
Seusai mengantarkan Moranno bekerja, Yurina kembali membaca beberapa buku diperpustakaan keluarga Agatsa, itulah yang sering ia lakukan setiap hari saat ditinggal Moranno berkerja.
Pintu perpustakaan berbentuk buku terbuka itu tiba-tiba terbuka dari luar, seseorang masuk mendekati Yurina.
Bibi.... letakkan saja camilanku diatas meja." Kata Yurina masih sibuk dengan buku bacaan yang sedang dibacanya.
Tidak ada suara, dan tidak ada pergerakkan dari seseorang yang berdiri didekat Yurina yang masih sibuk dengan bukunya.
Karena tak ada sahutan, Yurina menoleh kearah seseorang yang berdiri disampingnya yang tengah memperhatikannya.
Yurina sangat terkejut, dengan serta merta ia berdiri memberi hormat pada wanita yang berdiri didekatnya.
"Ma.... Maafkan saya nyonya besar. Saya tidak tahu bila anda yang datang. Saya pikir bibi Nur yang mengantarkan saya camilan. Maafkan atas sikap saya nyonya besar." Ucap Yurina dalam kegugupannya.
"Buku apa yang kau baca itu?" Tanya nyonya Agatsa sambil memperhatikan buku yang Yurina letakkan diatas meja.
"Ini buku tentang konstruksi bangunan gedung nyonya besar." Sahut Yurina sambil menunjukkan sampul buku kepada mertuanya.
"Kenapa kau membaca buku-buku semacam itu, dan bukannya buku-buku mengenai ibu hamil?" Kata nyonya Agasta lagi dengan masih memandang wajah Yurina yang sedikit menunduk.
"Buku-buku ibu hamil yang dibeli tuan Moranno sudah selesai saya baca semua nyonya besar. Jadi saya membaca buku- buku ini untuk mengingat akan yang pernah saya pelajari saat masih kuliah." Sahut Yurina masih dengan wajah sedikit menunduk.
"Kau pernah kuliah? Jurusan apa yang kau pilih? Dan kenapa kau tidak menyelesaikannya? Karena kulihat kau tidak memiliki gelar dibelakang namamu." Kata nyonya Agatsa dengan pertanyaan beruntun.
"Jurusan Tekhnik Sipil nyonya besar. Saya kuliah sambil berkerja. Saat saya bekerja di Properti Agatsa Grup sebagai cleaning service, saya memutuskan mengambil cuti satu tahun karena waktu bekerjanya dari pagi hingga sore hari bertepatan dengan jam kuliah saya nyonya besar."
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya nyonya Agatsa lagi sambil melangkah menuju salah satu rak buku.
"Setelah saya melahirkan, tuan Moranno mengijjnkan saya untuk menyelesaikan kuliah saya yang tertunda nyonya besar." Ucap Yurina masih berdiri ditempat semula dan masih dengan wajah sedikit menunduk.
Tak ada suara lagi terdengar. Nyonya Agatsa tengah mencari buku dirak yang ia tuju. Beberapa saat kemudian ia menemukan buku yang ia cari. Ia lalu menuju meja baca dimana Yurina masih berdiri dengan sikap hormatnya.
"Duduklah, kenapa kau masih berdiri disitu. Lanjutkan membaca bukumu itu." Ucap nyonya Agatsa sambil mengambil tempat duduk berhadapan dengan Yurina.
Nyonya Agatsa mengambil kacamata bacanya yang telah tersedia diatas meja.
" Iya nyonya besar. Terima kasih."Ucap Yurina sedikit sungkan. Ia lalu sedikit bergeser, supaya tidak duduk berhadapan dengan mertuanya itu.
Yurina sedikit sulit berkonsentrasi karena ia sedang berdua dengan sang mertua di dalam perpustakaan.
Beberapa saat kemudian, Yurina akhirnya sudah mulai bisa berkonsentrasi kembali dengan buku yang sedang dibacanya.
Tok...
Tok...
Tok...
Bunyi ketukan pintu mengalihkan konsentrasi Yurina. Ia menengadahkan sedikit wajahnya menoleh kearah sang mertua, namun nyonya Agatsa tidak mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya.
"Masuklah...." Kata Yurina sambil menoleh kearah pintu yang masih diketuk dari luar.
Bibi Nani masuk dengan nampan dan satu set rantang ditangannya. Ia mendekati meja baca panjang dimana Yurina dan nyonya Agatsa sedang melakukan kegiatan membaca mereka.
