Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.102


__ADS_3

"Kenapa Kakak menculikku? Apa salahku?" tanya Anara.


"Haha ... " Dinda mendekati Anara. Dia menempelkan pisau yang dia bawa ke pipi Anara. "Apa jadinya jika pisau ini menggores wajahmu yang so kecantikan itu, wah pasti suamimu akan mencari wanita lain. Mana mau dia sama wanita yang wajahnya sudah tidak mulus lagi," Dinda memutar pisau itu di wajah Anara.


Anara memalingkan pandangannya. Dia menahan napasnya seolah begitu takut jika Dinda berbuat yang tidak-tidak.


"Kenapa diam? Kamu takut?" Dinda tersenyum menyeringai melihat Anara yang terlihat ketakutan. "Mungkin satu goresan dulu tidak masalah, tapi aku memulainya dari mana," Dinda mencoba untuk terus menakuti Anara.


"Jangan sakiti aku!" Anara mencoba mendorong tangan Dinda yang sedang memegang pisau, dengan kepalanya. Pisau itu langsung terlempar ke lantai. Namun wajah Anara tak sengaja sedikit tergores.


"Ups, bukan aku loh yang melukainya," Dinda menutup mulutnya dengan ke dua tangannya. Dia pura-pura terkejut saat melihat wajah Anara tergores.


"Stt .. " Anara merasa sedikit perih karena pipinya terkena pisau.


"Hm, mungkin ini belum saatnya untuk aku bertindak. Aku baik loh, aku kasih waktu dua jam untuk kamu bisa bernapas bebas. Tapi nanti, jangan harap aku akan melepaskanmu," Dinda pergi dari hadapan Anara. Dia keluar dari ruangan itu, lalu mengunci pintunya dari luar.


°°°°°°°°°°


Andika sudah mencoba menghubungi nomor istrinya. Niatnya dia akan menyuruh istrinya membelikan makanan kesukaannya saat pulang nanti.


'Nara kemana sih, kok telfonnya tidak di angkat juga,' batin Andika.


Andika mencoba menghubungi nomor telfon rumah Pak Indra. Ternyata Asisten rumah tangga di rumah itu yang mengangkatnya. Andika menanyakan keberadaan istrinya. Dia meminta tolong kepada Asisten rumah tangga itu untuk memanggilkan istrinya. Namun ternyata istrinya tidak ada disana.


'Sebenarnya Nara pergi kemana?' gumam Andika, yang merasa khawatir.


Andika menceritakan kepada Bu Sinta jika Anara pergi entah kemana. Padahal Anara pamitnya akan pergi ke rumah lamanya.


"Dika, kamu yakin kalau istrimu tidak ada di rumah lamanya?" tanya Bu Sinta.


"Yakin, Mah. Tadi Dika sudah menghubungi nomor rumah sana juga. Tapi kata Asisten rumah tangga, Anara tidak datang kesana," ujar Andika.


"Kira-kira kemana perginya Anara?"


"Entah, Dika juga tidak tahu. Tapi sekarang Dika mau mencarinya, karena takut jika terjadi sesuatu dengannya."


"Hati-hati, Nak. Semoga istrimu segera di temukan."


"Semoga saja, Mah." ucapnya.


Bu Sinta menatap Andika keluar dari rumah itu. Bu Sinta hendak pergi ke kamar, namun tak sengaja dia melihat ponsel milik Andika tergeletak di atas meja.

__ADS_1


'Ini kan ponsel milik Dika,' Bu Sinta mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Lalu dia mengejar Andika yang sudah keluar dari rumah.


"Dika, tunggu Nak!" Bu Sinta berteriak saat melihat Andika yang hendak mengemudikan mobilnya.


Bu Sinta mengetuk pintu mobil. Andika membuka kaca mobilnya.


"Ada apa, Mah?" Andika bertanya sambil menatap ibunya.


"Ini ponsel kamu tertinggal," Bu Sinta memberikan ponsel yang sedang dia pegang kepada Andika.


"Terima kasih, Mah." Andika tersenyum kepada Ibunya, lalu dia nengambil ponsel yang sedang di pegang oleh Ibunya.


"Sama-sama, Nak." ucapnya.


Andika kembali menutup kaca mobilnya. Lalu dia segera mengemudikan mobilnya.


Andika mendatangi tempat yang biasa di datangi oleh istrinya. Namun dari semua tempat yang dia datangi, dia tidak melihat keberadaan istrinya.


