
"Hey, jangan bergerak!" ucap seorang polisi dari belakang lelaki itu.
"Maaf, ada apa yah?" tanya lelaki itu.
"Berikan anak itu dan ikut kami ke kantor polisi!"
"Tapi saya ti ... " ucapan lelaki itu terpotong saat salah satu polisi yang ada di depannya sudah berhasil merebut Adelia yang tadi berada di gendongannya.
Akhirnya lelaki itu ikut dengan polisi menuju ke mobil.
Salah satu dari polisi itu mencoba untuk menghubungi Andika. Kebetulan Andika dan Anara juga masih di luar. Mereka langsung saja pergi ke kantor polisi setelah mendapatkan kabar mengenai anaknya.
Saat ini Andika dan Anara sudah sampai di kantor polisi.
"Jadi kamu yang sudah menculik anak saya?" Andika menatap lelaki itu dengan tatapan tajam.
"Saya tidak melakukan itu," ucapnya sambil menunduk.
"Kalau bukan kamu, kenapa kamu di tangkap? Jelas-jelas anak saya bersama kamu," Andika masih saja melontarkan pertanyaan kepada lelaki itu.
"Maaf, jangan berdebat disini!" sahut Pak Polisi yang sedang duduk di depan mereka. Lalu tatapannya beralih kepada lelaki yang tadi bersama Adelia. "Coba jelaskan semuanya, tadi anda belum sempat menjelaskan," pinta Pak Polisi.
Laki-laki itu menghirup napas dalam-dalam. Lalu mulai menceritakan semuanya dari awal dia bertemu dengan Adelia.
"Jadi begini, kebetulan kemarin saya sedang berjualan keliling. Saya melihat anak ini sendirian di pinggir jalan. Saya menghampirinya, dan berniat untuk mengantarkannya kepada orang tuanya. Namun anak ini menunjuk-nunjuk wanita yang hendak menaiki taxi, dan bilang jika itu Mamahnya. Akhirnya saya menghampiri wanita itu dan bertanya. Namun ternyata wanita itu bukan ibunya," jelasnya. Lalu lelaki itu menatap Anara.
"Sedikit mirip sih sama Ibu," ucapnya.
"Apa mungkin Adel mengira jika wanita itu aku?"
"Mungkin, sayang." ucap Andika.
Anara mencoba untuk bertanya kepada anaknya.
"Adel sayang, om itu baik tidak sama Adel?" tanya Anara.
Adelia hanya menganggukan kepalanya.
"Adel baik-baik saja kan?" Anara kembali bertanya kepada anaknya.
Adelia kembali menganggukan kepalanya.
"Maaf, Pak Polisi. Sepertinya lelaki ini memang tidak bersalah. Karena anak saya ini memang selalu mengerti jika kita mengajaknya mengobrol. Pasti anak saya ini tidak berbohong," ucap Anara.
__ADS_1
"Baiklah, jika ibu dan Bapak tidak mempermasalahkannya lagi, maka kasus ini saya tutup sampai disini," ucap Pak polisi.
"Terima kasih, Pak." ucapnya, sambil menatap Pak Polisi. Lalu lelaki itu beralih menatap Andika dan Anara.
"Terima kasih Pak, Bu," ucapnya lagi.
"Saya juga berterima kasih, karena Anda sudah menjaga anak saya dengan baik. Maaf karena tadi saya menuduh Anda menculik anak saya," kata Andika, yang merasa sedikit tak enak hati.
"Tidak masalah," ucapnya.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Andika dan Anara memutuskan untuk pulang. Lelaki itu juga ikut pulang bersama Andika. Karena tadi Andika yang menawarinya.
"Ini ada sedikit uang dari kami, mohon di terima," Anara menyerahkan beberapa uang ratus ribuan kepada lelaki itu.
"Tapi saya menolong anak Ibu itu ikhlas kok. Saya tidak mengharapkan imbalan."
"Ambil saja, anggap saja sebagai hadiah dari saya," Anara tetap memaksa agar lelaki itu menerima uangnya.
"Baiklah, saya ambil. Terima kasih, Bu."
"Sama-sama," jawab Anara.
Setelah mengantar lelaki itu, kini Andika kembali mengemudikan mobil sewaan yang dia pakai menuju ke hotel.