"Saya letakan disini ya nyonya muda camilan yang anda pesan tadi. Dan ini ada rantangan yang dikirim tuan Moranno untuk anda nyonya muda." Kata bibi Nani sambil meletakkan nampan berisi camilan dan rantangan yang ia bawa.
Ponsel Yurina tiba-tiba berbunyi. Yurina langsung meraihnya dan melihat panggilan video call dari Moranno terpampang dilayar ponselnya.
"Hallo.... Suamiku...." Kata Yurina saat mengangkat telepon yang telah tersambung sambil sedikit melirik kearah mertuanya, ia khawatir mengganggu sang mertua yang masih berkonsentrasi membaca buku dihadapannya.
"Hallo sayang.... Kau sedang apa disana?" Tanya Moranno saat dari sambungan telepon ia melihat Yurina berada diperpustakaan rumahnya.
"Sedang membaca buku. Ada nyonya besar juga disini." Kata Yurina memberitahu Moranno.
"Apa yang mommy lakukan bersamamu disitu?" Tanya Moranno tampak sedikit heran.
__ADS_1
"Sedang membaca buku juga." Ucap Yurina sambil mengarahkan kameranya memperlihatkan posisi mertuanya pada Moranno.
Moranno sejenak memperhatikan ibunya yang masih berkonstrasi membaca bukunya seolah-olah tak terganggu sama sekali dengan Yurina yang sedang berkomunikasi lewat telepon dengan dirinya.
"Apa rantangannya sudah tiba?" Tanya Moranno dari sambungan telepon sesaat kemudian.
"Iya, sudah tiba. Tidak biasanya kau mengirimkanku rantangan dari kantor. Itu pasti makanan spesial ya?" Ujar Yurina sambil tersenyum dan mengarahkan kameranya kearah rantangan yang dibawa bibi Nur.
"Iya sayang. Tadi ada dokter Dilanova menelponku. Kabarnya, ibu Selia dan bayinya yang bernama Putri seminggu yang lalu sudah keluar dari rumah sakit. Dari bantuan yang kau berikan masih banyak lebihnya. Ia ingin mengembalikannya, namun dokter Dilanova mengatakan tak perlu dikembalikan sesuai pesanmu sayang. Jadi ibu Selia membuka warung bakso sebagai usahanya didekat kawasan rumah sakit Pemerintah, kenalan dokter Dilanova mengontrakkan rukonya pada ibu Selia. Jadi rantangan itu kiriman dari ibu Selia untukmu, karena hari ini adalah syukuran pembukaan usaha warung baksonya. Makanlah, semoga kau menyukainya. Aku sudah memeriksanya terlebih dahulu, itu aman untuk kau konsumsi sayang." Jelas Moranno dari sambungan video call mereka.
"Syukurlah... Aku turut senang dan bahagia mendengarnya. Aku pasti memakannya. Terima kasih suamiku." Ucap Yurina lalu menutup sambungan video callnya.
"Bibi... Bisa tolong ambilkan dua mangkuk kemari?" Pinta Yurina pada bibi Nani.
"Iya nonya muda, saya ambilkan sebentar." Bibi Nani segera bergegas kedapur.
Tak berselang lama, bibi Nani membawa dua mangkuk diatas nampan lalu memberikannya pada Yurina.
"Ini nyonya muda. Apa masih ada yang anda butuhkan?" Tanya bibi Nani lagi.
"Sudah cukup bibi. Terima kasih." Kata Yurina pada bibi Nani.
"Kalau begitu saya pamit dulu untuk melakukan tugas yang lain nyonya muda." Bibi Nani membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hornat sebelum meninggalkan Yurina dan nyonya Agatsa.
"Sepertinya kau sangat dermawan. Memberikan bantuan yang banyak, hingga orang itu bisa membuka usahanya." Ujar nyonya Agatsa pada Yurina, namun tatapannya masih tak beralih dari buku yang ia baca.
Yurina tak berani menyahut sepatah katapun apa yang dikatakan mertuanya itu.
"Tentu saja kau bisa melakukannya, karena rupiah yang kau gunakan untuk membantu bukanlah rupiahmu, tapi milik suamimu yang ia dapatkan dengan berkerja keras, dan kau yang menghabiskannya dengan menghambur-hamburkannya seperti itu." Ucap nyonya Agatsa sesukanya saja.
Yurina hanya bisa berdiam diri. Ia pun tak berniat menjawab atau menjelaskan apapun. Yurina hanya mengambil napas dalam dengan diam-diam, ia berusaha tetap tenang dan menguasai diri, walau sebenarnya perkataan mertuanya itu sangat membuat perasaannya tak nyaman.
