
Bu Sinta sudah berbicara kepada Anara mengenai kondisi Pak Indra. Anara malah sangat senang jika ayahnya itu mau tinggal bersamanya.
Andika juga sudah menawarkan Pak Indra untuk tinggal bersama Anara, namun Pak Indra sedikit ragu. Karena kesalahannya kepada Anara sangatlah besar. Sejak kecil dia memperlakukannya tidak adil. Namun akhirnya Pak Indra mau, saat Anara datang dan meminta untuk tinggal bersamanya.
Tok tok
Anara yang sedang bersantai dengan anak-anaknya, mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Anara membuka pintu itu, dia melihat ayahnya datang bersama Andika dengan membawa tas besar.
"Ayo masuk!" ucap Anara sambil tersenyum menatap keduanya.
Mereka segera masuk ke dalam rumah. Anara menyuruh Pak Indra dan Andika untuk duduk. Lalu dia pergi ke belakang menyuruh Bi Inem untuk membuatkan minum.
Anara kembali dan duduk di depan mereka. Sesekali Anara mengawasi anaknya yang sedang main di lantai.
"Nara senang karena Papah mau tinggal disini," Anara tersenyum menatap ayahnya.
"Terima kasih, Nak. Kamu sudah mau menerima Ayah yang jahat ini untuk tinggal disini," ucap Pak Indra.
"Tidak ada orang tua yang jahat, Pah. Bagi Anara, Papah itu baik."
"Papah minta maaf, Nak. Karena tidak bisa berdamai dengan hati, bertahun-tahun Papah memperlakukan kamu tidak adil," ucap Pak Indra sambil menatap Anara.
"Justru semua itu bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk Nara, Pah. Sekarang Nara jadi pintar masak dan bisa mengurus rumah. Jika saja Papah memanjakan Nara, pasti Nara tidak bisa hidup mandiri," ucap Anara.
Pak Indra beranjak dari duduknya, lalu pindah duduk di sebelah Anara. Dia memeluk Anara dengan penuh kasih sayang.
Anara menangis haru saat di peluk oleh Ayahnya. Karena bertahun-tahun, tidak pernah sekalipun dia di peluk seperti itu.
Sejak kecelakaan yang menimpa istrinya, Pak Indra memperlakukan Anara dengan tidak baik. Karena menurutnya, Anara yang sudah menyebabkan istrinya meninggal. Karena saat itu istrinya menyelamatkan Anara yang hendak tertabrak mobil.
Andika merasa senang melihat Pak Indra dan Anara yang sedang berpelukan. Akhirnya hubungan keduanya sudah membaik.
__ADS_1
Bi Inem datang dengan membawa nampan berisi minuman. Anara membantu mengambil gelas berisi minuman yang ada di atas nampan lalu menaruhnya di meja depan Pak Indra dan Andika.
"Silahkan di minum, Pah, Kak Dika." ucap Anara mempersilahkan.
"Terima kasih, Nak." Pak Indra langsung mengambil gelas yang ada di atas meja, lalu meminum teh hangat itu.
"Sama-sama, Papah lanjut mengobrol saja ya sama Kak Dika. Nara mau mengawasi anak-anak, tuh lagi berantakin rumah," ucap Anara sambil menunjuk anaknya yang sedang bermain di lantai.
"Iya, Nak." ucapnya.
🍀🍀🍀🍀
Sudah beberapa hari ini Pak Indra tinggal bersama Anara. Dia merasa senang karena Anara memperlakukannya dengan baik. Apalagi ke dua cucunya yang mulai akrab dengannya, itu menjadi suatu kebahagiaan yang luar biasa.
Andika baru datang untuk menengok anaknya. Dia berkeliling di sekitar rumah itu. Kebetulan dia melihat Anara yang sedang duduk sendirian di taman belakang. Andika mendekati Anara, lalu duduk di sebelahnya.
"Sendirian saja?" tanya Andika.
Andika mencoba melihatnya, dan ternyata itu foto Aldi.
"Kamu masih belum bisa move on?" tanya Andika.
Anara tersenyum menatap Andika.
"Sepertinya begitu, sangat sulit untuk melupakan orang yang sangat kita cintai," ucap Anara.
"Mungkin dengan mencari kekasih baru, kamu bisa melupakan Aldi.
Aldi juga pasti bahagia jika melihat kamu berbahagia dengan pasangan yang baru."
"Mana ada lelaki yang mau sama janda dua anak sepertiku? Apalagi yang bisa menerima Adel dan Eva dengan tulus. Aku rasa sulit mencari yang benar-benar tulus," ucapnya.
__ADS_1
"Pasti ada kok salah satu lelaki di luar sana yang mau menerima kamu dan anakmu dengan tulus."
"Saat ini aku belum memikirkan itu, Kak. Yang terpenting membahagiakan Adel sama Eva dulu," ucapnya.
"Aku siap membantu kamu sama anak-anak, jika ingin apa pun jangan sungkan untuk meminta."
"Terima kasih, Kak. Selama ini Kak Dika selalu di repotkan oleh Nara."
"Sama-sama, itu tidak gratis loh," kata Andika.
"Baiklah, sebutkan saja nominal yang Kakak inginkan. Nanti aku akan membayarnya."
"Aku tidak ingin uang," ucapnya.
"Lalu?"
"Pelukan dari adik ke kakaknya," ucap Andika.
"Baiklah," Anara menggeserkan badannya sehingga lebih dekat dengan Andika, lalu dia memeluknya.
Andika memejamkan matanya sambil menghirup aroma harum dari rambut Anara.
'Jika saja kamu mau, aku siap menjadi pendampingmu, Nara.' batin Andika
"Kak, sudah belum?"
"Sebentar lagi," Andika masih memejamkan kedua matanya.
Kebetulan Bu Sinta melihat mereka yang sedang berpelukan. Tadinya Bu Sinta mau memanggil Anara dan mengajaknya masuk ke rumah. Namun yang dia lihat Anara sedang berpelukan dengan Andika.
Bu Sinta tersenyum, lalu kembali masuk ke rumah.
__ADS_1
••••