JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 157 "Kehadiranmu Menyakitiku...."


__ADS_3

Margareth melirik kearah Harry yang mendekatinya. Keduanya masih setia berdiam diri menatap kepergian Moranno dan Yurina yang berlari - lari santai menjauhi mereka.


"Bisakah dijelaskan apa maksud perkataan kak Maronno barusan....?" Tanya Margareth pada Harry yang sudah berdiri disebelahnya.


"Aku memang pernah menggendong isteri tuan Moranno dua kali......"


Wajah datar Margareth sedikit berubah namun tak disadari Harry yang masih memandang kearah Moranno dan Yurina yang sudah menjauh.


"Jadi benar kata kak Moranno itu?" Margareth berusaha mengatur nada suaranya supaya tetap terdengar tenang.


"Iya benar..... waktu itu Yurina baru ditemukan saat ia diculik oleh Gandis, karena ia masih dalam keadaan hamil besar, tubuhnya sangat berat, jadi aku membantu tuan Moranno untuk mengangkatnya. Lalu yang kedua, saat di panti asuhan. Tuan Moranno saat itu masih belum terlalu pulih dari sakitnya, kau juga ada disana waktu itu kan?"


"Dalam kondisi darurat seperti itu.....siapapun akan ku tolong, saat mereka membutuhkan bantuanku." Harry menatap wajah Margareth yang telah memalingkan wajahnya kearah lain.


"Margareth......" Panggil Harry pelan.


"Hm......" Sahut Margareth masih memandang kearah lain.


"Bisakah kau melihat kearahku?" Pinta Harry dengan suara yang tiba - tiba terdengar parau.


Margareth masih terpaku ditempatnya, bukannya ia tidak mau, tapi ia tidak berani bertemu pandang dengan pria itu.


"Margareth..... " Panggil Harry lagi, suaranya masih terdengar parau.


Margareth mulai merasakan debaran - debaran jantungnya. Iramanya sudah tidak beraturan lagi saat suara Harry sampai kegendang telinganya.


Sembilan tahun silam, ia pernah merasakan perasaan yang sama seperti yang ia rasakan saat ini pada pria yang berbeda. Tapi debaran - debaran masa lalu itu telah menyisakan luka yang masih berdarah dihatinya.


Ingatan masa lalu itu kini menciftakan buliran - buliran bening disudut - sudut matanya yang memanas.


"Margareth..... apakah kau mendengarkanku?" Harry memandang punggung Margareth yang bergerak membelakanginya.


Masih tidak ada jawaban, Harry masih setia menanti. Setelah beberapa menit kemudian, punggung Margaret terlihat bergerak halus naik - turun.

__ADS_1


Harry yang melihat itu, memberanikan diri menyentuh pundak Margareth dan membalikkan tubuhnya menghadap kearahnya.


"Margareth..... Apa yang terjadi padamu?" Harry terkejut melihat wajah Margareth berlinang air mata. Ia segera mengusap air mata Margareth dengan handuk kecil dipundaknya.


"Kehadiranmu menyakitiku....." Ucap Margareth dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Harry terperangah mendengar ucapan Margareth, tangannya yang sedang mengeringkan air mata Margareth terhenti sejenak. Ia tidak mengerti apa maksud wanita itu mengatakan itu padanya, namun ia berusaha bersikap tenang, tangannya kembali mengeringkan air mata yang masih terus mengalir membasahi pipi Margareth.


"Aku sudah berusaha melupakanya, tapi kau datang.... dan mengingatkanku pada semua hal yang sudah ku kubur dalam - dalam....." Margareth kembali bersuara, isi hati yang selama ini ia pendam sendiri tanpa ia sadari perlahan ia ungkapkan dihadapan Harry yang hanya bisa terdiam seribu bahasa.


"Luka itu.....tidak bisa sembuh....." Margareth mendudukkan tubuhnya ditanah begitu saja, ia memeluk kedua lutunya dan menyembunyikan wajahnya disana.


Harry ikut berjongkok, tangannya ingin menyentuh rambut Margareth yang tergerai, namun ia segera menahannya, khawatir Margareth tidak menyukainya.


"Maafkan aku..... Aku tidak mengira.... kehadiranku membuatmu mengingat masa lalumu." Harry ikut duduk ditanah, berdampingan dengan Margareth diantara pohon - pohon mawar.


Ia memandang Margareth yang masih setia memeluk kedua lututnya dengan membenamkan wajahnya disana.


