JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 199 "Aku sangat senang, bila kau menyukainya sayang."


__ADS_3

Margareth melipat kembali lembaran kertas memo itu dan memasukannya kembali kedalam amplopnya semula dengan rapi. "Apa maksud dari semuanya ini? Begitu mudahnya dirinya membolak - balik situasi hatiku. Apa aku harus bahagia.... atau marah.....?? Setelah semua yang ia lakukan.... Apa aku selalu harus mengalah dan mengikuti begitu saja semua keinginannya." Margareth menggenggam erat amplop berwarna babana polos itu.


Dari paper bag itu, Margareth mengambil satu set alat kosmetik.


"Bagaimana tuan Harry bisa tahu bila aku menggunakan brand ini?" Gumam Margareth sambil membuka peralatan make - up ditangannya.


Margareth segera bangkit dari tepi tempat tidurnya menuju kamar mandi dan kembali membersihkan tubuhnya disana sebelum mengenakan semua barang - barang yang telah dikirim Harry suaminya. Walau dirinya merasa tidak yakin, dan hatinya masih begitu kecewa akan sikap sang suami mulai malam pengantin hingga dihari ini, namun hati kecilnya menuntunnya untuk tetap bersiap seperti apa yang dipesankan Harry lewat memonya.


Ketukan pintu kamar hotel terdengar beberapa kali, saat Margareth sedang mematut dirinya didepan cermin. Dipandangnya wajahnya dari pantulan cermin yang ada dihadapannya, untuk memastikan dirinya sudah lebih rapi seutuhnya.


Saat daun pintu berhasil dibuka, Margareth dikejutkan dengan senyuman Harry yang tepat berdiri dihadapannya. Pria itu mengenakan jas warna senada dengan dirinya.


"Ini...... bunga mawar untukmu, isteriku yang sangat cantik......" Ucap Harry sambil menyerahkan sebuket bunga mawat berwarna merah segar.


Margareth terpaku ditempat ia berdiri sambil menatap lurus kewajah Harry yang masih mempertahankan senyum manisnya. Dirinya masih tidak percaya, kalau yang berdiri dihadapannya itu adalah Harry suaminya, pria itu terlihat lebih tampan dari saat terakhir ia melihat suaminya itu berpamitan untuk berkerja.


"Sayang..... kau baik - baik saja??" Terdengar suara Harry. Margareth masih menatap wajah Harry dihadapannya tanpa ekspresi.


Harry memajukan kakinya satu langkah kedepan hingga tidak ada jarak diantara keduanya. Bibirnya langsung mendarat dibibir isterinya itu. Margareth yang tidak bersiap segera berusaha melepaskan diri. Harry dengan sigap meraih pinggang ramping isterinya itu dengan tangan kirinya dan memeluknya dengan erat. Sementara tangan kananya yang masih memegang sebuket bunga dengan cekatan menekan tengkuk Margareth kewajahnya, membuat posisi wanita itu terkunci dalam pelukan Harry.


Tidak ada perlawanan, Margareth hanya berdiam, juga tidak membalas ciuman yang dilancarkan suaminya itu. Akhirnya Harry melepaskan ciumannya, setelah sekian detik tidak ada reaksi dari Margareth.


"Maafkan aku......" Ucap Harry menatap wajah Margareth yang hanya menyisakan jarak beberapa inchi dari wajahnya. Margareth masih diam mematung, tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya.


"Ini..... terimalah bunga dariku.....isteriku....." Harry kembali memberikan sebuket mawar merah segar yang masih setia dipegangnya.


Margareth menatap sejenak sebuket bunga mawar itu, perlahan ia mengulurkan tangannya dan menerimanya dari tangan Harry.


"Terima kasih..... tuan Harry....." Ucap Margareth lirih sambil memaksakan senyum dibibirnya.

__ADS_1


Harry kembali tersenyum saat melihat Margareth mau menerima pemberian bunga mawar darinya.


"Sayang....... maafkan aku......tidak meminta ijin saat menciummu." Ucap Harry menatap wajah Margareth.


"Anda tidak perlu meminta ijin darilku tuan Harry. Bukankah aku sudah menjadi isteri anda yang sah. Anda boleh melakukan apa saja padaku, termasuk meninggalkanku dihari pertama setelah kita menikah." Sindir Margareth dengan nada datarnya.


Terlihat jakun Harry naik turun beberapa kali saat mendengar ucapan isterinya itu, ia tahu Margareth menyimpan banyak kekecewaan pada dirinya.


"Bisakah kita pergi sekarang??" Tanya Harry menatap wajah datar isterinya itu.


"Tentu saja tuan Harry, saya sudah bersiap seperti apa yang anda minta satu jam sebelumnya." Sahut Margareth lagi masih dengan nada menyindir. Harry kembali menelan salivanya dengan susah payah, ia tahu isterinya sedang menahan segala yang ia simpan selama ini, dan ia mulai mengeluarkannya sedikit demi sedikit.


