Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.98


__ADS_3

Cklek


Andika sudah membuka pintu. Ternyata yang datang itu Bu Sinta.


"Mah, ada apa?" tanya Andika.


"Mamah hanya mau mengajak kalian untuk makan malam bersama," ucapnya.


"Dika sama Nara sudah makan malam, Mah." ucap Andika.


"Kapan?"


"Tadi, Mah. Kami pesan makan di luar. Maaf, Mah. Karena tidak bilang-bilang, aku lupa." ucapnya.


"Baiklah, kalau begitu Mamah pergi dulu," setelah mengatakan itu Bu Sinta pergi dari hadapan anaknya.


Anara melihat suaminya yang sudah kembali masuk ke kamar.


"Siapa yang datang, Mas?" tanya Anara.


"Mamah, tadi mengajak kita makan malam. Tapi aku sudah bilang kalau kita sudah makan malam," ucapnya.


Andika kembali naik ke atas tempat tidur. Dia masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya.


"Sayang, kamu belum pakai baju?"


"Memangnya boleh kalau aku pakai baju?Paling nanti juga di suruh lepas lagi," kata Anara.


"Nah itu tahu, jadi sekarang kita ... " Andika mendekatkan bibirnya dengan bibir istrinya.


Ke duanya asyik berciuman. Anara hanya menurut saja dengan perlakuan suaminya yang kini sedang memainkan bagian kesukaannya.


"Sayang, kamu hebat," di sela-sela kegiatannya, Andika selalu memuji Anara dengan perkataan yang mampu membuatnya tersipu.


Tak terasa sudah tiga puluh menit berlalu.Namun mereka masih mencari titik kepuasan satu sama lain. Anara mulai terbiasa dengan suaminya yang selalu melakukannya dengan sedikit kasar.


"Mas, cape sekali," ucap Anara yang saat ini ada di kungkungan suaminya.


"Kita istirahat dulu sebentar, nanti di lanjut lagi," Andika beranjak dari atas tubuh Istrinya. Lalu dia merebahkan diri di sebelah istrinya.


"Sayang, kamu cantik kalau tidak pakai baju," ucap Andika.


"Mas Dika apa-apaan sih, malu tahu," Anara menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya.


"Tidak usah malu, sayang. Kamu memang cantik kok."


Baru lima menit beristirahat, Andika kembali menyerang istrinya. Anara hanya pasrah saja dengan suaminya.


"Semoga disini tumbuh menjadi janin," Andika mengusap perut istrinya setelah dia menyemburkan benihnya.


"Amin, Nara juga berharap begitu," kata Anara.


"Sayang, bagaimana jika ronde ke tiga?"

__ADS_1


"Yang ada besok aku tidak bisa jalan loh. Ini juga sedikit perih," ucap Anara.


"Baiklah, Mas mau ajak kamu mandi bersama saja," kata Andika.


"Besok saja deh, dingin kalau sekarang," tolak Anara.


"Baiklah, sayangku. Sekarang kita tidur saja, besok sebelum mandi aku akan meminta satu ronde lagi," ucap Andika.


Mereka mulai memejamkan ke dua matanya.


°°°°°°°°


Pagi ini Anara bangun lebih dahulu. Dia langsung saja pergi untuk membersihkan diri. Dia lupa jika semalam suaminya mengatakan akan mengajaknya melakukan ronde ke tiga.


Anara berjalan keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya, dan handuk kecil untuk menutupi rambut kepalanya yang basah.


Andika mengerjapkan ke dua matanya. Dia melihat istrinya yang sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan hair drayer.


"Sayang, kamu sudah mandi?"


"Iya nih, Mas. Maaf ya tadi aku mandi duluan."


"Iya, sayang. tidak apa-apa kok," Andika mendudukan dirinya di atas ranjang.


Anara tampak berpikir setelah dia mendengar perkataan suaminya.


Apa Mas Dika melupakannya? Bukankah semalam dia ingin melakukan ronde ke tiga? Tapi, ya sudahlah kalau dia lupa itu lebih baik. Lagian aku masih cape," batin Anara.


Anara mulai memakai skin care agak tipis di wajahnya. Lalu dia pamit kepada suaminya, karena dia akan menemui anak-anaknya.


