JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 90 "Kau memang wanita pembawa sial."


__ADS_3

"Bagaimana bila putraku itu dibawa berobat keluar negeri dok?" Kata nyonya Agatsa memberi ide.


"Untuk kondisi tuan Moranno saat ini, sangat tidak memungkinkan dibawa berpergian jauh. Itu sangat berbahaya nyonya besar." Sahut dokter Rogen.


"Jadi apa yang harus kami lakukan? Apakah hanya berdiam diri saja? Pasrah pada keadaan?" Suara nyonya Agatsa sedikit meninggi, karena merasa idenya ditolak.


"Kita tidak pasrah pada keadaan nyonya besar. Para dokter disini juga akan berupaya sebaik dan semampu mungkin untuk melakukan perawatan dan pengobatan pada tuan Moranno."


"Untuk sementara waktu, melihat kondisi tuan Moranno, hanya itu yang bisa kita lakukan nyonya besar." Jelas dokter Rogen berusaha bersikap tenang saat mendengar nada bicara nyonya Agatsa.


"Bagaimana bila keadaan putraku tidak semakin membaik, malah semakin memburuk, apa kalian bisa mempertanggung jawabkannya." Suara nyonya Agatsa mulai terdengar ketus kembali.


"Maafkan saya nyonya besar. Kami para dokter dirumah sakit ini akan berusaha semampu kami, bila Tuhan sudah menakdirkan baik buruknya pada tuan Moranno, kami pun tidak bisa berbuat apa - apa." Dokter Rogen berusaha memberi pengertian pada nyonya Agatsa dengan sabar.


"Ini semua karena dirimu Yurina. Jika tidak karena ingin cuti untuk menemanimu melahirkan, putraku tidak akan berpergian ke anak - anak cabang perusahaan dan proyek - proyek sehingga terjadi musibah kecelakaan ini." Nyonya Agatsa beralih pada Yurina dengan kemarahan yang ia tumpahkan pada menantunya itu.


Dokter Rogen tak habis mengerti saat mendengar perkataan nyonya Agatsa yang menumpahkan kemarahannya pada Yurina yang menurutnya menjadi penyebab kecelakaan Moranno.


"Setelah putriku pergi, aku hanya memiliki seorang putra. Dan karena kau, aku hampir kehilangan putraku satu - satunya." Tambahnya semakin menyudutkan Yurina.


"Kau memang wanita pembawa sial. Sejak ada dirimu masuk kedalam keluarga Agatsa, kemalangan demi kemalangan menimpa keluarga Agatsa bertubi - tubi."


Nyonya Agatsa begitu kesal pada menantunya itu. Sehingga semuanya ia tumpahkan begitu saja pada Yurina dihadapan dokter Rogen.


Yurina yang duduk bersisian dengan nyonya Agatsa hanya bisa meneteskan air matanya. Hatinya begitu pedih mendengar cercaan mertuanya yang menyudutkan dirinya dengaan perkataan - perkataa yang tidak masuk diakal dan tidak seharusnya ia sampaikan dihadapan dokter Rogen.


Rasa sedih bercampur malu membuat air mata Yurina keluar semakin banyak tanpa bisa ia bendung.


Menangis, ya menangis dalam diam tanpa suara, hanya itu yang bisa Yurina lakukan saat itu.


Kondisi Moranno yang masih koma saja membuat dirinya sudah hampir berputus asa. Ditambah sikap ketidak sukaan ibu mertuanya itu semakin menjadi - jadi saat Moranno ditimpa musibah kecelakaan membuat dirinya merasa semakin merasa terpuruk.


Dokter Rogen yang mendengar semua perkataan nyonya Agatsa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia mengambil napas dalam, hatinya pun merasa iba melihat Yurina diperlakukan demikian oleh ibu mertuanya sendiri.

__ADS_1


"Nyonya besar janganlah berkata demikian, nyonya muda adalah isteri tuan Moranno, putra anda." Dokter Rogen berusaha mengingatkan.


"Dia memang isteri putraku, tapi dia bukan menantuku." Sahut nyonya Agatsa ketus.


Dokter Rogen terkesiap mendengar ucapan nyonya Agatsa. Selama ini ia memang mendengar rumor ketidak harmonisan antara nyonya Agatsa dan menantunya, dan apa yang ia dengar dapat ia saksikan sendiri dengan mata dan kepalanya bahwa rumor itu adalah benar.


"Nyonya besar, bila anda tidak bersikap baik pada menantu anda sendiri, siapa yang akan mendukung anda pada masa-masa seperti sekarang ini. Kondisi tuan Moranno sangat memerlukan kerjasama anda dan menantu anda nyonya besar." Ucap dokter Rogen memberanikan diri menasehati, yang usianya sedikit lebih tua dari nyonya Agatsa.


"Dokter Rogen, saya mohon, jangan campuri urusan keluarga saya. Saya harap anda tahu batasan anda dokter Rogen." Timpal nyonya Agatsa ketus.


"Maafkanlah saya nyonya besar. Saya hanya ingin kebaikan untuk anda dan menantu anda. Bila anda tidak berkenan, saya mohon maafkanlah saya nyonya besar." Ucap dokter Rogen yang prihatin atas sikap nyonya Agatsa.