Sesampainya di parkiran hotel, mereka langsung turun. Sejak tadi Andika tidak mau lepas dari anaknya. Dia menggendong anaknya seolah tak mau berpisah lagi. Andika akan menjaga anaknya penuh kasih sayang.
"Akhirnya cucu Nenek kembali lagi, Nenek kangen loh," Bu Sinta mendekati Andika, lalu dia menciumi pipi Adelia.
"Dika, Nara, ayo masuk! Kalian harus istirahat, pasti cape. Biar Adel sama Mamah dan Ani," ucap Bu Sinta.
"Baiklah, Mamah pengertian juga ternyata. Tapi Adel jangan sampai hilang lagi loh," ucap Andika.
"Tidak akan, Mamah akan menjaganya dengan baik," Bu Sinta mengambil Adelia yang ada di gendongan Andika.
°°°°°°°°°°°°
Andika dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke jakarta. Itu semua atas keinginan Anara. Karena dia sedikit trauma dengan kejadian hilangnya Adel.
Saat ini mereka sudah berada di pesawat.
Kini pesawat itu sudah mendarat dengan selamat di bandara. Andika dan yang lainnya segera turun. Mereka berjalan keluar dari bandara. Kebetulan di depan sudah ada supir yang menunggu mereka. Andika dan keluarganya segera masuk ke dalam mobil.
Tak terasa sudah cukup lama mobil itu melewati keramaian ibu kota. Kini mereka sudah sampai di tempat tujuan. Mereka turun dari dalam mobil, dan langsung melangkah masuk ke rumah. Sedangkan barang bawaan mereka, semuanya pak supir yang menurunkan dan membawanya masuk.
__ADS_1
Semuanya langsung pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Anara membawa ke dua anaknya ke dalam kamar. Andika yang melihat itu menganggap istrinya sedikit berlebihan. Karena Anara menempel terus dengan anaknya.
"Sayang, biar anak-anak sama Ani ya, pasti anak-anak cape loh harus di tidurin," ucap Andika kepada istrinya yang sedang mendudukan ke dua anaknya di atas tempat tidur.
"Tidak usah, biar sama aku saja. Aku akan menidurkan mereka," tolak Anara.
"Tapi nanti yang menidurkan aku siapa?"
Spontan Anara menatap ke arah suaminya.
"Astaga, ini masih siang loh, kok Mas Dika minta di tidurin."
"Berarti nanti malam boleh?" Andika mengedipkan sebelah matanya.
"Nanti malam Nara mau tidur sama anak-anak. Kita tidur berempat, Mas." ucapnya.
"Ya sudahlah, Mas terpaksa harus berpuasa dong."
Anara hanya tersenyum menatap suaminya.
Anara menyuruh ke dua anaknya untuk berbaring di atas tempat tidur. Namun ke duanya tidak mau tidur. Mereka asyik memainkan mainannya.
"Sayang, sudah biarkan saja! Lagian mereka itu tidak mengantuk," ucap Andika, kepada istrinya.
"Iya sih,"
"Lebih baik kita saja yang istirahat," Andika ikut naik ke atas tempat tidur. Dia duduk di sebelah istrinya.
Andika menyuruh istrinya untuk berbaring di atas pahanya. Baru juga beberapa menit Anara berbaring, dia melihat Eva yang terlihat mengantuk. Karena sejak tadi dia memperhatikan anak-anaknya.
"Mas, aku mau nidurin Eva dulu. Kamu jagain Adel dulu ya," pinta Anara.
"Nidurinnya di kamar anak-anak saja ya," pinta Andika.
"Baiklah," Anara mengajak Eva keluar dari kamarnya.
Setelah kepergian istrinya, kini Andika mengajak Adelia bermain. Karena kelelahan dia berbaring di atas tempat tidur. Namun lama kelamaan dia tertidur.
Anara sudah kembali ke kamarnya. Dia melihat Adelia yang hendak turun dari atas tempat tidur.
"Astaga, Adel sayang, awas jatuh!" Anara melangkah cepat mendekati anaknya. Dia menggendong anaknya yang hendak turun dari atas tempat tidur.
Anara menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat suaminya sedang tidur.
__ADS_1
'Mas Dika suruh jagain anak malah tidur,' batin Anara.
°°°°°°°°°°