'Astaga, aku kan semalam minra ronde ke tiga sama Nara. Tapi kenapa malah kelupaan segala. Sekarang Nara juga sudah tidak ada disini,' batin Andika sambil mengacak kasar rambutnya.


Setelah selesai mandi, Andika menyusul istrinya.


Andika sudah berdiri di depan pintu kamar anaknya. Lalu dia mengetuk pintu itu. Kebetulan Ani yang membukakan pintunya.


"Silahkan masuk, Tuan!" ajak Ani.


"Terima kasih," kata Andika.


"Sama-sama," jawabnya.


Ani berinisiatif untuk keluar dari kamar itu. Dia tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.


Andika memperhatikan ke dua anaknya yang sedang bermain. Lalu dia juga memperhatikan istrinya.


"Sayang, nanti kita jalan-jalan yuk," ajak Andika.


"Boleh, tapi jalan kemana?" tanya Anara.


"Ke pantai saja, kebetulan pantai dekat dari hotel ini." ucapnya.


"Baiklah," jawab Anara.

__ADS_1


°°°°°°°°°°°


Seperti janjinya, sekarang Andika dan keluarganya pergi ke pantai. Kebetulan Andika menggendong Adelia. Sedangkan Eva bersama Anara.


Mereka begitu senang melihat pemandangan pantai yang sangat indah. Dan juga, Andika sejak tadi memperhatikan wanita cantik yang sedang berjemur dan hanya memakai bekini.


"Ekhm ... ekhm ... Tolong mata di kondisikan," ucap Anara kepada suaminya.


"Memangnya kenapa, sayang?"


"Masih nanya lagi? Jelas-jelas Mas Dika sejak tadi menatap wanita itu," ucap Anara sambil menunjuk wanita yang sedang berbaring di atas tikar.


"Namanya juga rezeki. Kalau lihat paha mulus dan empuk seperti itu, sangat di sayangkan jika tidak di pandang," ujar Andika.


Plak


Anara memukul lengan tangan suaminya. Namun tidak terlalu keras.


"Silahkan saja, tapi jangan harap dapat jatah dariku," ancam Anara.


"Kok gitu sih, sayang? Iya deh, aku bakalan tutup mata kalau lihat yang seperti itu," ucap Andika. Dia lebih memilih pura-pura tidak melihat pemandangan wanita sexy itu, dari pada dia tidak mendapat jatah dari istrinya.


Andika mengajak istrinya duduk di salah satu kursi yang ada di dekat pantai. Lalu dia memesan dua es kelapa muda.


Terlihat Bu Sinta menghampiri Anara dan Andika. Kebetulan Bu Sinta baru selesai berfoto. Bu Sinta juga mengambil beberapa pose foto dirinya yang sedang berdiri di pinggir pantai.


"Sayang, biar anak-anak sama kami," ucap Bu Sinta. Disana juga ada Ani dan Pak Indra.


"Iya, Mah. Silahkan ajak saja mereka jalan-jalan," ucap Anara.


Bu Sinta menggendong Eva. Sedangkan Ani menggendong Adelia. Mereka segera pergi dengan mengajak ke dua anak itu. Bu Sinta akan mengajak ke dua cucunya foto bersamanya.


Cukup lama Bu Sinta dan Ani pergi, namun mereka belum juga kembali ke tempat Anara berada.


"Mas, kok Mamah belum kembali juga yah?" entah mengapa, Anara begitu mengkhawatirkan anak-anaknya.


"Mungkin sebentar lagi, sayang. Di tunggu saja, pasti nanti juga datang," kata Andika.


Terlihat Pak Indra yang berlari tergesa-gesa menghampiri anak dan menantunya.


"Nara, Dika, " teriak Pak Indra.


"Pah, jangan lari-lari! Nanti kalau penyakitnya kambuh, bisa bahaya loh," ucap Anara.


Akhirnya Pak Indra sudah berada di hadapan anak dan menantunya.


Hus hus


Pak Indra mulai mengatur napasnya.


"Pah, kenapa Papah lari-lari? Dimana Mamah Sinta dan yang lain? Mengapa mereka belum kembali?" tanya Anara.


"Bu Sinta dan Ani sedang mencari Adel, dia hilang," ucapnya.

__ADS_1


"Adel hilang?" Anara begitu terkejut saat mendengar jika anaknya hilang.


__ADS_2