
Setelah beberapa saat keduanya saling bertatapan satu sama lain. Margareth berusaha berdiri tegak dengan memegang erat lengan dokter Randiasa.
"Plaakkk....." Tamparan keras Margareth bersarang dipipi dokter Randiasa, membuat wajah dokter itu berpaling kelain arah.
"Dokter sengaja 'kan melakukannya?" Tuduh Margareth dengan napas sedikit memburu, wajahnya terlihat marah.
Dokter Randiasa menyentuh pipinya yang terasa panas. Ia tidak menduga Margareth melakukan hal itu padanya. Wanita itu, yang biasanya selalu berusaha bersikap lembut dan manis padanya, kini semuanya sudah berubah.
"Maafkan aku dokter Margareth. Aku tidak bermaksud memelukmu, aku hanya berusaha menahan tubuhmu supaya kau tidak terjatuh." Dokter Randiasa berusaha memberi penjelasan.
Margareth yang sudah terlanjur kesal, langsung berbalik meninggalkan tempat itu. Matanya tidak sengaja menangkap basah para suster yang sedang memperhatikan dirinya dan dokter Randiasa.
Para suster yang menyadari hal itu pura - pura tidak melihat. Mereka segera membawa pasien ketempat lain untuk menikmati udara taman yang segar.
Dokter Randiasa yang semula hendak menyusul Margareth segera mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin para suster itu nantinya akan salah paham, bisa - bisa terjadi gosip yang tidak diharapkan dikalangan tenaga medis di rumah sakit itu.
...•••...
Jam dinding kamar Margareth sudah menunjukan pukul 23.00 tepat. Margareth masih setia menunggu balasan pesannya yang belum dijawab oleh Harry tunangannya semenjak siang tadi.
Dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan, akhirnya untuk pertama kalinya Margareth menekan nomor Harry dan menelponnya.
Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban. Margareth mengulang panggilannya untuk kedua kalinya, hingga beberapa detik berlalu, masih tidak diangkat. Margarerh menyimpan ponselnya diatas meja riasnya.
Ia kembali berbaring, menarik selimut hingga kelehernya, dan berusaha memejamkan matanya. Namun bayangan Harry selalu memenuhi pikirannya, membuat dirinya tidak bisa terlelap barang semenit. Margareth terus bolak - balik ditempat tidurnya hingga pagi menjelang.
Wanita itu menatap ke arah jam dinding dikamarnya, sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ia berusaha untuk tidur, tapi matanya tidak mau diajak berkompromi. Ingatannya akan Harry, itu yang membuatnya tidak bisa terridur dimalam itu.
Ada apa dengan pria itu? Kenapa 8 hari ini ia tidak ada kabar? Pikir Margareth. Apa mungkin ia teramat sibuk, hingga tidak punya waktu mengangkat telepon atau sekedar membalas pesannya? Atau, mungkin kah ia benar - benar melakukan seperti apa yang telah ia ucapkan saat terakhir mereka bertemu, sesaat sebelum dirinya pulang ke Singapura.
Margareth bangkit dari tempat tidurnya menuju meja riasnya. Ia menatap wajahnya pada pantulan cermin, tidak ada cahaya disana, bahkan kantung matanya terlihat menggantung seperti mata pànda.
Diaraihnya kalender duduk yang berada disudut meja riasnya. Ia mengambil spidol dari laci meja riasnya lalu melingkari tanggal untuk menandai. Dikalender itu sudah ada 8 lingkaran. Ia meletakan kembali kalender duduk yang dipegangnya pada tempatnya semula.
Dengan langkah gontai, Margareth menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya disana. Tidak seperti biasanya, hari ini kulitnya terasa begitu dingin saat air menyentuh beberapa bagian kulitnya. Ia lalu menekan pengaturan air hangat pada shower. Untuk beberapa saat ia menikmati guyuran air hangat pada tubuhnya, membasahi mulai ujung rambut hingga kakinya.
__ADS_1
Setelah berpakaian rapi dan bersiap berangkat kerumah sakit, Margareth menuju meja makan untuk sarapan pagi seperti biasanya. Ia membuat segelas susu hangat dan mengolesi sepotong roti yang sudah ia panggang dengan selai kacang.
Hari ini, roti itu terasa begitu hambar, demikian juga dengan susu digelasnya. Namun, mengingat tentang kesehatan dirinya yang harus ia jaga, dan tanggung jawabnya merawat para pasiennya, Margareth memaksakan dirinya menghabiskan sarapan paginya itu.
