
Semalam Kiara tidak menemukan tempat yang bisa dia tinggali. Jadi dia semalam tidur di masjid.
Pagi ini Kiara pergi dari masjid itu. Dia akan mencari tempat tinggal untuknya. Itupun jika dia menemukannya.
Kiara yang sedang berjalan kaki, dia memegangi perutnya. Rasanya dia lapar sekali. Kiara merogoh saku celananya, dia mengambil uang dua puluh ribu dari dalam celananya.
'Lebih baik aku cari makan dulu deh,' gumam Kiara.
Kiara menengok kanan kirinya, dia melihat ada penjual bubur ayam di pinggir jalan. Dia mendekati penjual itu dan memesan satu porsi bubur ayam. Kiara memilih makan di tempat.
Setelah selesai makan bubur ayam, Kiara kembali melanjutkan perjalanannya. Dia akan mencari kontrakan untuk dia tinggali.
Kiara berdiri di depan deretan kontrakan. Terlihat ada seorang ibu muda yang menghampirinya.
"Maaf, Neng cari siapa?"
"Saya mau cari-cari kontrakan, apa kira-kira masih ada?"
"Oh kebetulan sekali sebelah kontrakan saya kosong," ucapnya, lalu melirik perut Kiara yang terlihat membuncit. "Neng sedang hamil ya? Suaminya kemana?"
"Suami saya pergi, dia tidak bertanggung jawab," ucap Kiara yang terpaksa berbohong. Tidak mungkin jika dia mengatakan jika dirinya itu hamil di luar nikah, pasti dia akan langsung di usir dari sana.
"Astaga, kok ada ya suami seperti itu?"
"Entahlah," terlihat raut wajah Kiara seperti sedang sedih.
"Kalau begitu biar saya bantu bicara ke pemilik kontrakan, agar kamu di perbolehkan untuk mengontrak."
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama," jawabnya.
Kiara senang karena akhirnya dia bisa mendapatkan kontrakan. Kebetulan dia masih punya uang sedikit, pemberian dari Bu Vanesa. Mungkin uang itu bisa di pergunakan untuk bayar DP kontrakan.
°°°°°°°
Bu Anara yang baru sampai di rumah, tidak melihat keberadaan Alan.
Adelia melihat Bu Anara yang baru keluar dari kamar sebelahnya.
"Mah, ngapain dari kamar Alan?" tanya Adelia sambil menatap ibunya.
"Lagi cari Alan, tapi dia tidak ada. Semalam sih Alan membantu cari Kia, tapi dia belum pulang."
"Mungkin Alan masih mencari Kia, Mah."
__ADS_1
"Tidak mungkin, pasti itu anak ada di suatu tempat. Mamah hanya takut jika dia berbuat yang tidak-tidak di luar."
Obrolan keduanya terhenti saat terdengar suara Alan dari arah depan mereka.
"Ada apa ini?" tanya Alan sambil memperhatikan keduanya.
"Astaga, Alan. Kamu dari mana saja? Mamah nyariin kamu loh," Bu Anara menatap lekat wajah anaknya.
"Maaf, Mah. Semalam Alan menginap di apartemen Kak Adel," ucap Alan.
"Kamu tidak ngajakin Nela menginap bareng kan?" tanya Bu Anara yang sedikit curiga.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Ah tidak, Mamah hanya takut jika kamu macam-macam."
"Tidak kok, Mah. Mamah nih curigaan terus sama aku."
"Namanya juga orang tua, pasti semuanya tidak mau jika anaknya kenapa-napa."
"Aku tidak kenapa-napa kok, Mah. Ya sudah, aku mau ke kamar dulu," Alan pergi ke belakang Bu Anara berdiri, lalu dia membuka pintu kamarnya.
Setelah Alan masuk ke kamar, kini Adelia dan Bu Anara juga pergi dari sana.
Alan yang baru sampai di kamar, dia mendengar ponselnya berbunyi. Dia mengambil ponselnya yang di taruh di tas miliknya. Ternyata ada panggilam video call dari Nela.
