
Kini Anara dan keluarganya sedang di perjalanan menuju ke rumah sakit. Kebetulan ambulance yang membawa Pak Indra ada di depan mobil mereka.
Saat ini mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka masuk ke dalam rumah sakit mengikuti kemana Pak Indra di bawa. Namun Andika terlebih dahulu mengurus administrasi. Setelah itu barulah dia menyusul keluarganya.
Andika melihat Anara dan keluarganya sedang duduk di salah satu kursi tunggu.
"Sayang, bagaimana Papah?"
"Dokter baru masuk untuk menanganinya, kita doakan saja yang terbaik," ucap Anara.
"Aku mau cari bukti-bukti untuk memenjarakan orang yang sudah menabrak Papah, kamu di tinggal sebentar tidak apa-apa?" Andika bertanya kepada istrinya.
"Tidak apa-apa, kamu pergi saja, Mas." ucap Anara.
"Baiklah, aku pergi dulu, sayang." setelah berpamitan, Andika segera pergi dari sana.
Di balik tembok sebelah pojok lorong rumah sakit, terlihat seorang wanita meremas dres yang dia kenakan. Tangannya sedikit bergetar menahan rasa takut dan amarah.
Andika yang tak sengaja menengok ke samping, melihat ada bayangan orang di lantai.
"Siapa itu?" ucap Andika.
Wanita itu segera pergi dari sana, lalu menaiki tangga darurat.
Andika sudah mengecek bayangan yang dia lihat, namun disana tidak ada siapa-siapa.
"Aneh, tidak ada siapa-siapa," gumam Andika, lalu segera pergi dari sana.
Andika mengendarai mobilnya menuju ke lokasi tempat tabrak lari yang di alami oleh Pak Indra. Ternyata disana hanya ada CCTV di depan pintu masuk taman hiburan, dan letaknya di seberang jalan lokasi kejadian. Andika meminta ke satpam yang sedang berjaga, untuk mengecek CCTV yang mengarah ke jalan raya.
__ADS_1
Setelah mengecek CCTV, Andika hanya bisa memijat pelipisnya yang tak sakit. Jelas sekali di rekaman CCTV, mobil yang menabrak Pak Indra seperti karena kesengajaan, tapi sayangnya plat mobil itu tidak terlihat. Karena mobil itu melaju sangat kencang.
Andika hanya menyalin rekaman CCTV itu untuk melaporkannya ke polisi. Kali ini biar polisi yang mengurus semuanya.
°°°°°°°°
Andika sudah kembali ke rumah sakit. Lalu dia menghampiri keluarganya.
Anara melihat suaminya yang sedang berjalan mendekatinya.
"Mas, bagaimana? Apa ada petunjuk?"
Andika duduk di sebelah istrinya, lalu mulai berkata.
"Plat nomor mobil itu tidak terlihat, karena mobil melaju sangat kencang. Kalau perkiraanku, kecelakaan itu karena kesengajaan," jelas Andika.
"Maksudnya ada orang yang mau mencelakai Papah?"
"Siapa yang mau mencelakai keluarga kita? Aku jadi takut jika suatu saat terjadi lagi."
"Tenang, sayang. Mas akan berusaha melindungi kalian. Tapi kok Mas curiga sama Vanesa," kata Andika.
"Mana mungkin? Aku rasa tidak, lagian Kak Nesa baru juga keluar dari penjara. Masa sih berbuat kriminal lagi."
"Itu bisa saja terjadi, tapi kamu tenang saja, sayang. Tadi Mas sudah melaporkan kasus ini ke polisi."
"Syukurlah, semoga polisi bisa melacak keberadaan orang itu."
"Semoga saja, sayang."
__ADS_1
Tak lama, pintu ruangan itu terbuka. Dokter keluar dari ruangan itu dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tebak.
"Dok, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Anara yang kini sudah berdiri.
"Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun takdir berkata lain. Pasien tidak bisa di selamatkan," ucapnya.
"Tidak mungkin," ucap Anara dengan sedikit berteriak. Lalu dia menutupi mulutnya dengan tangan. Air matanya menetes begitu saja.
Anara bukan wanita kuat, dia sangat lemah dan rapuh. Kehilangan seseorang yang paling berharga di hidupnya, tentu menyisakan luka yang mendalam. Banyak kenangan indah yang sudah dia lewati bersama ayahnya. Padahal masih ada satu hal yang Pak Indra inginkan, yaitu menyaksikan cucunya menikah. Namun semua keinginannya itu seolah sirna begitu saja. Karena kini Pak Indra sudah pergi terlebih dahulu.
"Sayang, tenanglah," Andika memeluk istrinya dan mencoba untuk menenangkannya.
"Silahkan jika pihak keluarga mau melihat jenazah Pak Indra, sebelum pihak rumah sakit memindahkannya ke ruang jenazah," ucap Dokter.
"Baik, Dok." ucap Bu Sinta.
Mereka semua segera masuk ke ruangan itu.
Anara masih terisak, badannya lemas seolah tak bertenaga. Sejak tadi Andika hanya menopang tubuh istrinya agar tidak terjatuh.
"Sayang, kita duduk dulu yuk!" ajak Andika.
"Tidak mau, aku mau disini saja," ucap Anara yang sedang berdiri di pinggir ranjang pasien.
"Sayang, kamu kenapa?" Andika melihat istrinya yang sudah tak sadarkan diri.
"Dika, cepat bawa istrimu untuk periksa. Mamah takut dia kenapa-napa," pinta Bu Sinta.
"Iya, Mah." Andika menggendong istrinya, lalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Setelah kepergian Andika, kini Bu Sinta mencoba untuk menghubungi Vanesa dan memberitahukan kabar duka itu. Vanesa menangis histeris saat mendengar jika Ayahnya meninggal.
°°°°°°°°°