
"Apakah Moranno tahu masalah yang terjadi dikantor sekarang?" Ucap nyonya Agatsa dengan suara lemahnya yang hampir tidak terdengar.
Yurina menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya Moranno tidak perlu tahu dulu, ia masih dalam perawatan." Ucap nyonya Agatsa sambil menatap kelangit - langit kamar.
"Yurina, pulanglah.... disini berbahaya. Uruslah suami dan anak - anakmu dirumah." Perintah nyonya Agatsa sambil menatap Yurina yang tengah memandang kearahnya.
"Tuan Moranno sedang terapi bersama dokter Margareth. Dan Bayi Billy juga bayi Willy sudah saya antar pulang dari imunisasi di dokter Rosalie."
"Saya ada disini untuk anda nyonya besar. Bila anda mengkhawatirkan kami, takut terjadi apa - apa pada kami.... Kamipun mengkhawatirkan anda nyonya besar."
"Bila anda mengatakan disini berbahaya untuk saya dan memerintahkan saya pulang. Maafkan saya nyonya besar, saya tidak akan pulang dan membiarkan anda menghadapi bahaya itu seorang diri."
"Kau..... keras kepala sekali....." Gerutu nyonya Agatsa dengan suara lemahnya.
"Aku saja tidak mampu menghadapi mereka, apalagi kau.... Kemampuan apa yang kau miliki hingga kau memiliki nyali sebesar itu. Lebih baik kau pulang sekarang. Ini perintahku, ibu suamimu." Ucap nyonya Agatsa dengan nada memerintah.
"Maafkan saya nyonya besar, saya akan tetap disini bersama nyonya besar. Saya mungkin tidak memiliki kemampuan seperti yang anda harapkan nyonya besar. Tak ada rotan, akar pun jadi. Seperti itulah diri saya, perlakukanlah pada diri saya yang nyonya besar anggap baik. Asal jangan meminta saya pulang meninggalkan nyonya besar, itu tidak akan mungkin saya lakukan." Ucap Yurina tak bergeming.
Tok....
Tok....
Tok....
Yurina dan nyonya Agatsa sama - sama menatap kearah pintu.
"Saya asisten Rudi nyonya besar dan nyonya muda...." Terdengar suara dari balik pintu kamar yang tertutup.
"Suruh masuk....." Perintah nyonya Agatsa pada Yurina masih dengan suara lemahnya.
"Masuklah asissen Rudi.....!" Kata Yurina setengah berteriak.
Asisten Rudi masuk sambil membungkuk hormat.
"Maafkan saya nyonya besar, telah mengganggu istirahat anda."
__ADS_1
"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan....." Ucap nyonya Agatsa yang masih berbaring dipembaringannya.
"Para pendemo itu menginginkan owner Agatsa Grup menemui mereka dihalaman kantor dan meminta tuntutan mereka dipenuhi." Jelas asisten Rudi.
"Tapi keadaan nyonya besar tidak memungkinkan untuk menemui para pegawai pendemonstran itu asisten Rudi." Ucap Yurina khawatir pada ibu mertuanya itu.
"Iya, saya mengerti nyonya muda. Tapi mereka tetap memaksa untuk bertemu mulai tadi pagi." Ucap asisten Rudi.
Yurina melangkah keluar kamar dengan bergegas.
"Dokter Herman, masuklah.... Tolong periksa kesehatan nyonya besar, apakah memungkinkan untuk menemui para pendemo itu." Panggil Yurina lalu berbalik kembali masuk kedalam kamar diikuti dokter Herman.
Dokter Herman lalu memeriksa kembali keadaan nyonya Agatsa menggunakan stetoskopnya. Yurina memperhatikannya untuk menunggu hasilnya.
"Bagaimana dokter?" Tanya Yurina menatap wajah dokter Herman.
"Kondisi nyonya besar sangat tidak memungkinkan beliau menemui para pendemo itu, saya khawatir bila dipaksakan akan berakibat fatal." Jelas dokter Herman, wajahnya nampak sedikit tegang.
Nyonya Agatsa melihat kearah layar televisi yang ada didinding kamar itu, terlihat aksi - aksi pendemo itu anarkis. Nyonya Agatsa seolah tidak percaya bila para pegawai yang berkerja diperusahaannya mampu melakukan hal seperti itu.
Napasnya tiba - tiba terasa begitu sesak, membuat dokter Herman yang mengawasinya sejak tadi segera bertindak memasang ventilator oksigen.
"Yurina....." Panggil nyonya Agatsa.
"Iya nyonya besar......" Sahut Yurina dengan hormat.
