Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.92


__ADS_3

Kiara dan keluarga Alan sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Kiara sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alan. Dia sangat mengkhawatirkan keadaannya.


Kiara masuk ke mobil Pak Andika, bersama Bu Anara juga. Sedangkan Eva dan Reno menaiki mobil lain.


Sepanjang perjalanan, Kiara merasa gelisah. Dia takut jika Alan terluka parah. Kiara sendiri belum tahu bagaimana keadaan Alan, karena Bu Anara atau pun suaminya tidak mengatakan apa pun kepadanya. Bu Anara hanya mengatakan, lihat sendiri saja nanti di rumah sakit.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Dengan tidak sabar, Kiara langsung keluar dari mobil.


"Mah, dimana ruangan Alan? Ayo kita langsung masuk!" ajak Kiara, yang terlihat tidak sabaran.


"Sebentar, Kia. Kita tunggu Papah sedang memarkirkan mobil," ucap Bu Anara yang kini berdiri di depan rumah sakit.


Terlihat Pak Andika bersama Eva dan Reno mendekat ke arah mereka.


"Ayo masuk!" ajak Pak Andika.


Mereka berjalan berdampingan memasuki rumah sakit. Mereka pergi ke ruangan dimana Alan berada.


Kini mereka berdiri di depan ruang inap yang di tempati oleh Alan. Saat Bu Anara hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka duluan dari dalam. Terlihat Dokter wanita yang habis memeriksa keadaan Alan.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Bu Anara.


"Tadi saya masuk karena putra ibu pingsan."


"Lalu, bagaimana keadaannya saat ini?" tanya Bu Anara.

__ADS_1


"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi--" ucapan dokter terhenti karena Kiara yang tiba-tiba berucap.


"Tidak, ini tidak mungkin," Kiara langsung menerobos masuk ke ruangan itu. Dia melihat tubuh Alan yang sudah di tutup rapat menggunakan kain putih.


Kedua mata Kiara berkaca-kaca. Dia membuka kain putih itu. Dia melihat wajah Alan yang terlihat pucat.


"Alan, bagaimana mungkin kamu pergi secepat ini? Bagaimana dengan aku dan Keandra? Kamu jahat, kamu tega meninggalkan kami. Alan, aku mencintaimu. Maafkan aku karena tidak pernah jujur dengan perasaanku," Kiara langsung memeluk tubuh Alan. Dia masih terisak, karena merasa sangat kehilangan.


Bu Anara dan yang lainnya saling tatap, lalu mereka tersenyum.


"Aku juga mencintaimu," ucap Alan.


Mendengar suara Alan, spontan Kiara melepaskan pelukannya. Dia melihat Alan yang kini sudah membuka kedua matanya, bahkan sedang tersenyum menatapnya.


"Alan, bagaimana bisa kamu hidup lagi? Atau jangan-jangan kamu ngerjain kita ya?"


Kiara beralih menatap Bu Anara dan yang lainnya.


"Maaf, Kia. Kita hanya mengikuti rencana Alan untuk mengerjai kamu, dan sekarang kita tahu bahwa kamu juga mencintai Alan," ucap Bu Anara.


"Ih aku malu tahu," Kiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ngapain malu? Aku sudah dengar kok pengakuan cintamu. Aku juga cinta sama kamu, Kia." Alan melepaskan tangan Kiara yang menutupi wajahnya. Sekarang dia memegang kedua tangan itu. Sesekali dia menciumi punggung tangan itu.


"Kia, di depan semua keluargaku, aku mau mengatakan jika aku melamarku sebagai istriku. Apakah kamu mau menerimaku?"

__ADS_1


Bu Anara terlihat bahagia melihat anaknya yang sudah mau bertanggung jawab. Semoga saja mereka berdua memang berjodoh.


"Tidak mau," ucap Kiara.


"Kenapa kamu menolakku? Bukankah kamu juga mencintaiku. Memangnya kamu tidak mau jika kita bersama?" Alan menatap lekat wajah cantik Kiara.


"Aku tidak mau jika kamu melamarku di rumah sakit seperti ini, dan aku ingin kita secepatnya menikah."


"Siap, sayang. Laksanakan. Mau sore ini menikah juga aku tidak keberatan. Biar nanti malam langsung malam pertama."


Plak


Bu Anara memukul bahu anaknya.


"Mamah kenapa sih pukul aku?" tanya Alan.


"Kamu masih sempat-sempatnya membicarakan malam pertama, “Bu Anara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Alan turun dari atas ranjang pasien.


"Kia, ayo kita pergi! Aku mau bermesraan denganmu," Alan menarik tangan Kiara, dia mengajaknya keluar dari ruangan itu, meninggalkan keluarganya yang masih berdiri disana.


"Dasar anak itu, kalau sudah dapat kesenangannya, kita semua di abaikan," gumam Bu Anara.


"Ayo kita pulang saja, Mah." ajak Pak Andika.

__ADS_1


Mereka memilih untuk pulang. Semuanya bernapas lega saat melihat Alan dan Kiara yang sudah bersatu. Tinggal menunggu saja kapan hari pernikahan mereka.


__ADS_2