📱"Hallo, sayang." terlihat Nela yang sedang menggaruk dada bagian atasnya. Kebetulan dua kancing baju teratas dia buka.
📱"Sayang, coba ke bawahin lagi, aku tidak lihat," pinta Alan.
📱"Apanya yang di kebawahin?"
📱"Kameranya ke bawahin lagi. Itu kancing bawah di buka juga dong," pinta Alan.
📱"Bukankah kemarin sudah pegang, masa lihat lagi sih."
📱"Pengen lagi, oh iya, nanti kamu ke rumah ya, aku pengen berduaan lagi sama kamu," ucap Alan.
📱"Banyak orang loh di rumahmu."
📱"Iya, tapi sepertinya mereka mau pergi ke rumah Pak Dirga."
📱"Oke deh, nanti aku datang," ucap Nela.
Kini keduanya sudah selesai video callnya. Alan merasa senang karena Nela mau datang.
__ADS_1
°°°°°°°°°
Siang ini Bu Anara dan keluarganya akan pergi ke kediaman Pak Dirga. Karena di rumah itu ada acara keluarga. Acara itu sengaja di lakukan untuk menyambut besan sebagai bagian keluarga baru di keluarga besar Pak Dirga.
Terlihat Adelia dan Rian keluar dari kamar. Mereka pergi ke lantai bawah. Kebetulan yang lainnya sudah menunggu disana.
"Kita langsung pergi sekarang, Mah?" Adelia menatap ibunya yang sedang duduk bersama ayah dan adiknya.
"Iya, Ayo!" Bu Anara beranjak dari duduknya.
"Alan mana, Mah?" tanya Adelia.
"Adikmu katanya tidak ikut," jawabnya.
Kini mereka semua keluar beriringan dari rumah itu.
Tepat lima menit setelah kepergian Adelia dan keluarganya, Nela sampai di depan rumah itu. Dia mengetuk pintu rumah, dan tak lama Alan membukakan pintu rumahnya.
Alan menyambut kekasihnya dengan pelukan. Lalu mengajaknya masuk ke rumah.
"Mau minum apa?" tanya Alan, saat nelihat kekasihnya mendudukan diri di sofa.
"Apa saja deh," ucapnya.
"Baiklah," Alan berlalu pergi ke dapur untuk mengambilkan minum untuk kekasihnya.
Hanya sebentar mereka mengobrol, Alan mengajak kekasihnya pergi ke kamarnya.
"Aku tagih janjimu," ucap Alan sambil membelai rambut panjang kekasihnya.
"Aku malu," Nela menundukan pandangannya.
"Sudah beberapa kali aku melihatnya, masa kamu masih malu saja sih."
Perlahan-lahan Alan melepaskan kancing baju Nela. Lalu dia melepas juga pengait bra yang di pakai Nela.
"Apa-apaan ini?" terdengar suara Adelia yang begitu nyaring dari depan pintu.
Alan dan Nela sama-sama kaget saat mereka terpergok. Alan menjauhkan tangannya dari dada Nela.
Sebenarnya Adelia kembali lagi karena ponselnya tertinggal di kamar. Namun saat dia akan ke kamarnya, dia melihat pintu kamar Alan terbuka. Adelia berniat melihat Alan, namun ternyata dia malah melihat hal tak senonoh.
"Sayang, ada apa?" tanya Rian, yang kini berdiri di luar kamar.
"Stop, Mas! Jangan masuk! Ini adegan tak pantas di lihat," ucap Adelia sambil menatap tajam Alan dan Nela. Sedangkan mereka yang di tatap, tampak menunduk takut.
__ADS_1
"Nela, pakai kembali pakaian kamu, lalu kamu pulanglah. Kakak akan bicarakan ini ke Mamah. Tapi untuk sekarang Kakak belum bisa ambil tindakan, karena masih ada urusan penting."
"Iya, Kak. Maafin Nela," Nela beranjak dari atas tempat tidur. Lalu dia kembali memakai pakaian atasnya.