lorong rumah sakit.
Beberapa suster perawar terlihat tergesa - gesa mendorong kereta pasien.
Terlihat beberapa dokter dan suster berjalan lebih cepat mendahului orang - orang yang berjalan didepannya.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka akhirnya sampai didepan pintu ruang kerja yang bertuliskan Dr. Margaret, Sp.N, Dokter Spesialis Saraf.
"Nyonya muda, kami menunggu diluar saja." Dua pengawal itu lalu pergi menjauhi Yurina.
Yurina sempat sedikit ragu, ia berdiri termangu untuk beberapa saat lamanya.
Seperti apakah rupa saudari kembar suaminya itu. Apakah ia mau menerima kedatangan dirinya, banyak lagi pertanyaan - pertanyaan yang muncul dipikiran Yurina.
Yurina mengangkat tangannya, belum sempat ia mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka lebar.
Hampir saja Yurina mengetuk jidad sang dokter.
"Ma... maafkan saya dokter...." Ucap Yurina sedikit kikuk karena hampir saja melakukan kesalahan.
Seorang dokter wanita yang begitu familiar wajahnya. Wajah itu mirip dengan Moranno suaminya bila dilihat dari matanya. Tapi bila diperhatikan keseluruhan wajahnya, lebih mirip dengan nyonya Agatsa.
Ia menggunakan pakaian dinas dokter, dan menggunakan nametag didada kanannya. Ia menatap Yurina datar.
"Anda ingin bertemu dengan siapa nyonya?" Tanyanya dengan suara datar.
"Dokter Margareth, dokter spesialis saraf." Sahut Yurina cepat.
"Masuklah...." Yurina mengikutinya sambil menyapu ruangan kerja itu dengan pandangan matanya.
"Duduklah...." Katanya mempersilahkan Yurina duduk dihadapannya.
"Terima kasih." Ucap Yurina sambil mendudukkan dirinya.
"Apakah nyonya sedang berkabung? Bolehkah nyonya membuka semua atribut itu supaya saya bisa melihat siapa nyonya?" Ucapnya seakan merasa terganggu melihat Yurina menggunakan pakaian serba gelap.
Yurina tidak menjawab. Namun tangannya segera melepaskan satu persatu atribut yang dimaksud dokter dingin didepannya.
Dokter itu menatap Yurina yang sudah melepaskan topi lebarnya, kaca mata dan jas panjangnya.
Tatapannya begitu dingin dan tajam. Yurina sedikit merinding, suasana ruangan itu pun menggambarkan pemiliknya.
Yurina berusaha bersikap tenang, apapun yang akan ia hadapi, ia bertekad tidak akan pernah mundur.
__ADS_1