Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.71


__ADS_3

Sesuai niatnya, pagi ini Kiara akan berpamitan kepada pemilik kontrakan, jika dia akan pindah.


Tok tok


Kiara mendengar ada yang mengetuk pintu dari luar. Dia segera membuka pintu itu. Ternyata yang datang itu Bu Sukma yang membawa rantang kecil. Sudah bisa di pastikan jika Bu Sukma membawakan makanan untuknya. Karena setiap harinya Bu Sukma selalu mengantarkan makanan untuknya.


"Eh Bu Sukma," Kiara tersenyum menatap Bu Sukma.


"Kia, ini sarapan untuk kamu," ucapnya sambil menyodorkan rantang itu.


"Terima kasih, Bu. Oh iya, ada yang mau Kia katakan."


"Kamu mau bicara apa?"


"Lebih baik kita bicara di dalam saja, Bu. Mari masuk!" ucapnya dengan ramah.


"Terima kasih," Bu Sukma melangkah masuk ke kontrakan.


Kini mereka duduk berhadap-hadapan di kursi kayu yang ada di ruang depan.


"Begini, Bu. Saya merasa tak enak menerima bantuan terus menerus dari ibu. Saya ada keinginan untuk pindah kontrakan saja. Saya merasa tak enak jika terus bergantung sama ibu. Untuk semua kebaikan ibu, nanti saya akan menggantinya dengan uang, namun tidak sekarang. Karena sekarang saya tidak punya uang."


Bu Sukma terkejut saat mendengar perkataan Kiara.


"Kia, sebenarnya semua bantuan itu bukan dari ibu."


"Iya, Kia tahu. Pasti dari Pak Andika kan?"


"Benar, Kia. Pak Andika yang menjamin biaya hidup kamu lewat perantara saya. Kamu jangan pergi ya, pasti Pak Andika akan sedih jika tahu kamu pergi dari sini."


"Maaf, Bu. Tapi Kia merasa tidak enak. Lebih baik Kia pergi dari sini saja."

__ADS_1


"Sebenarnya ibu berat untuk mengizinkanmu pergi, Nak. Tapi jika itu kemauan kamu, ibu tidak akan melarangmu."


"Terima kasih, Bu. Terima kasih atas semua kebaikan ibu."


"Berterima kasihlah kepada Pak Andika. Karena beliau yang sudah membantu kamu, sedangkan ibu hanya perantara."


"Tetap saja, Bu Sukma juga baik kok."


Kiara beranjak dari duduknya, lalu mengambil tasnya yang ada di dalam kamar.


Bu Sukma melihat Kiara menenteng tas besarnya.


"Kamu mau pergi sekarang, Nak?"


"Niatnya sih iya, Bu."


"Lebih baik kamu makan dulu, Nak. Biar nanti ada tenaga."


"Ibu pulang dulu, nanti kalau kamu mau pergi, kamu ke rumah ibu dulu ya."


"Baik, Bu. Nanti aku ke rumah ibu untuk menyerahkan kunci."


Setelah Bu Sukma pergi, Kiara langsung menikmati sarapannya.


Lima belas menit kemudian, Kiara keluar dari kontrakannya. Sejenak dia menatap bangunan itu yang telah dia tinggali selama dua bulan.


'Selamat tinggal tempat lama, semoga saja nanti aku akan cepat mendapatkan kontrakan baru di tempat yang baru,' batin Kiara.


Kiara melangkahkan kakinya pergi dari sana. Dia akan pergi ke rumah Bu Sukma untuk berpamitan. Kebetulan rumahnya juga dekat dari sana.


Kiara sudah berpamitan kepada Bu Sukma. Dia juga sudah menyerahkan kunci kontrakannya.

__ADS_1


Saat ini Kiara sudah berada di pinggir jalan. Dia menunggu angkot yang lewat. Namun sudah cukup lama menunggu, ternyata belum ada angkot yang lewat. Kiara tidak kuat berdiri terlalu lama. Dia hendak mencari tempat duduk. Namun baru juga berbalik arah, dia merasakan pusing.


"Aduh, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing?" gumam Kiara.


"Bu, kenapa?" terlihat seorang wanita seusianya yang menghampirinya.


"Sa--" Baru juga akan menjawab, Kiara mendadak tak sadarkan diri. Untung saja tubuhnya di pegang oleh wanita muda itu, sehingga dia tidak jatuh ke jalan.


"Tolong ... tolong ... " ucap wanita itu sambil menatap sekitar.


Beberapa orang mendekat dan membantunya mengangkat tubuh Kiara. Kiara di baringkan di emperan toko.


Rian yang hendak berangkat ke kantor, dia melihat ada orang berkerumun di pinggir jalan. Karena penasaran, dia menghentikan mobilnya, lalu melihat kerumunan itu.


"Ada apa ini?" tanya Rian.


"Ada wanita hamil yang pingsan," jawab salah satu dari mereka.


Rian langsung saja menerobos kerumunan itu. Ternyata wanita hamil yang pingsan itu Kiara.


"Kiara?" Rian langsung berjongkok. Dia mencoba untuk menggendong Kiara.


"Biar saya bantu, Pak." tawar seorang laki-laki muda.


"Terima kasih, ayo bawa dia ke mobil saya. Saya akan membawanya ke rumah sakit."


"Sama-sama. Baik, Pak." jawabnya.


Laki-laki itu langsung membantu Rian membawa Kiara ke mobil.


Rian langsung saja mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Di perjalanan, dia menghubungi istrinya dan memberitahukan jika saat ini dia berada di jalan menuju rumah sakit bersama Kiara.

__ADS_1


__ADS_2