Beberapa bulan tinggal dirumah keluaga Agatsa, membuatnya sedikit banyak mengenal nyonya Agatsa mertuanya. Sedikit saja ia salah ucap akan membuat suasana akan menjadi tidak baik.
"Apa kau akan memakan makanan itu disini? Aromanya sangat menggangguku." Ucap nyonya Agatsa memandang kearah Yurina.
"Maafkan saya nyonya besar. Saya akan membawa semuanya ini kedapur." Kata Yurina seraya berdiri dari duduknya dan membereskan kembali rantangan yang telah ia buka satu-persatu.
"Tidak perlu. Kalau kau sudah terlanjur membukanya, makan saja disini. Mata Moranno ada dimana-mana, bila ia mengetahui kau berpindah tempat karena perkataanku, ia akan mengajakku bertengkar lagi." Ucap nyonya Agatsa memandang menantunya itu, lalu kembali beralih ke buku yang ada dihadapannya.
"Terima kasih nyonya besar." Kata Yurina kembali duduk dan membuka rantangan satu demi satu yang telah ia bereskan sebelumnya.
Yurina mengambil sayuran dan mie dari rantangan pertama lalu memasukkannya kedalam mangkuk. Lalu Yurina mengambil beberapa bola-bola bakso sekepalan tangan bayi dari rantang kedua. Dari rantang ketiga Yurina menuangkan kuah bakso. Lalu ia memasukan saos, kecap, bawang goreng dan daun seledri sebagai pelengkap.
"Nyonya besar, ini untuk anda." Kata Yurina sambil meletakkan semangkuk bakso yang baru ia racik kehadapan mertuanya.
"Kau makan saja. Aku tidak menyukai olahan seperti itu. Juga belum tentu dibuat secara higienis." Ucapnya acuh tak acuh tanpa melihat kemangkuk dihadapannya.
"Kau juga, hati-hati nanti sakit perut. Ingat kau sedang mengandung cucu-cucu keluarga Agatsa. Jadi jagalah setiap asupanmu." Kata nyonya Agatsa tanpa ia sadari.
"Terima kasih nyonya besar atas perhatian anda pada bayi-bayi yang ada dalam kandungan saya." Ucap Yurina merespon kata-kata mertuanya.
Nyonya Agatsa tersadar akan ucapannya saat mendengarkan kata-kata menantunya. Ia hanya terdiam seolah-olah tidak mendengar saat Yurina berbicara.
Yurina mengambil kembali mangkuk bakso dari hadapan mertuanya. Ia mulai menyuap bakso yang ada dididalam mangkuk dihadapannya. Entah karena sudah lama tidak memakannya atau memang cita rasanya yang memang sangat lezat, membuat Yurina menyuap suapan demi suapan kedalam mulutnya dengan suara yang sedikit riuh. Aroma bakso yang dimakan Yurina semerbak memenuhi ruangan.
"Apa kau sangat lapar, sehingga bunyi sendok dan garpumu terlalu nyaring berdenting berbenturan dengan mangkuk itu. Apa kau lupa tata cara makan dikeluarga Agatsa, hmmm?" Ucap nyonya Agatsa yang merasa terganggu dengan ulah Yurina.
"Maafkan saya nyonya besar. Bakso ini sangat lezat cita rasanya, sehingga saya tak sabar menyuapnya." Sahut Yurina jujur.
Nyonya Agatsa memandang kearah Yurina, lalu beralih kemangkuk bakso yang ada dihadapan Yurina. Mangkuk bakso dengan kuah berwarna coklat tua kemerahan, terlihat lezat dan aromanya itu menggambarkan cita rasanya.
Nyonya Agatsa berusaha menahan dirinya, namun rasa penasarannya akan rasa kuliner yang dinikmati menantunya itu memaksanya untuk mencobanya.
"Racikkan untukku setengah mangkuk saja." Pintanya dengan suara datar, lalu segera beralih membaca bukunya kembali.
__ADS_1
Yurina segera melakukan apa yang diminta nyonya Agatsa. Begitu selesai ia meletakkan dihadapan mertuanya.
"Silahkan nyonya besar." Ucap Yurina mempersilahkan.
Nyonya Agatsa lalu meletakkan buku yang dibacanya disisi kanannya lalu melepaskan kaca mata bacanya dan meletakkannya pula diatas buku bacanya itu.
Perlahan, nyonya Agatsa meraih sendok dan garpu di mangkuk baksonya. Ia mulai mengaduk dan membolak balikkan isi mangkuknya yang hanya setengah saja isinya.
Suapan pertama hanya kuahnya saja. Nyonya Agatsa merasakan cita rasanya dimulutnya lalu menelannya. Suapan keduanya, nyonya Agatsa membelah bola bakso dan menyuapnya dengan gaya elegannya. Dikunyahnya dengan perlahan, beberapa detik kemudia ia menelannya.
