
Eva sudah bicara kepada ibunya bahwa nanti malam ada yang akan datang untuk melamarnya. Tentu Bu Anara terkejut, rasanya berat sekali untuk mengijinkan anak keduanya menikah lebih dulu. Karena menurut kepercayaan orang jaman dulu, tidak baik jika seorang adik perempuan menikah melangkahi kakak perempuannya.
Adelia menghampiri Ibu dan Adiknya yang sedang mengobrol.
“Ada apa ini, Mah? Sepertinya serius sekali?” Anara mendudukan dirinya di sebelah ibunya.
“Adikmu mau di lamar,” ucap Bu Anara.
“Benarkah? Wah selamat Eva, Kakak turut bahagia,” Adelia tersenyum senang sambil menatap adiknya.
“Del, Mamah ingin kamu juga memperkenalkan calonmu,” pinta Bu Anara penuh harap.
Sudah beberapa kali Bu Anara menyuruh Adelia untuk mencari pasangan. Namun kali ini Adelia melihat tatapan berbeda dari mata ibunya. Terlihat sekali jika Bu Anara begitu berharap kepadanya.
‘Mungkin aku bisa meminta lelaki itu untuk membantuku,’ batin Adelia sambil mengingat Reno Wijaya. Lagian jika di lihat-lihat, Reno cukup tampan.
“Iya, Mah. Besok akan Adel kenalin ke Mamah,” ucapnya.
“Wah, Mamah senang mendengarnya, Nak.”
Adelia melihat raut wajah ibunya yang terlihat bahagia.
Bu Anara memeluk Adelia dan Eva. Jujur saja saat ini perasaannya sangat bahagia mendengar ke dua anaknya sudah mempunyai pasangan.
“Mah, aku mau ke kamar dulu ya,” ucap Adelia yang sudah melepaskan pelukan ibunya.
“Iya, Nak.”
__ADS_1
Bu Anara menatap kepergian anaknya sambil tersenyum. Eva juga menatap kepergian kakaknya.
‘Aku jadi penasaran, siapa sih kekasih Kak Adel,’ batin Eva.
•••••••••••••
Sesuai janjinya, malam ini Rian datang untuk melamar Eva. Dia datang bersama ayahnya.
Pak Andika dan keluarganya menyambut kedatangan calon besannya.
“Selamat datang, Pak Dirga, Nak Rian. Saya tidak menyangka jika pacar anak saya itu anaknya Pak Dirga,” Pak Andika dan Pak Dirga saling berjabat tangan.
“Akhirnya kita menjadi besan ya, Pak Dika. Saya senang sekali karena bisa menjadi bagian dari keluarga Pak Dika,” ucapnya sambil menatap Adelia.
‘Apa dia yang bernama Eva? Aku sering melihatnya di berbagai pertemuan, namun tidak tahu namanya,’ batin Pak Indra.
Adelia yang di tatap Pak Dirga, hanya memperlihatkan senyum manisnya.
Kini semuanya sudah duduk saling berhadap-hadapan.
“Jadi begini, Pak Indra. Niat kedatangan saya kesini untuk melamar putri Pak Indra yang bernama Eva untuk anak saya Rian,” ucap Pak Dirga.
“Dengan senang hati saya menerima lamaran Pak Dirga,” ucap Pak Indra dengan ramah.
“Syukurlah, bagaimana jika langsung tukar cincin saja. Kebetulan Rian sudah menyiapkannya.”
“Boleh, Pak.” Ucap Eva.
__ADS_1
Eva beralih duduk di dekat Rian.
‘Jadi dia yang bernama Eva? Kirain gadis bermata biru itu,’ batin Pak Dirga.
Walaupun Pak Dirga sedikit kecewa, karena ternyata bukan Adelia yang menjadi menantunya, namun beliau tetap merestui Rian. Karena Rian terlihat serius dengan Eva.
Rian mengambil cincin yang dia taruh di saku celananya, lalu dia menyematkan cincin itu ke jari manis Eva. Semua yang menyaksikan momen itu, merasa bahagia.
Adelia mengabadikan momen itu dengan kamera miliknya. Setelah mengambil beberapa foto, kini Adelia kembali duduk di sebelah ibunya.
Hanya satu jam Pak Dirga dan Rian bertamu. Kini ke duanya sudah pulang.
Bu Anara menatap Eva yang sejak tadi memandangi cincin yang melingkar di tangannya.
“Duh, yang sedang berbunga-bunga,” sindir Bu Anara.
“Mamah apaan sih,” ucap Eva yang terlihat malu-malu.
“Besok giliran ketemu sama kekasihnya Adel,” kata Bu Anara sambil menatap Adelia.
Adelia yang sedang minum, kini terbatuk-batuk.
Uhuk uhuk
“Hati-hati dong, Del. Masa hanya minum saja kok batuk,” Bu Anara menatap anaknya yang masih terbatuk-batuk.
“Mah, aku mau ke kamar dulu,” setelah meletakan gelas yang tadi dia pegang, Adelia langsung beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Kini Adelia sudah berada di kamar. Dia menghubungi nomor Reno untuk mengajaknya bertemu. Niatnya dia akan meminta tolong Reno untuk menjadi kekasih pura-puranya.
°°°°°°°°°