"Hanya saya yang tahu, mana yang baik untuk keluarga Agatsa, bukan orang luar dok." Ucap nyonya Agatsa angkuh.


"Sekali lagi saya mohon maaf nyonya besar atas kelancangan saya barusan." Ucap sang dokter merendahkan hati. Ia berusaha menenangkan dirinya yang merasa dongkol pada keangkuhan nyonya Agatsa yang adalah pemilik dari rumah sakit Agatsa Hospital dimana ia berkerja mengabdikan diri.


"Saya rasa hanya itu yang bisa saya sampaikan pada nyonya besar dan nyonya muda mengenai kondisi dari tuan Moranno." Ucap dokter Rogen menyudahi perkataannya.


"Baiklah, kami permisi dulu." Ucap nyonya Agatsa segera bangkit dari duduknya. Sementara Yurina masih duduk ditempatnya dengan kedua tangannya memeluk perut besarnya, wajahnya terlihat pucat.


"Ayo Yurina, kita pergi dari sini." Kata nyonya Agatsa sambil melangkah menuju pintu tanpa melihat kearah Yurina.


Yurina masih tidak menjawab, keringat dingin mengucur dari beberapa bagian tubuhnya. Terlihat ia berusaha menahan rasa sakit yang teramat sangat pada perutnya.


Dokter Rogen bangkit dari duduknya dengan segera menghampiri Yurina.


"Apakah perut anda terasa sakit nyonya muda?"


Yurina hanya menganggukkan kepala karena tak sanggup berbicara. Sakit perut membuatnya harus menahan napas begitu lama hingga keringat dingin terus mengalir diwajahnya yang pucat.


"Ayo, Yurina... Apa yang membuatmu betah berlama - lama diruang dokter Rogen ini?" Nyonya Agatsa kembali memanggil Yurina dari depan pintu.


"Nyonya besar, menantu anda sedang sakit perut mau melahirkan." Sahut dokter Rogen yang mulai jengah melihat sikap nyonya Agatsa yang sama sekali tidak perduli pada kondisi Yurina yang kesakitan.

__ADS_1


"Jangan manja. Bukankah tadi kau sanggup berjalan. Kenapa sekarang kau berpura - pura seperti itu. Apa kau berusaha mencari perhatian supaya aku merasa kasihan padamu?" Ucapnya dari tempat ia berdiri.


Dokter Rogen yang sudah tidak sanggup melihat sikap nyonya Agatsa segera keluar ruangannya dengan melewati nyonya Agatsa yang masih berdiri didekat pintu tanpa menyahut lagi apa yang dikatakan nyonya Agatsa.


Melihat dokter Rogen tanpa permisi dan hampir menabrak dirinya karena terburu - buru, nyonya Agatsa segera menepikan dirinya disisi pintu masuk.


"Bibi Nur, cepat bawa masuk kursi rodanya, segera bawa nyonya muda keruang perawatannya. Nanti saya yang akan menelpon dokter Rosalie untuk memeriksa nyonya muda." Kata dokter Rogen dengan terburu - buru.


"Baik dokter." Bibi Nur dan dua pengawal jaga dengan gerak cepat memasuki ruangan. Mereka tidak lupa memberi hormat saat melewati nyonya Agatsa yang masih berdiri didekat pintu masuk.


Dengan tergesa - gesa mereka memapah Yurina yang nampak semakin pucat untuk duduk dikursi roda.


"Cepatlah, bawa nyonya muda pergi. sepertinya ia sudah sangat kesakitan." Perintah dokter Rogen.


Tanpa pikir panjang, bibi Nur dan kedua pengawal jaga yang bersamanya mendorong kursi roda dengan cepat keluar dari ruangan dokter Rogen hingga melupakan ritual penghormatan yang biasa mereka lakukan saat berhadapan dengan nyonya Agatsa yang termangu menyaksikan orang - orangnya yang ia lihat sangat sibuk.


Sementara itu dokter Rogen pun tengah sibuk pula berbicara lewat ponselnya.


Begitu menutup teleponnya, dokter Rogen menghampiri nyonya Agatsa yang masih termangu ditempat semula ia berdiri. Entah apa yang sedang ia pikirkan


"Nyonya besar....." Panggil dokter Rogen.


Nyonya Agatsa nampak masih sibuk dengan pikirannya, sehingga tidak mendengar panggilan dokter Rogen.


"Nyonya besar, apakah anda mendengarkan saya?" Panggil dokter Rogen sekali lagi.


"Iyaa... Ada apa dokter." Sahut nyonya Agatsa yang baru tersadar.


"Saya sedang terburu - buru. Maafkan saya bila meninggalkan anda seorang diri ditempat ini. Apa anda masih ingin diruangan saya? Bila tidak saya mohon permisi untuk menutup pintu ruangan saya nyonya besar." Ucap dokter Rogen tetap bersikap ramah.


"Tidak. Saya juga akan segera pergi." Nyonya Agatsa lalu meninggalkan dokter Rogen.


Dokter tetap menunduk hormat walau nyonya Agatsa tidak melihatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2