
"Tuan dan nyonya, jadwal selanjutnya... Jumpa Pers."
"Para wartawan sudah menunggu mulai pagi". Kata asisten Rudi kembali membacakan jadwal Moranno dan Yurina selanjutnya.
"Baik, kita menuju kesana." Kata Moranno yang baru saja keluar bersama Yurina isterinya dari ruang pertemuan para pemegang saham dan dewan direksi.
Yurina yang mendengar perkataan kedua pria itu hanya bisa pasrah. Dua acara yang baru saja ia hadapI masih menyisakan kegugupan, sekarang harus bertemu para wartawan. sedangkan Yurina tidak pernah membayangkan bila dirinya akan ada didepan kamera dan menjadi topik pembicaraan, apalagi dalam skala luas, OMG.
Kepala wanita itu mulai berdenyut membayangkan semuanya itu. Kakinya tetap melangkah mengikuti langkah suaminya yang berjalan disisinya dengan masih menggandeng tangannya memasuki lift pribadi Moranno menuju lantai satu dimana Jumpa Pers akan dilakukan.
"Apa kau baik - baik saja?" Kata pria itu saat melihat wajah sang isteri yang terlihat masih gugup.
"Iya, aku... Aku baik - baik saja." Kata Yurina berusaha menyiapkan dirinya untuk acara yang menantinya dibawah sana.
"Ting tong..."
Begitu lift pribadi CEO terbuka, semua pasang mata menatap kearah dalam lift.
Sorot kamera para wartawan mengiringi langkah Moranno dan Yurina keluar lift menuju podium, sementara asisten Rudi berhenti didekat pintu lift menanti kedua tuannya itu disana. Lampu kamera para wartawan yang berkedap - kedip seolah berlomba mengambil gambar orang nomor satu di Agatsa Properti Grup tersebut.
"Tuan Moranno, apa penjelasan anda mengenai pernikahan anda yang tiba - tiba?" Tanya seorang wartawan antusias.
"Apa benar nona Yurina menggoda anda dipesta ulang tahun perusahaan anda?" Serbu seorang wartawan lagi.
"Menurut pemberitaan satu media cetak, nona Yurina melakukan semuanya untuk menaikan statusnya dari cleaning service menjadi nyonya muda keluarga Agatsa, apa benar demikian tuan Moranno?"
"Nona Yurina sengaja memasukan obat perangsang dalam minuman, untuk mendapatkan tuan..."
Semua yang didengar Yurina secara langsung dari pertanyaan - pertanyaan yang dilontarkan para wartawan tersebut membuat tubuh Yurina yang sedang duduk bersama Moranno didepan kamera mulai limbung, kepalanya semakin berdenyut.
"Cukup...." Kata Moranno tiba - tiba menghentikan pertanyaan para wartawan yang bertubi - tubi.
"Pada Jumpa Pers ini saya menegaskan... Bukan nona Yurina, tetapi nyonya Yurina Moranno Agatsa. Dan dia adalah isteri yang telah saya nikahi secara sah."
"Semua pemberitaan yang beredar itu tidak benar. Saya harap pemberitaan yang bersipat penyerangan pada pribadi isteri saya segera dikoreksi untuk mendapatkan kebenarannya dari sumner yang benar. Karena saya ingin media - media tersebut meminta maaf untuk membersihkan nama isteri saya tanpa diminta."
"Karena disini kami adalah korban." Kata Moranno lagi.
"Apa maksud pernyatan tuan ' kami adalah korban'? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi di perusahaan tuan sendiri? Tanya seorang wartawan menyelidik.
Belum sempat Moranno menjawab pertanyaan sang wartawan, Yurina tiba - tiba ambruk disampingnya, keadaan langsung terlihat kacau.
Para wartawan yang melihat semuanya itu tak lupa mengambil gambar tentang peristiwa itu.
"Asisten Rudi, siapkan kendaraan." Kata Moranno memberi perintah pada asistennya.
Moranno segera mengendong isterinya itu ke mobil, lalu segera melarikannya ke Agatsa Hospital.
***
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Moranno yang tampak khawatir.
"Dia kelelahan... Dan juga stress." Kata dokter Rosalie yang baru saja selesai memeriksa keadaan Yurina.
"Perutnya kosong, apa kau lupa memberi dia makan? hmmm?" Tanya sang dokter seraya memelototkan matanya ke wajah Moranno.