Yurina memandang wajah nyonya Agatsa dengan sedikit was-was, khawatir kuliner itu tidak disukai oleh mertuanya itu.
"Ba... Bagaimana nyonya besar? Apakah anda menyukainya?" Tanya Yurina sedikit sungkan dan terlihat gugup.
"Makanan warungan ini lumayan." Ucap nyonya Agatsa masih meneruskan makannya.
Yurina terlihat lega, ia lalu melanjutkan makannya tanpa bertanya lagi.
"Apakah aku masih bisa menambahnya?" Ucap nyonga Agatsa yang baru saja menghabiskan isi mangkuknya, masih dengan suara datarnya.
"Masih nyonya besar. Apakah porsinya sama seperti tadi?" Tanya Yurina hati-hati berusaha tidak melakukan kesalahan.
"Buatkan semangkuk penuh." Ucapnya masih dengan suara datarnya.
Yurina segera berdiri, meraih mangkuk kosong dari hadapan nyonya Agatsa. Ia segera meraciknya kembali.
Mata nyonya Agatsa memandang kearah tangan Yurina yang tengah sibuk meracik bakso dimangkuknya, membuat Yurina sedikit gugup dibuatnya.
"Sudah selesai, silahkan nyonya besar." Ucap Yurina dan kembali meletakkan mangkuk bakso dihadapan nyonya Agatsa.
Nyonya Agatsa kembali mengaduk dan membolak-balikkan isi mangkuknya menggunakan sendok dan garpu yang ada dimangkuknya. Detik selanjutnya nyonya Agatsa kembali menyuap isi mangkuknya suapan demi suapan kedalam mulutnya.
Yurina pun melakukan hal yang sama. ia menyuapi isi mangkuknya yang belum habis.
Sesekali Yurina melirik kearah nyonya Agatsa dan mangkuk yang ada dihadapan mertuanya itu. Masih dengan gaya elegannya seperti biasa yang dilihat Yurina, nyonya Agatsa menghabiskan isi mangkuknya.
"Apakah nyonya besar ingin menambah lagi?" Tanya Yurina saat melihat mangkuk kosong mertuanya.
"Sudah cukup. Kau pikir perutku mampu menampung bermangkuk-mangkuk makanan." Ucapnya begitu saja pada Yurina.
"Iya nyonya besar, maafkan saya." Ujar Yurina yang merasa salah bertanya.
Yurina lalu meraih ponselnya dan menelpon dapur.
"Hallo, kediaman keluarga Agatsa disini." Terdengar suara dari seberang sambungan telepon.
"Bibi Nani, tolong bereskan peralatan makan yang kotor diperpustakaan ini." Kata Yurina pada sang kepala pelayan.
"Baik nyonya, saya akan segera kesana." sahut bibi Nani.
Yurina menutup teleponnya. Ia mengambil mangkuk kosong dihadapan nyonya Agatsa dan menyatukan dengan mangkuk kosongnya. Rantang-rantang segera ia susun menjadi satu kembali.
Bibi Nani yang baru tiba bersama bibi Nur segera membereskan diatas meja, dan membersihkan sedikit noda makanan yang tertumpah diatas meja baca.
Setelah selesai bibi Nani membawanya kedapur untuk dibersihkan. Sementara bibi Nur masih berdiri disisi meja baca perpustakaan.
"Ada apa bibi Nur? Sepertinya ada yang bibi ingin sampaikan." Tanya Yurina pada bibi Nur.
"Iya nonya muda. Saya ingin berbicara dengan nyonya besar." Sahut bibi Nani pada Yurina.
Nyonya Agatsa yang sedang membaca mendengar dirinya disebut, segera mengalihkan pandangannya kearah bibi Nur.
"Apa yang ingin kau sampaikan bibi Nur?" Tanya nyonya Agatsa dengan wajah dan suara datarnya.
"Maafkan saya nyonya besar bila saya lancang. Beberapa minggu lalu saat saya dirawat dirumah sakit. Putra saya yang seorang guru meminta saya untuk ikut dengannya yang telah dipindah tugaskan didusun dimana mendiang suami saya pernah ditugaskan. Bila nyonya berkenan, saya akan resign bekerja disini dan ikut dengan putra saya tinggal didusun." Ucap bibi Nani hati-hati pada nyonya Agatsa sambil menundukkan sedikit wajahnya, demikian semua pelayan dirumah keluarga Agatsa saat berbicara dengan majikannya.
__ADS_1