"Kenapa kau masih disini. Bukankah aku memerintahkanmu untuk pulang. Apa kau tidak mau patuh pada perkataanku?"
"Maafkan saya nyonya besar..... Saya tidak akan membiarkan nyonya menghadapainya seorang diri. Saya akan tetap disini bersama nyonya. Dan saya akan pulang, bila nyonya ikut pulang bersama saya."
"Apakah kau berusaha menunjukan bahwa dirimu adalah menantu yang berbakti?" Perkataan pedas yang dilontarkan oleh nyonya Agatsa membuat Yurina menelan salivanya dengan susah payah.
"Anda benar nyonya besar.... Saya memang ingin menunjukan pada nyonya bahwa saya adalah menantu yang berbakti."
" Bahkan lebih dari itu....."
"Saya cinta putra nyonya besar, saya sayang pada anak - anak yang saya lahirkan dari putra nyonya besar, saya sayang pada nona Margareth, dan saya juga sayang pada anda nyonya besar, yang saya hargai dan hormati sebagai ibu saya sendiri."
__ADS_1
"Jadi apapun yang dihadapi keluarga Agatsa, saya pun akan menghadapinya, karena saya adalah bagian dari keluarga Agatsa......" Ucap Yurina dengan percaya diri.
"Baiklah..... Bila kau yang memaksa..... Jangan salahkan aku.... Aku ingin kau membuktikan setiap ucapanmu itu. Sekarang juga kau temui para pendemo itu, aku ingin lihat apakah keberanianmu itu sesuai dengan ucapanmu itu." Ucap nyonya Agatsa memberi tantangan.
Yurina kembali menelan salivanya dengan susah payah. Ia tidak menyangka ibu mertuanya itu berkata seperti itu padanya.
"Baik, akan saya lakukan nyonya besar....." Sahut Yurina menyanggupi.
"Pergilah....." Perintah nyonya Agatsa pada Yurina.
"Terima kasih atas kepercayaan yang nyonya besar berikan pada saya, saya akan berusaha melakukan yang terbaik." Ucap Yurina, lalu berdiri dan membungkuk hormat sebelum pergi.
Nyonya Agatsa menatap Yurina yang pergi bersama asisten Rudi.
"Nyonya besar..... Maafkan saya, bukannya saya ingin mencampuri keluarga anda, saya hanya merasa kasihan pada nyonya muda. Saya jarang sekali melihat anda memperlakukannya dengan lembut. Mengapa anda begitu keras pada menantu anda sendiri nyonya." Kata dokter Herman saat Yurina dan asisten Rudi menghilang dibalik pintu.
"Dokter Herman, anda sudah lama menjadi dokter keluarga Agatsa, sedikit banyak anda sudah mengenal karakter saya. Saya punya alasan sendiri melakukan semuanya itu."
"Anda lihat, bagaimana dia menerima semua perkataan yang saya lontarkan padanya. Sepertinya ia memiliki hati yang begitu kuat, bila wanita biasa, sudah lama ia akan melarikan diri dari keluarga Agatsa dokter. Kita lihat saja, apa yang bisa ia lakukan dokter."
Dokter Herman mengangguk - anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Nyonya Agatsa menatap kearah layar televisi demikian juga dokter Herman.
"Nyonya besar..... Apa anda tidak terlalu berlebihan, menantu anda sedang menyusui cucu - cucu anda nyonya. Bila ia turut memikirkan masalah ini, saya khawatir ini akan mempengaruhi produksi ASI nyonya muda." Kata dokter Herman memperhatikan layar televisi dengan perasaan tegang.
Nyonya Agatsa menatap layar televisi dengan tatapan tidak berkedip.
"Dokter Herman.... Seorang anggota keluarga Agatsa dituntut menjadi seseorang yang tidak manja. Mampu berdiri dikakinya sendiri. Putriku Margaret, dahulunya berlaku sesuka hatinya saja, kini dia telah kembali dan menjadi seseorang yang berbeda. Dia sanggup berdiri dikakinya sendiri tanpa mengandalkan nama besar keluarga Agatsa."
Dokter Herman menoleh sejenak kearah nyonya Agatsa yang masih menatap layar televisi dengan penuh perhatian.
Ia merasa apa yang dilakukan nyonya Agatsa itu terlalu keras dan lebih memaksakan keadaan.
Yurina, seorang wanita dari kalangan biasa, belum berpengalaman menghadapi masalah yang sebesar itu pikirnya
Dokter Herman hanya bisa mengambil napas dalam - dalam dan menghempaskannya kembali saat mengingat akan apa yang harus dihadapi Yurina.
__ADS_1
***