
Bu Sinta melihat kepulangan Andika dan Anara. Namun Andika merengkuh pinggang Anara. Itu yang membuat Bu Sinta merasa aneh saat melihat mereka. Karena mereka terlihat seperti sepasang kekasih.
"Ekhm, romantis sekali kalian," Bu Sinta tersenyum menatap ke duanya.
"Tidak kok, Mah. Tadi Nara hanya kedinginan," kata Andika.
"Ya sudah deh, cepat kamu antar ke kamar. Jangan lupa ganti pakaian yang hangat, Nara." ucapnya, sambil menatap Anara.
"Baik, Mah." ucap Anara.
Andika mengantar Anara hingga ke kamar.
Sesampainya di kamar, Anara melepas jas milik Andika. Lalu kembali memberikannya.
"Terima kasih," kata Anara.
"Sama-sama, ya sudah kamu istirahat dulu, aku mau keluar."
"Aku mau mandi dulu saja," kata Anara.
"Dingin loh, ini malam-malam."
"Tidak apa-apa, dari pada bekas lelaki itu masih menempel di tubuhku."
"Mau aku temani tidak?"
Anara menatap Andika lalu memukul pelan lengan tangannya.
"Jangan mencari kesempatan!"
Cup
Dengan cepat, Andika mencium bibir Anara.
"Aku keluar dulu," setelah mengatakan itu, dia langsung pergi.
Anara menatap kepergian Andika sambil memegang bibirnya yang tadi di cium olehnya.
'Apakah aku terlihat seperti wanita murahan,' batin Anara.
Anara segera mengunci pintu kamarnya. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Entah kenapa Anara senyum-senyum sendiri. Sikap hangat Andika, mengingatkan dia kepada mantan suaminya yang telah tiada.
Anara memilih untuk membersihkan diri dengan cepat, karena takut masuk angin. Setelah itu dia membuka kunci kamarnya, karena takutnya Ani masuk dengan membawa salah satu anaknya.
__ADS_1
°°°
Pagi ini Anara bangun lebih awal. Setelah selesai mandi, dia bercermin sambil menatap penampilannya.
'Kenapa bekas kiss mark ini masih terlihat jelas juga,' batin Anara yang sedikit mengeluhkannya.
Anara segera mengoleskan foundation di lehernya.
Andika melihat Anara yang baru keluar dari kamar.
"Pagi, sayang." ucapnya, sambil menatap Anara.
"Kak Dika kok sudah ada disini pagi-pagi seperti ini?"
"Aku sengaja menginap, tapi sayang tidurnya sendirian."
"Ajak Adel saja kalau mau tidur, nanti tidak sendirian lagi."
"Maunya tidur sama Mamahnya Adel," ucap Andika sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ekhm ekhm, jangan mau Nara, nanti malah di hamilin lagi. Dia kan hobinya hamilin orang," ucap Bu Sinta saat mendengar obrolan mereka.
Anara semakin malu saat melihat Bu Sinta sedang melangkah mendekati mereka. Apalagi pembicaraan mereka menurutnya sangat vulgar.
"Nara pergi dulu, Mah." setelah mengatakan itu Anara pergi ke kamar anaknya.
"Biarkan saja, Nak. Siapa tahu suatu saat Anara akan baper sama kamu."
"Semoga saja, Mah. Andika akan menunggu sampai saat itu."
Setelah selesai mengobrol dengan Ibunya, Andika bersiap untuk pulang. Karena dia tidak membawa pakaian ganti.
Setelah mengecek anak-anaknya di kamar, Anara langsung pergi sarapan. Karena kebetulan anak-anaknya masih tidur.
"Nara, Mamah lihat kamu dan Dika cocok loh," ucap Bu Sinta yang sedang duduk di depan Anara.
Anara menghentikan tangannya yang akan menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Mamah ada-ada saja."
"Sungguh, kalian itu cocok. Mamah setuju kalau kamu menikah sama Dika."
Sejenak Anara berpikir, memang Andika selama ini begitu baik dan perhatian. Terutama kepada anak-anak.
"Nanti Nara pikirkan lagi," ucapnya.
__ADS_1
"Jangan kelamaan mikirnya, nanti keburu Dika di dekati wanita lain."
"Iya, Mah."Anara tersenyum menatap Bu Sinta.
Setelah selesai sarapan, Anara dan Bu Sinta saling mengobrol, sambil menunggu kedatangan Andika. Karena Andika akan mengantarnya pergi ke cafe.
°°°°
Anara sedang fokus dengan layar laptopnya. Dia mendengar ketukan pintu dari luar ruangannya.
"Masuk!" ucap Anara.
Dinda masuk untuk mengantar orange jus. Sebenarnya dia malas sekali untuk mengantarkannya, namun dia di suruh oleh teman kerjanya karena temannya itu sedang mengerjakan pekerjaan lain.
"Silahkan minumnya," Dinda menaruh gelas berisi orange jus itu di atas meja kerja Anara.
"Terima kasih," Anara tersenyum menatap Dinda.
"Sama-sama," ucap Dinda, namun pandangannya terfokuskan pada leher Anara yang ada bekas kiss mark. Dia bukan perempuan bodoh, walaupun belum menikah, tapi dia tahu itu tanda apa.
"Saya permisi dulu," ucapnya lagi.
Anara menyeruput orang jus yang ada di atas meja.
Dinda sudah keluar dari ruangan Anara. Tak sengaja dia bertabrakan dengan teman kerjanya.
"Aduh," Dinda memegangi keningnya yang tak sengaja berbenturan dengan bahu Agus.
"Kenapa jalannya melamun?"
"Tidak kok, aku hanya sedang heran saja."
"Heran kenapa?"
"Itu Bos kita di lehernya ada kiss mark jelas sekali, ternyata suka main juga dia," kata Dinda.
"Masa sih? Sepertinya Bu Nara bukan wanita seperti itu," Agus merasa tidak percaya dengan omongan Dinda.
"Kalau tidak percaya boleh lihat sendiri."
"Ah malas, nanti di kira cari perhatian kalau tiba-tiba masuk ruangannya."
Setelah selesai mengobrol dengan Agus, Dinda segera pergi.
Dinda sudah menyebarkan gosip mengenai kiss mark yang dia lihat di leher Anara ke semua rekan kerjanya.
__ADS_1
Anara mengambil cermin kecil miliknya karena dia akan melihat penampilannya. Kedua matanya terbelalak saat melihat foundation yang dia pakai sudah luntur. Bekas kiss mark yang ada di lehernya terlihat sangat jelas.
'Astaga, kelihatan sekali. Jangan-jangan tadi Kak Dinda melihatnya,' batin Anara.