JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 61 "Lagi pula aku telah melihat semuanya, apa kau lupa?"


__ADS_3

Tok...


Tok...


Tok...


"Tuan ini saya." Suara seseorang dari balik pintu. Moranno memutar anak kunci dan membuka pintu.


"Tuan, saya mengantarkan pakaian ganti tuan dan nyonya muda yang tuan pesan." Kata asisten Rudi sambil menyerahkan beberapa paper bag ditangannya.


"Terima kasih." Ujar Moranno sambil menerima paper bag yang diserahkan asisten Rudi.


"Tuan, ternyata dalang dari penculikan nyonya muda adalah nona Gandis. Dia sudah mengakuinya dikantor polisi. Dan pihak kepolisian tinggal menunggu kesaksian dari nyonya muda sebagai korban." Jelas asisten Rudi.


"Tuan dan nyonya Morgan juga ingin bertemu dengan anda tuan, besok di Agatsa Properti Grup jam sepuluh pagi." Kata asisten Rudi lagi.


"Baiklah..." Suara datar Moranno hampir tak terdengar.


"Satu lagi tuan, berita tentang penculikan hingga ditemukannya nyonya muda menjadi tranding topik seluruh media masa dan juga televisi dinegeri ini."


"Apakah ada ditemukan berita miring tentang isteriku?" Tanya Moranno menyelidik.


"Tidak ada tuan, justru mencuatnya berita tentang penculikan hingga ditemukannya nyonya muda membuat para wartawan mengangkat kembali berita tentang pernikahan tuan. Entah dari mana sumbernya, para wartawan menemukan bahwa insiden ulang tahun perusahaan teruangkap dan semuanya yang terjadi pada tuan dan nyonya muda menunjuk ke satu nama, yaitu nona Gandis." Tutur asisten Rudi sambil memperlihatkan satu demi satu artikel yang ditulis di sosial media dari ponsel pintarnya.


"Dengan ditemukan fakta baru ini, para wartawan berusaha bertemu tuan dan nyonya muda." Tambah asisten Rudi lagi.


"Kalau begitu, tambahkan keamanan di rumah sakit ini, khusus akses menuju ruang perawatan isteriku. Aku tak ingin dia diganggu seorangpun selama masa pemulihannya." Perintah Moranno pada asisten Rudi.


"Baik tuan...."


"Sekarang, pegilah...."


"Baik tuan..."


"Asisten Rudi tunggu...." Panggil Moranno tiba-tiba.


"Iya tuan...." Asisten Rudi yang baru saja akan bergegas pergi, segera membalikan tubuhnya saat mendengar panggilan tuannya.


"Terima kasih untuk kerja baikmu hari ini.... "Kata Moranno sambil tersenyum pada asistennya itu.


Asisten Rudi yang melihat majikannya itu jarang sekali tersenyum padanya menjadi salah tingkah.


"I... Iya tuan... Ini memang tugas saya." Ucap asisten Rudi gugup.


"Kau boleh minta kenaikan gaji, berapapun nilainya akan kukabulkan, kirim saja keponselku."


"Be.... Benarkah?" Kata asisten Rudi tak percaya.


"Tentu saja..." Ucap Moranno pasti.


"Baik tuan, terima kasih banyak tuan." Kata asisten Rudi tersenyum sumringah.


"Sekarang, kau boleh pergi."


"Baik tuan." Asisten Rudi lalu memberi hormat lalu segera pergi meninggalkan majikannya itu.


Moranno lalu menutup pintu dengan rapat. Ia bergegas membawa paper bag yang telah diantar asisten Rudi.

__ADS_1


Ketukan pintu kembali terdengar saat Moranno sedang memasukan paper bag kedalam lemari pakaian pasien.


"Maafkan kami tuan, kami perawat yang ditugaskan oleh dokter Rosalie kemari. Saya ditugaskan untuk melepaskan infus nyonya muda. Teman saya yang satunya akan membantu nyonya untuk makan malam, dan yang satunya lagi akan membantu nyonya muda untuk membersihkan diri." kata seorang perawat berpakaian putih yang berdiri di depan pintu, sementara dua perawat lain yang berdiri dibelakangnya, masing-masing membawa satu nampan berisi makan malam dan satu baskom air hangat dan kain.