Andika menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia mencoba untuk menghubungi nomor istrinya.


'Semoga saja kali ini telfonnya di angkat,' gumam Andika.


Ternyata Anara tidak mengangkat telfonnya.


Tiba-tiba Andika teringat jika semenjak kejadian hilangnya Adel, dia memasang gps di ponsel istrinya. Karena takut jika ada hal lain yang menimpa istrinya atau pun orang-orang sekitarnya.


'Sttt, kenapa aku sampai melupakannya,' Andika melihat gps di ponselnya. Dia melacak keberadaan Istrinya.


Andika segera mengemudikan mobilnya menuju arahan gps di ponselnya.


°°°°°°°°°


Dinda membuka pintu ruangan tempat Anara di sekap. Dia menyuruh dua orang preman itu untuk masuk ke dalam.


"Cepat lakukan apa saja sama wanita ini!" pinta Dinda kepada dua preman itu.


"Wah, apa kami boleh menyentuhnya? Sepertinya lumayan nih wanita sexy juga," ucap salah satu dari preman itu.


"Lakukan saja apa pun keinginan kalian," Dinda tersenyum menyeringai. Dinda mengambil ponselnya dari dalam tas. Dia berencana merekam semua adegan yang nanti dia lihat. Lalu dia akan menyebarkannya ke sosial media.


"Jangan mendekat!" Anara melotot kepada ke dua preman yang sedang berdiri di dekatnya.

__ADS_1


"Ayolah, sayang. Bersenang-senanglah sebentar dengan kami," salah satu preman itu mencolek dagu Anara.


"Jangan pegang-pegang! cuih ... " Anara meludah di depan mereka.


"Kamu sudah berani rupanya, baiklah kali ini kamu tidak bisa berkutik lagi," preman itu memegang kaki Anara yang terlihat mulus.


"Jangan sentuh saya!" Anara berteriak sangat keras.


Kebetulan Andika sudah sampai di depan bangunan kosong itu. Saat dia baru saja turun dari mobil, dia mendengar teriakan dari dalam bangunan di depannya.


'Siapa itu? Jangan-jangan itu Nara,' batin Andika.


Andika melangkah dengan sedikit cepat memasuki bangunan itu. Dia menatap ke semua sudut ruangan yang ada disana. Dia mencoba membuka semua pintu yang tertutup. Namun dari beberapa ruangan yang sudah dia cek, dia tidak melihat siapa pun.


Ahhhhh ... Jangan ...


Andika mendengar teriakan dari ruangan paling pojok. Dia melangkah cepat menuju ke ruangan itu. Kebetulan pintunya tidak tertutup. Andika terbelalak melihat pemandangan yang ada di dalam. Salah satu preman sedang mengusap-usap kaki Anara.


"Jangan sentuh istri saya!" Andika melangkah masuk, lalu melayangkan pukulan kepada dua preman itu.


Bugh bugh


Andika memukul preman itu hingga mereka tidak bisa berkutik. Dinda yang melihat preman suruhannya kalah, dia memilih untuk keluar dari ruangan itu.


"Hei, berhenti!" ucap Andika kepada Dinda. Namun Dinda tetap melanjutkan langkahnya.


Andika membantu melepaskan ikatan tali di tangan istrinya. Dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Sayang, kamu terluka," Andika melihat luka kecil pada wajah yang kebetulan belum kering.


"Mas, aku takut," Anara memeluk suaminya dengan erat.


"Kamu tenang, sayang. Ada aku disini," Andika mencoba untuk membantu menenangkan istrinya. "Sayang, lepas dulu ya! Aku mau mengikat mereka," ucap Andika, sambil menatap istrinya.


"Iya, Mas." kini ke duanya sudah melepaskan pelukannya.


Andika mengambil tali yang tergeletak di atas lantai. Lalu dia mengikat dua preman itu, dan menghubungi polisi untuk segera datang.


Saat polisi sudah datang ke tempat itu, Andika memintanya untuk mencari Dinda yang merupakan otak dari penculikan itu.


Polisi menyuruh Anara datang ke kantor polisi untuk menjelaskan kesaksian. Namun sebelum itu, Andika membawanya ke klinik terdekat untuk memeriksakan luka yang ada di pipinya.

__ADS_1


°°°°°°°°°°


__ADS_2