
Margareth duduk termangu dikursi sofa ruang keluarga menatap kartu undangan pesta pernikahan dirinya dan Harry. Dirinya terlihat begitu bahagia berada disisi Harry pada fhoto prewed itu. "Andai saja fhoto itu melukiskan kenyataan yang sebenarnya, tentu saja aku sangat bahagia. Apa yang kau lakukan sekarang tuan Harry? Aku merindukanmu...." Gumam Margareth sambil mengusap fhoto Harry yang berada dibelakang fhoto dirinya.
Ia memang merasa belum pernah melakukan pemotretan prewedding bersama tunangannya itu, tapi kenapa fhoto prewwdd itu bisa ada dan dijadikan sampul pada kartu undangan pesta pernikahannya bersama Harry yang tinggal menghitung hari saja.
Fhoto prewed yang sedang memperlihatkan posisi tubuhnya yang sedang bersandar pada dada Harry mirip sekali dengan fhotonya yang sedang bersandar pada salah satu pohon yang ada ditaman samping rumah besar ibunya itu beberapa bulan yang lalu sebelum ia pulang kekota tempat ia berkerja sebagai dokter.
"Apakah kau suka dengan sampul undangan pesta pernikahanmu adik ipar??" Tanya Yurina tiba - tiba, yang baru datang bersama nyonya Agatsa menghampirinya.
"Iya kakak ipar..... ini sangat bagus......" Sahut Margareth yang masih menatap sampul undangan yang ada ditangannya.
"Syukurlah kalau kau menyukainya adik ipar. Kak Harry juga sama sepertimu, dia sangat menyukainya juga......" Hati Margareth kembali terasa begitu perih seperti ditusuk sembilu saat mendengar nama Harry disebutkan oleh Yurina. Ia berusaha menahan hatinya untuk tidak memperlihatkan wajah marah sedihnya saat mendengar nama tunangannya itu.
"Kakak ipar..... Bagaimana photo prewed ini bisa ada dan menjadi sampul undangan pesta pernikahan ini? Aku merasa belum pernah melakukan pemotretan prewedding dengan tuan Harry." Tanya Margareth sambil mengernyitkan keningnya menatap wajah Yurina yang duduk disampingnya."
"Oh itu.....sebelumnya, maafkan kami adik ipar. Karena kau dan juga kak Harry terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian masing - masing, jadi aku dan mommy berinisiatif datang kestudio fhoto langganan kita dan membawa fhotomu yang pernah berpose bersandar dipohon taman samping menggunakan ponselku. Aku juga meminta fhoto kak Harry. Jadilah seperti di sampul undangan ini....." Ucap Yurina tersenyum lebar tanpa beban.
"Sekarang bersiaplah, aku dan mommy sudah memesankanmu beberapa gaun pernikahan, nanti kau bisa memilihnya sesuai keinginanmu adik ipar." Ucap Yurina lagi dengan penuh semangat.
"Yurina, sebelum kau mengajaknya kebutik untuk melihat gaun pernikahan, tanyakan dulu padanya, apakah dia kemari siap untuk menikah atau tidak?" Ucap nyonya Agatsa menyela obrolan antara Yurina dan Margareth.
Yurina menatap wajah ibu mertuanya dan Margareth secara bergantian, wajahnya terlihat bingung.
"Apa maksud mommy? Adik ipar pasti siap menikah, itu sebabnya ia datang kemari untuk mempersiapkan diri, apalagi semua kartu undangan sudah kita kirimkan kesemua yang kita undang. Bukan begitu adik ipar, kau pulang karena mempersiapkan diri untuk menikah kan??" Tegas Yurina menatap Margareth yang duduk disisinya.
"Hm.... iya kakak ipar......" Sahut Margareth dengan memaksa senyumnya saat Yurina menatap lekat wajahnya.
__ADS_1
"Apakah kau tidak akan berubah pikiran lagi?" Nyonya Agatsa kembali bersuara dan menatap datar kearah putrinya.
"Aku siap menikah mom....." Sahut Margareth singkat, namun matanya melihat kearah lain tanpa mau menatap wajah ibunya yang masih menatapnya datar.
"Kalau begitu, ayo kita segera bersiap adik ipar..... Aku sudah tidak sabar melihatmu mengenakan gaun pengantin yang telah aku dan mommy pesan." Ucap Yurina girang. Ia bergegas berdiri menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Sementara Margareth dan nyonya Agatsa masih duduk ditempatnya masing - masing.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran Margareth?" Suara datar nyonya Agatsa kembali terdengar. Ia menatap wajah putrinya yang duduk berseberangan dengan dirinya tanpa mau menatap dirinya.