Moranno lalu melihat arloji ditangannya untuk memastikan jam pemeriksaan.


"Baiklah, kalian boleh masuk." Kata Moranno mempersilahkan ketiga orang perawat itu untuk masuk.


Perawat pertama lalu memeriksa infus dan melepaskannya dengan hati-hati supaya Yurina tidak kesakitan.


"Nyonya muda, sudah tidak memerlukan infus lagi." Kata perawat itu lalu mengemasi peralatan infus kedalam box.


"Terima kasih ya sus...." Kata Yurina dengan senyumnya.


"Iya nyonya muda." Kata sang perawat.


"Nyonya muda saya akan membantu nyonya untuk membersihkan diri." Kata perawat yang satunya lagi.


"Baiklah...." Kata Yurina singkat.


"Tidak, biarkan saya saja yang melakukannya." Kata Moranno tiba-tiba dengan cepat.


"Tapi tuan, saya ditugaskan untuk...."


"Jangan khawatir sus, anda tidak akan mendapat masalah, karena saya sendiri yang memang ingin melakukannya sendiri." Kata Moranno meyakinkan perawat.


"Baik tuan kalau begitu." Ujar sang perawat hati-hati dan masih merasa tak nyaman.


"Bila sudah selesai, kalian boleh pergi, saya yang akan melakukannya sendiri, demikian juga dalam membantu isteri saya untuk makan malam." Kata Moranno lagi.


Setelah menutup pintu dengan rapat dan menguncinya dari dalam, Moranno lalu mendekati Yurina yang terbaring diranjang pasien.


"Ayo sayang, aku akan membantumu membersihkan diri." Kata Moranno sambil membantu Yurina duduk dari pembaringannya.


"Tapi...."


"Tapi kenapa?" Tanya Moranno melihat Yurina yang terlihat ragu.


"Aku malu, malu padamu suamiku." Kata Yurina tersipu.


"Kenapa harus malu? Aku kan suamimu. Lagi pula aku sudah melihat semuanya, apa kau lupa?"Kata Moranno sambil tersenyum menggoda membuat Yurina semakin tersipu.


"Bolehkah aku membersihkan tubuhku sendiri dikamar mandi itu?" Kata Yurina sambil menunjuk dengan wajahnya kearah kamar mandi yang berada disudut ruangan itu.


"Tidak boleh, kau masih lemah sayang, aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi padamu, menurutlah pada suamimu ini. Lagi pula tadi kau bersedia dibantu perawat tadi, mengapa tidak mau denganku?"


"Baiklah, aku menurut...." Kata Yurina mengalah.


"Nah.... jadi isteri itu begitu." Kata Moranno senang, lalu segera membantu Yurina melepaskan pakaiannya.


Moranno mulai membersihkan tubuh Yurina menggunakan kain basah dengan air hangat yang ada didalam wadah yang dibawa oleh perawat. Yurina nampak terlihat sangat tidak nyaman, namun ia berusaha tetap berdiam diri melihat perlakuan Moranno yang begitu perhatian padanya.


"Mengapa ditangan dan kakimu banyak sekali luka goresan?" Tanya Moranno heran saat membersihkan bagian tangan dan kaki Yurina.


" Luka goresan itu karena terkena rumput liar saat aku berusaha melarikan diri. Seorang dari penculik itu berbaik hati untuk menolongku keluar dari tempat mereka menyekapku." Kata Yurina sambil mengingat kejadian yang telah menimpanya itu.


"Benarkah? Seorang penculik mau melakukan itu?" Tanya Moranno seolah tak percaya.

__ADS_1


"Itu benar. Tapi karena aku tak bisa berlari cepat, kami akhirnya tertangkap. Pria penculik yang berusaha menolongku itu dipukul sampai babak belur, aku sangat kasihan melihatnya."


