
Beberapa orang yang menyaksikan kecelakaan itu berlari untuk menolong Aldi. Seorang ibu-ibu mendekati Anara dan membantunya berdiri.
"Biar saya bantu," ucapnya.
"Terima kasih, Bu." kata Anara.
"Sama-sama, apakah bisa jalan?"
"Bisa, saya mau menemui suami saya. Saya takut jika lukanya parah," ucap Anara sambil memegangi perutnya.
"Perut Ibu sakit?"
"Saya tidak apa-apa kok, saya bisa menahannya," ucap Anara.
"Sebaiknya saya antar ke rumah sakit yah," tawarnya.
"Tidak mau! Saya mau melihat suami saya," ucap Anara.
"Ibu tenang saja, ambulan sedang di dalam perjalanan. Tadi sudah ada yang menghubungi. Lebih baik Ibu harus di periksa dulu, karena takut jika kandungannya bermasalah akibat jatuh tadi?" ucapnya.
Anara sempat ragu, namun akhirnya dia mau pergi. Ibu-ibu itu mengantar Anara menuju ke rumah sakit. Anara menatap ada ambulan lewat. Mungkin itu ambulan yang akan membawa suaminya. Anara terus berdoa agar suaminya baik-baik saja dan lukanya tidak parah.
Saat ini Anara sudah sampai di rumah sakit. Ibu-ibu yang bersamanya langsung pergi setelah mengantarnya ke Dokter kandungan.
Anara sudah di periksa, dan menurut Dokter harus melahirkan sekarang. Itu pun tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal.
"Dok, tapi sebelum melahirkan, saya ingin bertemu suami saya," ucap Anara.
"Maaf, tapi suaminya dimana?" tanya Dokter.
"Suami saya korban kecelakaan yang baru datang tadi," ucapnya.
"Maaf, Bu. Sebaiknya jangan," ucapnya.
Sebenarnya Dokter itu takut jika Anara menemui suaminya akan memperburuk kondisinya. Apalagi suaminya baru saja kecelakaan.
Tok tok
Pintu ruangan Dokter ada yang mengetuk dari luar. Asisten dari Dokter itu segera membuka pintu. Ternyata yang datang Ani bersama Baby Adel.
"Non Nara, bagaimana keadaannya? Maaf ya tadi saya menemani Tuan Aldi dulu," ucap Ani.
"Bagaimana kondisi suami saya?" Anara menatap Ani dengan perasaan penuh khawatir.
Ani menatap Dokter yang sedang duduk di depan Anara. Dokter itu menggeleng-gelengkan kepalanya seolah melarang Ani untuk mengatakan yang sejujurnya.
__ADS_1
"Lukanya tidak terlalu parah kok," ucap Ani yang sengaja berbohong.
"Tuh kan tidak apa-apa, lebih baik sekarang Ibu Anara segera di tangani. Karena takut terjadi apa-apa dengan anaknya," ucap Dokter.
"Baiklah," ucap Anara.
Sebenarnya Anara merasa gelisah. Dia takut jika suaminya kenapa-napa.
Anara duduk di kursi roda, lalu Aisten Dokter mendorong kursi roda itu menuju ke ruang operasi persalinan.
Ani mengikuti Anara sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi Bu Sinta.
Ani menunggu di depan ruangan operasi sambil duduk di kursi tunggu. Untung saja Baby Adel tidak rewel, jadi dia tidak terlalu kelelahan.
Tak lama, Bu Sinta datang sendirian. Dia melihat Ani yang sedang duduk sambil memangku Baby Adel.
"Ani, bagaimana keadaan Anara dan Andika?" tanya Bu Sinta.
"Mereka sedang di operasi," ucapnya.
"Apa?" Bu Sinta menutup rapat mulutnya dengan satu tangannya, karena merasa terkejut. "Operasi apa? Apakah lukanya parah?"
"Kalau Non Anara operasi persalinan, sedangkan Tuan Aldi memang lukanya serius, jadi harus di operasi," ucapnya.
Bu Sinta mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam tas. Lalu menghubungi Andika untuk memberitahu kondisi Anara dan Aldi.
🍀🍀🍀🍀
Pak Indra melihat menantunya keluar dari kamar dengan memakai pakaian rapih. Kebetulan tadi juga baru pulang.
"Nak, kamu mau kemana?" tanya Pak Indra.
"Mau ke rumah sakit, Pah. Katanya Aldi dan Anara sedang di operasi. Mereka kecelakaan," ucapnya.
Pak Indra kaget mendengar kabar buruk itu.
"Saya ikut, Nak. Sebentar yah mau ganti pakaian dulu. Oh iya, Vanesa mana?"
"Vanesa belum pulang," ucapnya.
"Memangnya tidak pulang sama kamu?"
"Tidak, tadi aku pulang sama Mamah, karena Mamah menyuruhku mengantarnya ke toko perabot," ucapnya.
Hanya sebentar Pak Indra mengobrol dengan Andika. Pak Indra segera pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
__ADS_1
Kini Pak Indra sudah rapih, lalu menghampiri Andika. Keduanya segera pergi ke rumah sakit. Di perjalanan, Pak Indra sudah mencoba untuk menghubungi Vanesa. Namun nomornya tidak aktif.
Setelah sampai di rumah sakit, keduanya menghampiri Bu Sinta.
"Mah, bagaimana keadaan Aldi dan Nara?" tanya Andika yang kini sudah ada di dekat Ibunya.
"Kita doakan saja yang terbaik," ucapnya.
Andika menatap Baby Adel yang kini bersama Ani.
"Biar Adel sama saya, kamu pasti cape,"ucap Andika.
"Baik, Tuan." Ani menyerahkan Baby Adel kepada Andika.
Andika meatap ruangan di depannya, ternyata itu ruang persalinan.
"Mah, Nara di dalam yah?" tanya Andika.
"Iya, Nak." ucapnya.
"Lalu dimana ruangan Aldi?"
"Ada di ruang operasi, di sebelah sana," Bu Sinta menunjuk lorong rumah sakit menuju ke ruang operasi.
"Ya sudah, aku kesana dulu yah. Ini mau ajak Adel juga," ucapnya.
"Iya, Nak."
Andika pergi ke ruang operasi, lalu dia menunggunya di depan. Kebetulan Pak Indra juga mengikutinya.
Cukup lama menunggu, akhirnya Dokter yang menangani Anara keluar dari ruangan itu. Bu Sinta berdiri lalu mendekati Dokter itu.
"Dok, bagaimana kondisi Anara?" tanya Bu Sinta.
"Alhamdulilah, Ibu dan anaknya dalam keadaan sehat," ucapnya.
"Syukurlah," Bu Sinta merasa senang karena Anara dan anaknya baik-baik saja.
Bu Sinta menoleh ke Ani yang sedang berdiri di dekatnya.
"Ani, tolong panggil Andika! Suruh dia untuk mengadzankan anaknya Anara," pinta Bu Sinta.
"Baik, Nyonya." Ani segera pergi dari sana.
°°°°°
__ADS_1