JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 139 "Tidak boleh bertanya aneh seperti itu."


__ADS_3

"Bagaimana Margareth, bagaimana keadaannya isteriku. Apakah dia baik - baik saja?" Tanya Moranno nampak khawatir.


"Kakak ipar hanya shock kak.... Selebihnya ia baik - baik saja. Sebentar lagi juga sadarkan diri." Kata Margareth yang baru saja menyelesaikan pemeriksaannya. Moranno merasa lega.


"Aku pamit dulu ya kak....." Kata Margareth sambil berdiri membawa alat - alat medis yang sudah ia bereskan dalam box nya.


"Terima kasih Margareth......" Ucap Moranno pada adiknya yang berprofesi sebagai dokter itu.


"Mommy juga permisi Moranno, apakah kau ingin turut makan siang bersama kami?" Kata nyonya Agatsa ikut berdiri.


"Tidak mom, aku disini saja menemani Yurina." Sahut Moranno pada ibunya.


"Baiklah, nanti mommy akan meminta bibi Nani mengantarkan makan siangmu dan juga Yurina kemari.


"Terima kasih banyak mom....." Ucap Moranno tersenyum pada ibunya.


Nyonya Agatsa hanya mengangguk dan membalas senyuman putranya sambil menepuk - nepuk pundak Moranno.


Lalu bergegas keluar mengikuti Margareth yang sudah lebih dulu meninggalkan kamar Moranno dan Yurina.


Ponsel Moranno berbunyi. Ia segera meraihnya dan menggeser layar untuk menerima panggilan masuk.


"Selamat siang tuan Morgan....." Sapa Moranno.


"Selamat siang tuan Moranno...... Bagaimana keadaan nyonya muda?" Tanya tuan Morgan dari ujung sambungan telepon.


"Isteri saya baik - baik saja tuan Morgan, hanya saja ia sedikit shock saat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, sepertinya ia belum siap menerimanya." Jelas Moranno.


"Kasihan nyonya muda..... Ini semua salah kami, kenapa harus mengatakan hal itu sekarang." Ucap tuan Morgan nampak menyesal.


"Tidak mengapa tuan Morgan.... Cepat atau lambat, semua kebenaran yang terjadi memang harus diungkapkan. Saya percaya, isteri saya adalah wanita yang kuat, dia sudah banyak melewati hal - hal sulit dan genting dalam hidupnya. Demikian juga dengan kisah yang baru ia dengar ini." Ungkap Moranno meyakinkan ayah isterinya itu.


"Anda benar tuan Moranno. Kapan kira - kira kami bisa menengoknya?" Tanya tuan Morgan selanjutnya.


"Beri waktu pada isteri saya untuk menenangkan dirinya dulu dalam beberapa hari ini. Nanti saya akan mencari waktu yang tepat bagaimana tuan dan juga keluarga tuan bisa menemuinya." Sahut Moranno memberi pengertian.


"Baiklah.... Saya mengerti tuan Moranno. Terima kasih banyak." Ucap tuan Morgan.


"Sama - sama tuan." Sambungan telepon terputus. Moranno meletakkan ponselnya kembali diatas nakas, lalu kembali ketempat tidur menghampiri Yurina.


Yurina mengerjap - ngerjapkan kedua matanya. Pandangannya sedikit kabur saat ia membuka matanya.


Dilihatnya Moranno yang sedang memandang wajahnya.


Yurina berusaha bangkit dari berbaringnya, namun Moranno segera menahannya.

__ADS_1


"Berbaringlah sajalah sayang..... Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Moranno masih memperhatikan wajah Yurina.


"Aku sedikit pusing..... mataku masih berat..... Tapi aku sangat haus......" Kata Yurina pelan.


Moranno segera mengambil gelas berisi air putih yang telah ia sediakan lalu ia membantu Yurina untuk duduk dan meminum air digelasnya.


Yurina segera meneguk minumannya hingga habis, terlihat ia memang sangat haus.


"Tambah lagi....." Pinta Yurina.


Moranno segera menuangkan kembali air kedalam gelas dan memberikannya lagi pada Yurina.


Yurina kembali menghabiskan air munum didalam gelasnya.


"Cukup....." Kata Yurina setelah menghabiskan dua gelas minumnya.


Moranno meletakkan gelas minum Yurina yang sudah kosong diatas nakas.


Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, Moranno segera menuju pintu dan membukakannya.


"Permisi tuan, saya membawa makan siang tuan dan nyonya muda." Ucap bibi Nani saat pintu telah terbuka.


"Berikan padaku bibi." Pinta Moranno.


"Terima kasih banyak bibi." Ucap Moranno sambil menerima nampan dari tangan bibi Nani.


"Iya tuan, saya permisi untuk kembali kedapur lagi." Pamit bibi Nani membungkuk hormat.


"Baiklah bibi....." Moranno membawa masuk nampan dengan kedua tangannya dan menutup pintu dibelakangnya dengan satu kakjnya.