"Margareth..... hanya tidak ingin mempermalukan keluarga kita, juga keluarga tuan Harry bila pernikahan yang hanya menghitung hari ini dibatalkan begitu saja mom....." Sahut Margareth dengan suara yang sedikit terdengar serak.
Nyonya Agatsa mematung mendengar ucapan putrinya itu.
"Tidak mengapa Margareth mengesampingkan perasaan Margareth saat ini mom..... Margareth tidak ingin seperti dulu lagi.... sering mengecewakan mommy dan keluarga kita, namun hasilnya, Margareth tetap dikecewakan oleh orang yang Margareth cintai. Kali ini, sekalipun Margareth tidak yakin akan pernikahan ini, Margareth tetap akan menjalaninya. Margareth sudah memikirkannya baik - baik. Bahkan semua kemungkinan - kemungkinan buruk yang terjadi akibat pernikahan ini, Margareth juga sudah siap menerimanya mom." Nyonya Agatsa beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri putrinya yang terlihat sedih. Dengan penuh rasa kasih sayang nyonya Agatsa memeluk putrinya itu dengan erat. Ia dapat merasakan ada sesuatu beban berat yang sedang dipikirkan putrinya itu.
"Beberapa minggu yang lalu..... Tuan Harry datang menemuiku dirumah sakit, dia tidak memberitahuku bahwa dirinya akan datang." Margareth memulai ceritanya. Ia berharap, ceritanya itu dapat mengurangi beban pikirannya beberapa minggu terakhir ini. Nyonya Agatsa mendengarkan cerita putrinya yang ada didalam pelukannya.
"Saat itu..... Aku melihat dokter Randiasa ada dirumah sakit tempat ku berkerja. Karena sudah sembilan tahun tidak melihatnya, aku mengikutinya dari belakang untuk memastikan bahwa pria yang kulihat itu adalah benar dokter Randiasa. Ternyata itu memang adalah dokter Randiasa. Entah kenapa, dengan bodohnya aku memeluknya dari belakang dan mengatakan bahwa aku merindukannya....." Mendengar itu, nyonya Agatsa langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Margareth dengan seketika dan menatap wajah putrinya itu dengan mimik yang sulit diartikan.
"Apa kau masih mencintai laki - laki yang sudah meninggalkanmu begitu saja Margareth??" Tanya nyonya Agatsa dengan nada penuh tekanan.
"Tidak mom.....!." Sahut Margareth tegas.
"Lalu mengapa kau memeluknya dan mengatakan bahwa kau merindukannya?" Margareth menelan salivanya saat mendengar pertanyaan ibunya yang mengejar.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu mommy..... Saat itu, aku hanya merasa suatu keajaiban bisa bertemu dengannya lagi, yang telah menghilang sembilan tahun tanpa berita. Aku juga sudah menguji hatiku, perasaan cinta itu sudah tidak ada lagi untuknya. Karena aku..... mulai menyukai tuan Harry yang selalu memberi perhatian padaku." Suara Margareth terdengar sedih saat menyebutkan nama Harry. Nyonya Agatsa kembali memberi pelukan hangat pada putrinya itu, ia mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Apa yang kulakukan dengan dokter Randiasa itu.... ternyata semuanya dilihat oleh tuan Harry, termasuk saat aku mengatakan bahwa aku merindukan dokter Randiasa, tuan Harry juga mendengarnya....." Nyonya Agatsa terkesiap. Serta - merta ia melepaskan pelukannya lagi dari tubuh putrinya itu. Wajahnya nampak begitu tegang mendengar cerita Margareth.
"Lalu apa respon tunanganmu itu Margareth?" Tanya nyonya Agatsa masih dengan wajah tegangnya.
"Tuan Harry malah memintaku untuk memperkenalkan dirnya pada dokter Randiasa. Namun karena aku masih merasa kikuk, karena tertangkap basah olehnya memeluk dokter Randiasa. Jadi tuan Harry sendiri yang memperkenalkan dirinya pada dokter Randiasa, bahwa dirinya adalah tunanganku mom, bahkan ia mengundang dokter Randiasa untuk hadir dalam pernikahan kami." Nyonya Agatsa terlihat menahan napasnya beberapa kali saat mendengar kalimat demi kalimat keluar dari mulut putrinya itu.
...•••...
♡♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras, ulet, sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
♡♡♡
__ADS_1