
Anara sibuk mengecek pengeluaran dan pemasukan bulanan di ruang kerjanya. Karena kecerdasan otaknya, dia tidak merasa bingung sedikit pun. Apalagi tadi pagi sudah di ajari oleh Andika, mengenai semua pekerjaaan yang harus dia lakukan.
Tok tok
Anara mendengar ketukan pintu. Dia beranjak dari duduknya, lalu pergi untuk membukakan pintu. Ternyata Agus yang datang.
"Ada apa?" tanya Anara yang masih berdiri di depan pintu.
"Saya mau melaporkan bahan-bahan di dapur yang sudah kosong," ucapnya.
"Masuklah!" ucap Anara.
Agus melangkah masuk, lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Anara juga duduk di dekatnya. Agus memberikan selembar kertas yang isinya berupa catatan kepada Anara.
"Baiklah, nanti saya akan menyuruh karyawan yang di bagian belanja bahan makanan untuk membeli semua stok yang kosong."
"Kalau begitu saya permisi," setelah berpamitan, Agus segera keluar dari ruangan itu.
Ternyata di luar ada dua orang temannya yang merupakan karyawan juga.
"Bagaimana Bro?" tanya salah satu dari mereka.
"Apanya?"
"Bodynya Bu Nara," bisiknya di telinga Agus.
"Ah jangan di tanyakan lagi, tadi saya duduk bersebelahan bikin panas dingin," ucap Agus.
"Ha ha ... Baru duduk bersebelahan saja sudah panas dingin, apalagi di ajak cek in. Pingsan kamu Bro," ucapnya.
"Sialan," Agus menepuk bahu temannya.
__ADS_1
Mereka pergi dari sana sambil mengobrol. Kebetulan saat ini cafe sedang sepi, jadi mereka bisa sedikit bersantai.
🍀🍀🍀
Anara melihat jam yang ada di dinding. Ternyata hari sudah sore. Anara memutuskan untuk pulang. Dia tidak mungkin pulang saat cafe tutup. Karena dia kasihan dengan anak-anaknya yang pastinya menunggu kepulangannya.
Anara berpamitan kepada kasir yang sedang berjaga, lalu dia segera pulang. Namun sebelum dia benar-benar pulang, terlebih dahulu mampir ke cafe cabang. Kebetulan di cafe cabang ada manager yang mengurus cafe itu. Sedangkan di cafe utama, tidak ada managernya. Sehingga Anara yang harus turun tangan sendiri.
Setelah mengecek cafe cabang, kini Anara segera pulang dengan menaiki taxi online. Namun di tengah perjalanan, taxi yang dia naiki mogok. Terpaksa dia harus turun.
Kebetulan Andika baru pulang dari kantor. Dia melihat Anara yang sedang berdiri di pinggir jalan.
Tin tin
Andika membunyikan klakson mobilnya, lalu dia menghentikan mobilnya tepat di depan Anara.
"Nara, kamu lagi ngapain?" tanya Andika, dari kaca mobil yang sedikit terbuka.
"Mending ikut aku saja, ayo masuk!" ajak Andika.
"Baiklah," Anara menerima tawaran Andika.
Saat Anara sudah masuk ke mobil, Andika segera mengemudikan mobilnya.
Kini mobil itu sudah sampai di tempat tujuan. Kebetulan Bu Sinta sedang berdiri di depan rumah sambil menggendong Eva. Karena sejak tadi rewel.
Bu Sinta menatap anak-anaknya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kalian baru pulang?"
"Iya nih, Mah. Eva kenapa?" tanya Anara yang kini sedang berjalan mendekati Bu Sinta.
__ADS_1
"Tadi rewel, nih baru diem," ucapnya.
"Mamah ... " Eva merentangkan tangannya ingin di gendong oleh Ibunya.
"Uluh uluh anak Mamah," Anara mengambil Eva yang ada di gendongan Bu Sinta. Dia mengajaknya masuk ke rumah.
Anara membawa Eva menuju ke kamar.
Andika dan Bu Sinta duduk bersama di ruang keluarga.
"Nak, bagaimana pekerjaan kamu?" tanya Bu Sinta.
"Lancar, Mah." ucapnya.
"Syukurlah, bagaimana Anara?"
"Maksud Mamah?"
"Tadi pagi kan Mamah minta kamu ajarin dia ngurus cafe. Ada kendala tidak?"
"Tidak ada, Mah. Dia cukup pintar," ucap Andika.
"Syukurlah, oh iya, sampai kapan kamu akan menginap di rumah Pak Indra? Kamu sama Vanesa itu sudah berpisah loh."
"Entahlah, sebenarnya aku juga ingin pulang ke rumah Mamah. Tapi kasihan Papah Indra kalau di biarkan sendiri. Dia sering sakit-sakitan," ucap Andika.
"Coba deh kamu bicara sama Pak Indra untuk tinggal disini saja. Nanti Mamah juga bicara sama Anara. Pasti Anara membolehkan ayahnya tinggal disini."
"Iya, Mah. Nanti Dika akan coba bicara sama Papah. Semoga saja mau," ucapnya.
°°°°
__ADS_1