"Tunggu sebentar, aku akan menutup pintunya." Ucap Margareth seraya berbalik untuk masuk kekamar mengambil cardlock yang ada dimeja rias.


Tidak lama ia kembali dengan membawa benda pipih itu ditangannya, lalu menutup daun pintu kamar hotelnya dengan rapat.


"Berikan padaku supaya kau tidak sulit memegangnya sayang......" Margareth langsung memberikan cardlock yang ada ditangannya pada Harry yang langsung menyimpannya kedalam saku jasnya.


Harry menghampiri meja resepsionis untuk mengembalikan cardlock. Keduanya lalu menuju lahan parkir yang berada tidak jauh dari lobby.


Margareth dan Harry saling membisu didalam mobil, masing - masing larut dalam pikirannya sendiri.


Margareth menatap lurus kedepan memperhatikan lalu lintas yang begitu ramai, sementara Harry sedang pokus pada kemudi dan jalan didepannya.


Setelah 20 menit berlalu, Harry membelokkan mobilnya kearah pelabuhan kapal pesiar.


"Untuk apa kita kemari tuan Harry??" Tanya Margareth mengernyitkan keningnya.


"Makan siang......" Sahut Harry singkat, matanya masih pokus pada jalan didepannya.

__ADS_1


"Setahuku ditempat ini tidak ada resto tuan Harry....." Ucap Margareth sambil memperhatikan sekeliling pelabuhan dari kaca mobil yang tertutup. Harry tidak menjawab, ia masih pokus pada jalan didepannya melewati jembatan yang telah disiapkan untuk menuju kapal pesiar dihadapannya.


Harry mematikan mesin mobilnya saat sudah tiba diatas kapal pesiar dan segera membuka sabuk pengamannya.


"Kita sudah sampai......." Ucap Harry melihat kearah Margareth yang tengah termangu - mangu menatap lautan luas dihadapannya.


Harry segera turun dan membuka pintu mobil disebelah isterinya itu. " Isteriku, apakah kau masih begitu betah berdiam didalam mobil ini?? hmm??" Tanya Harry dengan suaranya yang melembut.


Margareth tidak menjawab, dirinya masih termangu menatap disekitarnya. "Aku akan membuka sabuk pengamanmu sayang....." Tanpa menunggu persetujuan, Harry membuka sabuk pengaman Margareth. Aroma wangi parfum khas pria yang digunakan Harry langsung menyadarkan Margareth dari keterkagumannya melihat lautan lepas dari atas kapal pesiar itu.


"Ayo sayang, ikutlah denganku, kita kan makan siang terlebih dahulu......" Margareth langsung meraih tangan Harry yang terulur padanya untuk membantunya turun dari mobil Harry.


Keadaan sekitar mereka begitu ramai dengan orang - orang yang berlalu - lalang. Margareth masih sibuk memperhatikan semuanya itu. Ada yang berpasangan seperti mereka berdua, ada yang membawa keluarga besarnya, bahkan ada yang hanya pergi seorang diri saja.


Harry mengeratkan tautan tangannya pada jari - jemari Margareth saat seorang pelayan datang menghampiri dirinya dan Margareth.


"Tuan Harry, mari ikutlah saya, saya akan mengantarkan anda dimeja pesanan anda." Ucap pelayan restoran itu dengan sikap sopannya.


Harry dan Margareth segera mengikuti langkah kaki pelayan itu menuju meja yang telah dipesan Harry.


"Silahkan duduk tuan dan nyonya Harry......" Ucap sang pelayan itu mempersilahkan pada sepasang suami isteri itu. "Mohon ditunggu sebentar tuan dan nyonya, pesanan makan siang yang tuan pesan akan segera kami antar kemari." Setelah berkata demikian, sang pelayan itu segera bergegas. Posisi meja Margareth dan Harry yang menghadap lautan lepas membuat Margareth tidak henti - hentinya menatap pemandangan didepannya dengan rasa kagum.


"Kau menyukai tempat ini sayang??" Tanya Harry menatap samping wajah Margareth yang duduk disebelahnya.


Margareth menoleh kearah Harry, menatap wajah pria yang telah menjadi suamjnya itu dengan sorot mata berbinar. "Terima kasih tuan Harry..... anda telah mengajakku untuk makan siang ditempat seperti ini, saya sangat menyukainya." Margareth mengulas senyum hangatnya pada suaminya itu.


"Aku sangat senang, bila kau menyukainya sayang." Harry balas memberi senyuman.


Tidak menunggu lama, pelayan itu sudah kembali dengan dua orang pelayan lainnya. Mereka dengan cekatan menghidangkan semua menu diatas meja.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2