JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 56 "Mungkinkah cinta seaneh itu"


__ADS_3

"Bibi Nur... Apa yang bibi rasakan sekarang, apa luka-luka lebam bibi itu masih terasa sakit?" Tanya Moranno sambil memperhatikan beberapa luka lebam yang ada diwajah, tangan dan kaki bibi Nur.


"Sudah lebih mendingan hari ini tuan. Dokter dan perawat disini sangat telaten merawat dan mengobati kami sejak kemarin tuan. Seperti kata dokter tadi malam saat tuan ada disini, hari ini kami sudah bisa memberi keterangan pada pihak kepolisian."


"Terima kasih banyak bi untuk kesediaannya memberi keterangan dihadapan polisi."


"Iya tuan, anda tak perlu berterima kasih. Itu memang tugas kami, apalagi ini merupakan kelalaian kami yang tidak bisa menjaga nyonya muda dengan baik." Ujar bibi Nur yang terlihat sedih, apalagi melihat majikannya yang terlihat kusut tak terawat. Baru kali ini ia melihat majikannya seperti itu selama bekerja pada majikannya itu.


"Sudahlah bi, sekarang yang terpenting bagaimana isteriku itu segera ditemukan dan kembali dengan selamat. Aku tak bisa bayangkan bagaimana keadaannya yang sedang mengandung, enatah bagaimana mereka memperlakukannya." Bola mata Moranno terlihat memerah saat mengatakan hal itu pada pelayannya itu.


"Iya tuan, semoga nyonya muda dalam keadaan yang tetap baik. Nyonya adalah orang yang baik, Tuhan pasti memberi perlindungan dan pertolongan pada nyonya muda. Sekali lagi saya minta maaf tuan atas keteledoran kami menjaga nyonya."


"Amin.... Iya bi tidak usah dipikirkan, saya tidak menyalahkan bibi Nur dan juga pak Kasan, ini murni musibah. Justru saya berterima kasih karena ada bibi Nur dan pak Kasan bersama isteri saya, jadi penculikan ini segera diketahui."


"Bila bibi Nur sudah merasa lebih baik, bibi Nur boleh bersiap, nanti pihak kepolisian akan kemari untuk menjemput bibi dan pak Kasan. Pak Kasan sudah bersiap diluar. Saya minta maaf tidak dapat menemani kalian berdua, karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan dikantor."


"Iya tuan tidak apa-apa. Terima kasih telah mengunjungi saya dan juga pak Kasan mulai tadi malam hingga pagi ini."


"Iya bi, sama-sama. Saya permisi dulu."


"Iya tuan."


Bibi Nur memandang punggung majikannya itu yang pergi menjauh keluar dari ruang perawatannya. Bibi Nur begitu kagum melihat sikap majikannya itu yang tak menyalahkannya sedikitpun maupun juga pada pak Kasan.


Walau sebenarnya bibi Nur sangat tahu bahwa majikannya itu sangat risau dan mengkhawatirkan keadaan isterinya dan juga bayi yang ada dalam kandungannya.


"Moranno...!!"


Moranno menghentikan langkahnya saat seseorang memanggil namanya.


"Bagaimana perkembangan pencarian isterimu Moranno?" Dokter Rosalie yang baru saja berdiri didekat Moranno langsung mengeluarkan pertanyaan yang ada dihatinya.


"Belum menunjukan perkembangan lebih lanjut, semua pihak masih melakukan upayanya masing-masing." Sahut Moranno sambil memandang kearah dokter Rosalie sahabatnya.


"Aku turut prihatin, juga mendoakan segala yang baik yang bisa terjadi pada isterimu."


"Terima kasih dokter." Kata Moranno sembari berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Moranno... Aku tahu, insiden penculikan isterimu pasti sangat membuatmu hancur. Kau harus tetap bisa menjaga kesehatanmu Moranno. Dan juga jangan lupakan kebersihan, kerapian yang menunjang penampilanmu.


Kau sangat kusut, kotor dan terlihat jelek."


"Untung saja kau adalah dokter kandungan isteriku tercinta. Bila bukan, kau pasti tahu apa yang akan terjadi pada hidupmu. Pagi ini saja asisten pribadiku saja yang memberitahu tentang pakaianku tanpa mengataiku jelek seperti katamu tadi, telah kuberi SP dua."


"Apakah itu sebuah ancaman bagiku kedepannya. Aku tak perduli. Bagiku kau harus mandi dan berganti pakaian. Kau tidak pantas seperti ini Moranno. Ingat Moranno kau itu adalah CEO sekaligus pemilik Agatsa Grup. Apa kata para pegawaimu dan relasi kerjamu melihat kondisimu yang amburadul, semrawut, bau dan terlihat menyedihkan seperti ini."


"Kau.... Kau semau-maunya mengata-ngataiku seperti itu. Aku lebih tak perduli lagi, apa katamu itu, apa kata para pegawaiku, apa lagi kata para relasiku. Aku hanya perduli apa kata Yurina isteriku. Dia menyukai bau tubuhku yang belum mandi. Kau tau, dia bahkan mau berlama-lama mencium aroma tubuhku. Mulai kemarin dia belum mencium aroma tubuhku. Jadi hari ini dia masih bisa mencium bau tubuhku yang belum mandi ini saat kami bertemu nanti."


