Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.86


__ADS_3

Anara mengerjapkan ke dua matanya. Dia menatap jam yang ada di dinding, ternyata sudah pukul sebelas malam.


'Astaga aku ketiduran,' Anara mendudukan dirinya di atas ranjang.


Anara menatap anak-anaknya yang masih tidur.


'Sebaiknya aku panggil Kak Ani, aku mau ke kamar, pasti Mas Dika kecewa karena malam pertamanya gagal,' batin Anara.


Anara hendak turun dari atas tempat tidur, namun Eva terbangun dari tidurnya.


"Huwa ... Mamah ... " terdengar tangis Eva.


"Cup cup ... Mamah tidak pergi kok, sayang." Anara kembali menidurkan Eva.


Setelah Eva kembali tidur, Anara pergi ke kamar mandi untuk bebersih sebelum tidur.


Anara sudah keluar dari kamar mandi. Dia memutuskan untuk tidur bersama anak-anaknya.


'Semoga saja Mas Dika mau mengerti,' batin Anara, lalu dia segera membaringkan diri di sebelah anaknya.


Anara mulai memejamkan ke dua matanya.


Sebelumnya, Anara selalu tidur bersama Eva di kamarnya, dan Adel tidur bersama Ani di kamar itu. Mungkin Eva merasakan jika Ibunya mau pergi dari kamar, jadi dia terbangun agar Ibunya tidak pergi.


°°°


Anara merasa terusik karena ada yang mengganggunya. Dia mengerjapkan ke dua matanya dan melihat suaminya yang sedang menciumi pipinya.


"Mas, lagi ngapain?"


"Membangunkan kamu," ucapnya.


Anara menatap jam di dinding, dan ternyata masih pukul tiga pagi.


"Masih jam segini, Mas."


"Tidak apa-apa, sayang. Ayo cepat bangun!" pinta Andika.


Anara beranjak dari atas kasur, lalu mengikuti suaminya keluar dari kamar. Ternyata di depan pintu ada Ani. Kebetulan tadi Andika membangunkan Ani dengan cara beberapa kali mengetuk pintu hingga Ani benar-benar bangun dan membuka pintunya.

__ADS_1


Ani segera masuk ke kamar Adelia. Dia tidur kembali, karena kebetulan masih terlalu pagi.


Andika dan Anara sudah sampai di kamar. Andika memeluk Anara yang kini sedang menutup pintu kamar.


"Sayang, sekalian di kunci saja," ucap Andika.


"Di kunci? Memangnya kita mau tidur lagi?"


"Bukan, sayang. Kita mau bikin adik untuk anak-anak."


"Astaga, mereka masih kecil, Mas. Jangan di buatin adik dulu."


Andika melepaskan pelukannya, lalu dia membalikan badan istrinya sehingga mereka saling berhadapan.


"Kamu KB?"


"Iya, Mas. Sudah pasti itu."


"Berarti aman-aman saja dong kalau kita melakukan itu," ucapnya sambil menatap wajah istrinya.


Anara merasa malu, dia menundukan pandangannya. Namun Andika memegang dagu istriya, lalu mengangkat wajah istrinya. Kini pandangan mereka bertemu. Andika mendekatkan wajahnya, dan langsung mencium bibir istrinya.


Sejenak Andika menghentikan aksinya. Dia menatap istrinya yang sedang memejamkan matanya.


"Sayang, kamu terlihat cantik sekali. Aku suka semua yang ada pada dirimu. Terutama ini, ini, dan ini," ucap Andika sambil menunjuk bibir, dada, dan bagian bawah istrinya.


"Mas apa-apaan sih?" Anara membuka ke dua matanya, lalu dia mengalihkan arah pandangnya.


Cup


Andika mencium pipi istrinya.


Wajah Anara memerah karena merasa malu.


"Seperti anak perawan saja, kamu pakai malu-malu segala," ucap Andika sambil memperhatikan istrinya.


"Mas ih," Anara mencoba menggelirik suaminya, namun Andika segera mengunci tubuh istrinya di bawah kungkungannya.


"Kenapa, sayang? Kamu semakin manis saja sih, aku jadi tidak sabar untuk melakukannya. uhh pasti suara kamu sexy sekali," ucap Andika sambil membayangkan yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Mas," Anara mengalungkan ke dua tangannya di leher suaminya.


"Ada apa, sayang?"


"Mas berat ih," Anara merasa berat karena Andika yang berada di atasnya.


"Enak sih, empuk seperti bantal," ucapnya.


"Ih ... aku gemuk dong," Anara menekuk wajahnya.


"Tidak apa-apa, sayang. Kalau gemuk malah membuatku makin bersemangat."


"Mas Dika mes .... " perkataan Anata terpotong karena Andika sudah membungkamnya dengan ciuman.


Andika mulai menyentuh bagian sensitiv istrinya, sehingga istrinya tidak bisa menahan suara sexynya.


"Terus, sayang! Jangan di tahan, aku suka mendengar ********mu," ucap Andika tanpa menghentikan aksinya.


Anara hanya bisa memejamkan ke dua matanya, dan menikmati yang di lakukan oleh suaminya.


Dua jam sudah ke duanya baru selesai melakukan ritual suami istri. Anara begitu lelah, karena harus mengimbangi tenaga suaminya begitu besar. Jujur saja Andika sangatlah bersemangat, dan tidak membiarkan Anara bersitirahat. Beda saat bersama Aldi, yang biasa-biasa saja saat bergulat di atas ranjang.


"Bagaimana, sayang? Kamu suka?"


"Mas Dika makan apa sih? Tenaganya kuat sekali, seperti tidak ada cape-capenya," ucap Anara.


"Tidak makan apa-apa, hanya insting seorang lelaki untuk memuaskan pasangannya."


"Tapi dulu Kak Al ... " ucapan Anara terpotong karena saat ini Andika menaruh jarinya di bibir Anara.


"Stt ... Jangan sebut nama lelaki lain atau aku akan menghukummu," Andika kembali naik ke atas tubuh istrinya.


"Mas, aku cape," keluh Anara.


"Kamu diam saja, sayang. Biar Mas yang bekerja," ucapnya, lalu kembali melakukan aksinya.


Anara hanya mende*sah pasrah di bawah kungkungan suaminya.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2