Moranno lalu menepuk jidadnya sendiri sambil memejamkan matanya sejenak saat mendengar perkataan dokter Rosalie yang juga adalah sahabatnya.
__ADS_1
"Aakkhh, maafkan aku. Aku sungguh lupa."
"Lupa kenapa?" Tanya dokter itu lagi.
Moranno lalu menceritakan segala kegiatannya bersama Yurina hari ini, mulai dari keberangkatan dirinya bersama Yurina tadi pagi dari villa hingga mereka Jumpa Pers yang diakhiri dengan pingsannya isterinya itu.
"Astaga Moranno, kegiatan sepadat itu kau paksakan pada isterimu. Dia bukan dirimu yang sudah terbiasa melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat, apalagi sekarang dia sedang mengandung."
"Ditambah kau membawanya menjumpai para wartawan. Aku saja yang membaca berita kalian yang selama satu minggu ini menjadi berita utama merasa sangat tak nyaman, apalag isterimu yang diserang langsung dalam pemberitaan - pemberitaan itu."
"Apa kau tak berpikir itu bisa berpengaruh pada kejiwaannya, itu sangat berbahaya pada kondisi kehamilannya sekarang." Kata sang dokter memarahi sahabatnya itu.
"Kau benar."
"Tapi aku hanya berusaha untuk melatih mentalnya." Katanya memberi alasan.
"Maksudmu itu baik, aku mengerti... Tapi perhatikan kondisinya. Apa kau tak sayang pada bayi - bayimu dan ibunya itu?" Kata sang dokter penuh penekanan.
"Tentu saja aku menyayangi....." Moranno tak berani melanjutkan kata - katanya.
"Kalau sayang, katakan sayang, buat apa kau sembunyikan." Tegas dokter Rodalie ketus pada sahabatnya itu.
"Sekarang, tunggulah isterimu sadarkan diri, lalu segera bawa dia makan dan biarkan dia beristirahat."
"Dan ingat, kau harus rajin memeriksakan kandungan isterimu itu sesuai jadwal yang telah kuberikan padamu."
"Aku permisi dulu, ada pasien yang sedang menunggu." Dokter Rosalie segera bergegas.
"Baiklah... terima kasih." Kata Moranno sambil mengantar dokter Rosalie hingga didepan pintu ruang perawatan Yurina isterinya.
"Kenapa kita ada disini? Tanya Yurina heran.
"Kau tadi tak sadarkan diri, jadi aku mengantarkan mu ke rumah sakit ini. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Moranno sambil mengamati wajah isterinya itu.
"Aku baik saja... Tapi... Aku lapar sekali..." Kata Yurina sedikit malu.
"Baiklah... Ayoo...." Moranno lalu membantu Yurina untuk bangkit dari pembaringan.
Lalu mereka mampir ke kasir terlebih dahulu untuk menyelesaikan adminstrasi.
"Mau makan apa?" Tanya Moranno pada isterinya itu saat keduanya berjalan menuju parkiran rumah sakit.
"Apa saja..." Kata Yurina singkat.
Moranno membuka pintu mobil dan mempersilahkan isterinya itu masuk. Ia pun buru - buru masuk dari pintu sebelahnya lagi dan duduk di belakang kemudi.
Tak lupa Moranno memasang sabuk pengaman untuk isterinya itu, aroma tubuhnya kembali membuat debaran - debaran halus di dalam rongga dada wanita itu. Tapi kali ini ia tak menahan napasnya lagi, ia bahkan menikmatinya sambil memejamkan matanya. Menghilangkan kegalauan hatinya, saat mengingat semua yang terjadi dalam satu hari ini.
"Kau kenapa?" Tanya Moranno yang melihatnya saat sedang memasang sabuk pengamannya sendiri.
"Ti... Tidak kenapa - kenapa." Jawab Yurina terbata - bata, wajahnya sedikit memerah, merasa malu aksinya ketahuan.
Mobil itu pun merayap perlahan meninggalkan area rumah sakit, jalan yang begitu ramai disore itu membuat perjalanan mereka sedikit terhambat. Moranno membelokan mobilnya memasuki area restoran terdekat.
Moranno segera keluar dari mobilnya, lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkan isterinya itu keluar. Keduanya lalu memasuki restoran.