"Lalu luka lebam diwajahmu ini apa para pria penculik itu yang melakukannya. Mereka pasti kuhajar!" Kata Moranno emosi sambil tetap membersihkan wajah Yurina yang lebam dengan hati-hati menggunakan kan basah dan air hangat.


"Bukan. Bukan mereka yang melakukannya. Aduh, sakit. Perih dibagian itu." Kata Yurina meringis kesakitan karena luka lebam di daerah dagunya yang agak parah.


"Maafkan aku...." Kata Moranno berhenti sejenak dari kegiatannya, lalu meneruskan kembali kegiatan membersihkan luka lebam di wajah Yurina.


"Lalu siapa yang melakukannya?" Tanya Moranno lagi.


"Nona Gandis." Sahut Yurina masih meringis kesakitan.


"Apa??.... Berani -beraninya dia!" Geram Moranno.


"Ia melakukannya saat mengetahuiku berusaha melarikan diri." Kata Yurina lagi.


"Perempuan itu.... Aku tidak akan memaafkannya." Kata Moranno masih geram.


Setelah selesai membersihkan tubuh Yurina dengan air hangat, Moranno mengambil paper bag yang telah ia simpan dalam lemari pakaian pasien. Ia membantu isterinya itu berpakaian.


"Sekarang kau harus makan malam dulu, lalu segera beristirahat." Kata Moranno sambil mengambil makan malam diatas nakas.


"Apakah kau tidak makan juga bersamaku?"


"Aku nanti saja, kau yang lebih penting, anak-anak kita juga sudah lapar, lihatlah mereka bergerak-gerak didalam perutmu." Kata Moranno memegang piring ditangannya sambil menunjuk kearah perut Yurina dengan wajahnya.


Yurina tersenyum dan mengelus-elus perutnya sendiri merasakan pergerakan para bayi didalam sana.


"Ayo, bukalah mulutmu dengan lebar." Yurina membuka mulutnya lalu menerima suapan demi suapan dari tangan Moranno. Hatinya begitu terharu melihat Moranno yang begitu perhatian padanya.


"Sudah cukup, aku sudah merasa kenyang." Kata Yurina sambil mengusap bagian perutnya yang semakin membuncit.


"Sekarang kau makanlah, apa kau mau aku menyuapimu juga?" Kata Yurina menatap suaminya.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau berbaringlah, dan segeralah tidur." Moranno menekan tombol pada samping ranjang pasien untuk mengatur posisi berbaring Yurina. Lalu menyelimuti tubuh isterinya itu dengan rapi.


"Selamat tidur sayang." Moranno mencium kening isterinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih...." Yurina menatap wajah Moranno dengan mata berkaca-kaca.


Moranno tertegun sejenak melihat mata isterinya itu.


"Ada apa sayang?" Tanya Moranno lembut sambil mengusap air bening yang mengalir disudut-sudut mata Yurina.


"Terima kasih.... Untuk semua perhatian dan kasih sayangmu, juga cintamu padaku dan bayi-bayi kita. Aku tidak tahu bila kau tak ada untukku... Apa jadinya diriku..." Kata Yurina masih menangis.


"Tidurlah, aku akan selalu ada disampingmu sayang untuk menjagamu." Kata Moranno sambil berbaring disisi Yurina. Ia membelai rambut Yurina dengan lembut hingga beberapa menit berlalu akhirnya Yurina pun tertidur pulas dalam pelukannya.


Moranno memandang wajah lelah Yurina yang telah terrtidur. Wajah itu dinodai oleh beberapa luka lebam. Juga luka gores yang mengotori kulit kaki dan tangannya.


Dengan hati-hati Moranno melepaskan pelukannya, ia bangkit dari ranjang pasien.


Moranno berjalan kearah kotak obat untuk mengambil salep. Dengan sangat hati-hati Moranno mulai mengoleskan salep pada luka-luka Yurina.


Jam dinding diruang inap menunjukan jam sembilan malam, saat Moranno baru saja menyelesaikan kegiatannya merawat Yurina.


Ia lalu segera membersihkan tubuhnya dikamar mandi yang ada didalam ruang rawat inap Yurina isterinya.

__ADS_1


__ADS_2