Kediaman Margareth nampak sepi, karena ia tinggal seorang diri tanpa menggunakan jasa asisten rumah tangga. Ia melakukan itu, karena sangat jarang berada dirumah. Sepanjang hari ia harus berada dirumah sakit, hanya malam hari saja ia berada dirumah, itupun jarang terjadi. Bila ada telepon dari rumah sakit atau keluarga pasien, ia harus gerak cepat untuk menuju tujuan. Begitulah kehidupan yang dijalani oleh Margareth. Ia sangat totalitas dalam menjalani profesinya sebagai seorang dokter spesialis saraf.
Margareth menuju mobil yang ada di garasi rumahnya. Saat ia membuka pintu mobilnya, Margareth menghentikan sejenak gerakannya saat ingin masuk, kembali terlintas bayangan Harry yang duduk dibelakang kemudi mobil miliknya itu. Gaya elegan dan sikap tenang Harry kembali teringat oleh Margareth.
Margareth meraup wajahnya kasar dengan kedua tangannya, berusaha membuang bayang - bayang Harry yang selalu muncul setiap saat dibenaknya.
Ia lalu menghempaskan dirinya duduk dibelakang kemudi dan segera memanaskan mesinnya.
"Kenapa? Kenapa hanya bayanganmu saja yang selalu hadir tuan Harry?" Ucap Margareth yang lebih mirip dengan keluhan.
"Kenapa kau tidak membalas pesanku?" Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Atau kah kau terlalu sibuk pada pekerjaanmu?"
"Aku saja masih sempat menjawab telepon dan pesanmu? Tapi kenapa kau tidak tuan Harry?" Margareth masih membuat pertanyaan demi pertanyaan untuk dirinya sendiri.
"Apakah ini caramu untuk membalasku? Membalas atas kesalahan yang telah aku lakukan, memeluk dokter Randiasa didepan matamu?"
Margareth menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan garasi rumahnya. Ia berhenti didepan pintu pagar, lalu keluar dari mobilnya dan membuka pagar untuk dirinya sendiri. Lalu kembali lagi kemobil dan menjalankan mobilnya kembali untuk mengeluarkanya dari pagar rumahnya.
Kembali Margareth menghentikan mobilnya saat sudah berada diluar pagar, ia keluar dan menutup rapat pagar rumahnya lalu masuk kembali kedalam mobilnya dan duduk didalam kemudi.
Itulah kegiatan rutin yang harus ia lakukan seorang diri setiap akan berangkat atau mau pulang kerumahnya.
Margareth kembali menjalankan mobilnya perlahan hingga menuju pos jaga security.
Security mengangkat portal untuk mempersilahkan mobil Margareth melintas. Setelah membunyikan klakson saat melintas, Margareth lalu menambah kecepatan mobilnya melintas jalan raya yang masih sepi.
Pukul 06.30, Margareth sudah tiba di rumah sakit tempat ia berkerja. Ia mengerjakan beberapa berkas yang menjadi jadwal kerjanya hari itu, memeriksa perkembangan pasiennya setiap hari lewat catatan - catatan yang telah dibuat oleh suster.
Margareth kembali memeriksa ponselnya. Masih belum ada pesan balasan dari Harry. Margareth mendesah pelan. "Apa yang sedang kau lakukan sekarang tuan Harry?" Tanya Margareth pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau tidak mau membalas pesanku? atau menelponku seperti biasanya?" Margareth kembali mendesah pelan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku coba lagi....." Margareth lalu kembali menulis pesan sama seperti yang kemarin.
Baru saja ia selesai mengirimkan pesan diponselnya, terdengar suara ketuakan pintu diruang kerjanya.
"Masuklah....." Ucap Margareth sambil memandang kearah pintu.
Seorang suster masuk saat pintu telah terbuka, ia menghampiri Margareth dimejanya dengan tergopoh - gopoh.
"Ada apa suster?" Tanya Margareth masih menatap wajah sang suster.
"Pasien..... ibu Miar.....dia menangis terus, dari beberapa jam yang lalu hingga membuat napasnya sesak dokter....." Sahut sang suster.
"Sudah dipasang oksigen?" Tanya Margareth lagi.
"Sudah dok.... ia terus mencari putranya." Terang suster itu.
"Baiklah, saya akan segera kesana." Margareth segera menyimpan ponselnya dalam tasnya, ia llalu mengenakn baju dinasnya dan segera bergegas menyusul suster yang sudah lebih dulu menuju ruang rawat pasien.
♡♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras ulet sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
♡♡♡
__ADS_1