"Banyak sekali makanannya....." Ucap Yurina saat melihat nampan ditangan Moranno.


"Iya..... kau harus menghabiskannya sayang...." Seloroh Moranno.


"Yang benar saja..... itu banyak sekali suamiku...."Sahut Yurina ngeri.


"Bercanda sayang..... Ini makan siang kita berdua." Ucap Moranno sambil meletakkan nampan ditangannya diatas nakas.


"Sayang.....Aku akan menyuapimu. Kata Moranno sambil mengambil piring makanan dinampan yang telah diantar bibi Nani itu.


"Aku tidak berselera....." Ucap Yurina menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Kau harus makan sayang.... nanti kau sakit...." Bujuk Moranno.


"Tapi aku tidak merasa lapar....." Ucap Yurina bersungguh - sungguh.

__ADS_1


"Sayang kau itu butuh asupan, kau belum makan sesuatu selain sarapan tadi pagi. Ingat para bayi gembul kita yang masih membutuhkan ASI mu sayang, apa kau rela melihat mereka kurus seperti diriku dulu." Ucap Moranno masih membujuk.


Yurina menggelengkan kepalanya.


"Ayo, bukalah mulutmu sayang...." Ucap Moranno sambil menyendok makanan dari dalam piring ditangannya.


Yurina menerima suapan Moranno, lalu mengunyahnya perlahan.


"Bagaimana..... Enak.....?" Tanya Moranno menatap wajah Yurina yang masih mengunyah. Yurina menganggukkan kepalanya pelan.


"Nah ini lagi....." Kata Moranno sambil menyuap lagi.


"Yurina kembali membuka mulutnya dan kembali mengunyah makanan yang disuap oleh Moranno.


"Ini lagi sayang....." ucap Moranno lagi.


"Cukup..... suamiku....." Kata Yurina sambil menahan tangan Moranno dengan kedua tangannya.


"Kenapa sayang..... kau baru makan dua suapan...."


"Berikan padaku piringnya, aku masih bisa makan sendiri. Kau makanlah juga suamiku." Kata Yurina berusaha mengambil piring yang ada ditangan Moranno.


" Nanti kau tidak menghabiskannya kalau tidak kusuap..... Aku akan makan setelah selesai menyuapimu sayang." Ucap Moranno sambil tetap memegang kuat piring ditangannya.


"Aku pasti menghabiskan makanan ini suamiku, bukankah kau sendiri mengatakan bahwa bayi - bayi gembul kita masih membutuhkan ASI ku. Aku juga tak ingin kau kurus seperti dulu lagi. Kau juga harus makan, kau kan baru sembuh dan sakitmu suamiku. Aku ingin kau cepat bisa menggendongku lagi, bukan tuan Harry." Ucap Yurina berusaha menarik piring yang dipegang Moranno dengan kuat.


Wajah Moranno langsung memerah mendengar ucapan Yurina yang mengingatkannya pada kejadian beberapa jam yang lalu saat di Panti Asuhan Benih Kasih.


"Bagaimana kau bisa tahu sayang? Atau saat itu kau tidak pingsan." Tanya Moranno curiga.


"Saat itu kepalaku sangat pusing.... Samar - samar aku mendengar perdebatanmu dengan tuan Harry, lalu aku merasa tubuhku melayang saat tangan seseorang mengangkat tubuhku. Aku merasakan itu bukan tanganmu suamiku." Sahut Yurina.


"Apa sentuhan tangannya lebih nyaman dari tanganku?" Tanya Moranno seolah menyelidik.


"Kau bicara apa suamiku. Aku tidak ingat lagi. Apa kau cemburu dengan tuan Harry. Mana percaya dirimu itu suamiku, yang mengatakan cinta padaku." Ucap Yurina yang langsung memahami isi kepala Moranno suaminya.


"Siapa yang cemburu....? Aku kan hanya bertanya, apakah tidak boleh....?" Ungkap Moranno membela diri.


"Tidak boleh bertanya aneh seperti itu. Suamiku..... tuan Harry itu kakak sepupuku....Mana boleh terjadi sesuatu pada kami. Lagi pula aku sudah jadi isterimu, dan aku sudah terbiasa dengan sentuhan tanganmu, jadi bila ada tangan orang lain yang menyentuhku, aku bisa tahu kalau itu bukan dirimu suamiku, hanya itu maksudku mengatakan hal itu tadi." Jelas Yurina.


" Baiklah..... Aku percaya padamu, aku hanya ingin tahu penjelasanmu saja sayang. Ini.... makanlah makananmu..... Aku juga akan makan bersamamu supaya aku lebih cepat pulih dan bisa menggendongmu lagi seperti yang kau inginkan sayang."


Moranno memberikan piring ditangannya pada Yurina. Ia lalu mengambil piringnya sendiri di nampan dan memasukkan beberapa menu makanan dipiring itu.


Keduanya lalu sama - sama menikmati makan siangnya masing - masing.

__ADS_1


__ADS_2