"Kau serius dengan perkataanmu itu?"


"Iya, aku sangat serius...."


"Kau tidak waras... Kau tidak waras Moranno. Kau sepertinya yakin sekali bisa menemukan isterimu hari ini. Ya, aku juga mengharapkan hal itu terjadi, ada keajaiban seperti itu untuk Yurina. Tapi bila hari ini dia tidak ditemukan, bahkan mungkin seminggu atau bahkan lebih, apakah kau masih bertahan dengan kondisi seperti ini, tidak membersihkan diri bahkan tidak menjaga penampilanmu, Yurina pasti sedih bila mengetahuinya.


"Kau salah.... Aku kenal isteriku, aku lebih tahu dirinya dari padamu."


"Terserah kau saja.... Kita lihat saja nanti.... Bila kau bertemu isterimu, dia pasti mabuk mencium aroma tubuhmu itu."


"Baik, kita buktikan saja nanti. Sekarang aku sedang ditunggu dikantor. Kita hentikan saja perdebatan ini. Kau memang belum tahu banyak tentang suami dan isteri. Ku sarankan, cepatlah menikah, supaya kau tahu apa yang kukatakan itu adalah benar."


"Kita impaskan.... Baik aku pergi dulu.... Jangan lupa, segeralah menikah dengan seorang pria." Ejek Moranno sambil berlalu.


Dokter Rosalie memandang kepergian Moranno, walau kata-kata sahabatnya itu membuatnya kesal, tapi tetap saja ia merasa kasihan pada Moranno.


"Kasihan sekali kau Moranno, banyak hal yang berat terjadi dalam hidupmu, tapi sepertinya insiden penculikan isterimu itu sangat berat bagimu hingga membuat otakmu sedikit bergeser." Gumam dokter Rosalie dalam hatinya.


"Mungkinkah cinta seaneh itu, membuat seseorang berbuat diluar nalar? Huh sungguh berlebihan, paling hanya dibuat-buat saja supaya terlihat gimana gitu..." Kata dokter Rosalie lagi pada dirinya sendiri.


"Apanya yang aneh, dan apanya yang dibuat-buat dokter?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang dokter Rosalie.


"Ah... tidak... tidak ada tuan, anda membuat saya terkejut." Kata dokter Rosalie yang merasa khawatir bila perkataannya barusan didengar orang lain.


"Maafkan saya dokter bila telah membuat anda terkejut, kebetulan saya bertemu anda disini, saya mau menanyakan apakah hari ini isteri saya sudah boleh dibawa pulang kerumah dokter.Karena mulai tadi malam ia mengatakan pada saya sangat ingin pulang kerumah."


"Baik kita lihat dahulu keadaan isteri tuan juga bayi yang baru dilahirkannya ya..."

__ADS_1


"Kalau begitu mari kita keruangan perawatan isteri saya dokter."


"Mari tuan Hartawan."


Keduanya lalu melangkah menuju ruang perawatan ibu menyusui.


Dokter Rosalie lalu memeriksa keadaan isteri tuan Hartawan dengan teliti dan berulang-ulang untuk memastikannya.


"Tuan Hartawan, tolong nanti datang keruangan saya."


"Baik dokter, secepatnya saya akan menemui dokter."


Dokter Rosalie kemudian bergegas keluar ruangan setelah melakukan pemeriksaan dan membereskan alat-alat pemeriksaannya.


Tok...


Tok...


Tok...


"Masuklah.... "


"Bagaimana dengan keadaan isteri dan juga bayi kami dokter."


"Bayi tuan sangat sehat.... tapi keadaan ibunya masih membutuhkan perawatan intensif tuan,, saya mohon pengertian tuan, ini semua demi keselamatan isteri tuan."


"Bolehkah saya melakukan perawatan dirumah, peralatan-peralatan yang dibutuhkan bisa saya persiapkan dan juga saya siap membayar honor perawat dan juga dokter yang nanti merawat dan mengobati isteri saya dokter. Karena isteri saya sangat ingin pulang kerumah dokter."


"Hal itu sangat beresiko tuan, kami tidak berani mengambil tindakan seperti itu. Tenaga medis dirumah sakit kami ini juga sangat terbatas, jadi masih sangat dibutuhkan untuk melayani pasien yang datang kerumah sakit ini tuan."


" Bagaimana bila saya mencari tenaga medis dari rumah sakit lain dokter."


"Boleh saja tuan, yang penting tenaga medisnya siap. Tapi saya sangat menyarankan bila isteri bapak masih harus dirawat dirumah sakit, karena keadaannya masih sangat lemah. Tolong dengarkan saya tuan, ini semua demi keselamatan isteri tuan."


" Baiklah, saya akan menunggu hingga beberapa hari kedepan dokter."


"Baiklah, terima kasih tuan Hartawan atas pengertian anda."

__ADS_1


***


__ADS_2