"Aku sempat larut dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Kulihat dia baik - baik saja, bahkan terlihat bahagia tanpa aku disisinya." Terdengar napas Harry mendesah berat seolah menghempaskan aura negatif yang menyelimuti hatinya.


"Pikirku.... Aku layak untuk bahagia.... walau tanpa dia yang telah menghianatiku....."


"Setelah beberapa kali bertemu denganmu secara kebetulan di Singapura beberapa tahun lalu, aku merasa pertemuan - pertemuan yang terjadi itu bukanlah suatu kebetulan. Seperti ada suatu ikatan antara aku dan dirimu."


"Aku termasuk pria yang tidak menjudge bahwa semua wanita itu sama. Itu sebabnya, saat kita secara kebetulan bertemu lagi di Jepang, aku langsung mengutarakan isi hatiku padamu. Aku berusaha move on dari masa laluku."


"Kita sudah saling mengenal dalam empat tahun ini, dan selama dua tahun belakangan, aku sudah beberapa kali melamarmu secara pribadi....."


"Kau mengingat semuanya itu?" Margaret mengangkat wajahnya menoleh kearah Harry yang duduk disampingnya.


"Iyaaa..... semuanya......" Sahutnya menatap wajah sembab Margareth.


"Saat aku melihat kau berada dirumah sakit merawat kakakmu tuan Moranno..... aku baru mengetahui bahwa kau anggota keluarga Agatsa. Aku ingin mundur, ingin mengurungkan niatku yang sudah - sudah, tapi aku tak bisa..... bila yang kurasakan ini dinamakan cinta, maka cintaku itu semakin besar setiap harinya pada dirimu Margareth....." Harry terlihat manis dipemandangan Margareth saat mengucapkan kata-katanya itu.

__ADS_1


"Kau berbicara panjang lebar seperti seorang perpempuan saja......" Celetuk Margareth yang tiba - tiba merasa geli mendengar ucapan Harry yang terdengar seolah - olah seperti rayuan ABG menggelitik hatinya membuat ia sedikit menyunggingkan senyum diujung bibirnya.


"Tidak masalah kau berpikir seperti itu, yang penting kau sudah tidak menangis lagi...." Harry memandang rambut - rambut Margareth yang tergerai diterbangkan angin sepoi - sepoi.


Margareth kembali terdiam, ia mengatupkan mulutnya memandang pohon - pobon mawar yang lebih tinggi dari dirinya yang duduk ditanah.


"Supaya kau lebih yakin pada niatku, aku meminta nenek melamarmu pada nyonya besar semalam...." Harry masih memandang wajah Margareth dari samping yang hanya terlihat pipi mulusnya, hidungnya yang mancung dan tidak terlalu lancip, bibirnya dengan lipstic berwarana fink, dan bulu matanya yang sebentar - sebentar bergerak karena kelopak matanya yang sesekali berkedip.


"Tidakkah kau bosan menunggu jawabanku yang selalu meminta sedikit waktu lagi seperti yang sudah - sudah hingga semalam juga aku berkata begitu?" Margareth tak mengalihkan pandangannya dari rumpun - rumpun mawar dihadapannya.


"Aku.... berusaha tidak bosan......bahkan, akulah yang akan berusaha membuat dirimu bosan untuk menunda menerima lamaranku....." Ucap Harry percaya diri.


"Apa kau seyakin itu....??" Ucap Margareth beralih menatap wajah pria disampingnga itu


"Sangat yakin....."" Harry balas menatap tanpa


berkedip.


"Berapa persen.....??"


"Tidak terhingga..... angkanya sampai tidak bisa tersebutkan....." Ucap Harry dengan wajah serius.


"Apa itu bukan omong kosong dan hanya sekedar rayuan kebanyakan pria?"


"Apa kau merasa ada kebohongan dalam ucapanku??" Harry masih menatap lurus kedalam mata Margaret tanpa berkedip sedikitpun.


Margareth sedikit gugup saat kedua mata mereka saling beradu, tapi ia berusaha bertahan untuk melihat kejujuran ucapan Harry dari tatapan matanya. Seolah kedua pasang mata itu saling menjelaskan apa yang tidak bisa diungkapkan keduanya dengan kata - kata.


Pria disampingnya itu kembali membuat jantungnya berdebar, darahnya terasa berdesir dan merambat hangat keseluruh saraf - sarafnya.


"Ada sedikit yang ingin kuceritakan padamu...." Kata Harry memecah keheningan diantara mereka.


"Apa itu?" Margareth mengedipkan matanya yang terasa perih diterpa angin.

__ADS_1


__ADS_2