Beberapa pasang mata pengunjung melihat kedua pasangan itu, bagi mereka tak asing melihat Moranno dan Yurina, karena beberapa hari terakhir wajah mereka memenuhi halaman depan media - media cetak dan elektronik.
__ADS_1
Moranno yang menyadari akan tatapan para pengunjung restoran itu segera menggandeng tangan Yurina untuk mengikutinya ke ruang VVIP.
Pelayan lalu datang untuk mencatat menu pesanan tamunya. Lalu segera bergegas kembali untuk menyiapkan semua pesanan.
Yurina meraih media cetak yang diletakan diatas meja, ada photonya dan Moranno yang terpampang besar memenuhi halaman depan dengan bertuliskan 'CARA GADIS CLEANING SERVICE NAIK STATUS."
Kepala Yurina kembali berdenyut. Moranno yang melihatnya langsung merampasnya dari tangan isterinya itu dan meletakkannya di bawah meja.
"Kau tak perlu membaca yang seperti itu, mengerti?" Kata Moranno sambil menatap Yurina yang tengah duduk di sebelahnya.
Wajah wanita itu sedikit pucat. Bening air mata bergulir disudut matanya. Hati Moranno tiba - tiba terasa sakit melihatnya.
"Maafkan aku... Aku telah menyusahkanmu." Kata Moranno lembut, tangannya menghapus sisa butiran air mata yang sempat terjatuh itu.
Yurina tak berkata apapun, hanya anggukan kepalanya yang lemah. Sikap baik Moranno padanya sangat membantu menghibur hatinya yang terasa sakit atas semua pemberitaan yang tak benar itu.
Pelayan tiba membawa menu pesanan mereka, dan menyajikannya di atas meja.
"Ayoo dimakan..." Kata Moranno sambil mengambil piring dan mau menyuapkan pada isterinya itu.
"Aku bisa sendiri, kau makan lah juga." Kata Yurina sambil meraih piring yang dipegang Moranno suaminya itu.
Yurina yanģ merasa sangat lapar lalu melahap makanannya. Moranno sejenak memperhatikan isterinya itu menikmati makanannya. Lalu ia pun mulai pokus menikmati makanannya yang berada dihadapannya.
"Boleh aku tambah lagi?" Kata Yurina menatap ke arah suaminya agak ragu.
Moranno sempat terpana saat melihat makanan di piring - piring saji sudah bersih.
"Kenapa? Maafkan aku, aku masih lapar." Kata Yurina saat melihat Moranno menatap piring - piring saji di atas meja dengan ternganga.
"Ti... Tidak. Tunggu sebentar." Moranno menekan bel untuk memanggil pelayan. Pelayan segera datang menghampiri.
"Tolong siapkan seperti pesanan yang tadi." Kata Moranno pada pelayan.
"Baik tuan." Pelayan segera bergegas sambil membawa piring - piring yang sudah kosong.
Tak lama pelayan sudah kembali membawa pesanan dan menyajikannya kembali di atas meja.
Yurina segera melahap makanannya kembali. Moranno kembali terpana melihat isterinya yang sedang menikmati makanannya, ia sedikit tersenyum, setidaknya selera makan isterinya itu tidak terganggu walau banyak hal yang telah terjadi dihari itu.
Tak menunggu lama, piring - piring saji yang berisi makanan kembali bersih.
"Apa perutmu tidak sakit? Tanya Moranno saat isterinya itu telah menyelesaikan makannya.
"Tidak." Jawab Yurina singkat.
"Baiklah, ayoo kita pulang." Moranno membayar tagihan di kasir.
Beberapa pasang mata pengunjung kembali memperhatikan keduanya. Moranno bergegas menggandeng tangan isterinya untuk segera keluar dari restoran itu menuju ke mobil.
Moranno membuka pintu mobil dan mempersilahkan isterinya itu masuk lalu segera menutupnya rapat. Dan bergegas membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri dan duduk dibelakang kemudi.
Moranno menurunkan sandaran jok mobil isterinya itu, lalu memasang sabuk pengamannya.
Hari sudah mulai gelap, saat mobil yang di kendarai Moranno dan Yurina meninggalkan area restoran. Lalu lintas begitu padat membuat jalanan macet. Bunyi klakson saling bersahut - sahutan.Moranno tetap pokus pada jalan yang ada dihadapannya.
***
__ADS_1