Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.82


__ADS_3

Rian sesekali manatap Anara yang masih termenung. Terlihat sekali raut kekecewaan di wajahnya. Dia sudah berusaha bertanya, namun Anara tetap diam. Dia tidak mau mengatakan sepatah kata pun.


Rian membawa Anara pulang. Karena dia tahu jika kondisi Anara saat ini tidak memungkinkan jika kembali ke cafe.


Setelah lama mengemudi, kini mereka sudah sampai di depan rumah. Rian membantu Anara turun dari mobil. Dia terus memapahnya hingga mereka masuk ke rumah.


Bu Sinta melihat Anara datang bersama Rian. Namun dari raut wajahnya, Anara terlihat sedang sedih.


"Anara kenapa?" Bu Sinta bertanya kepada Rian.


"Aku juga tidak tahu, Tan. Dia tiba-tiba seperti ini," ucapnya.


"Ayo bawa ke kamar!" Bu Sinta mengantar Rian ke kamar Anara.


Anara di baringkan di atas tempat tidur. Bu Sinta mencoba mengajaknya berbicara. Namun Anara masih terlihat diam.


"Tolong mintain air hangat ke Bibi!" ucap Bu Sinta, kepada Rian.


"Baik, Tante." Rian segera keluar dari kamar itu.


Rian sudah kembali dengan membawa satu gelas air hangat.


"Ini airnya," Rian meletakan gelas berisi air putih hangat di atas meja.


"Terima kasih," ucap Bu Sinta.


"Sama-sama," ucapnya. Lalu dia berpamitan pergi keluar saat mendengar tangisan anak Anara.


Rian melihat Eva yang sedang menangis di gendongan Ani. Dia mencoba mendekatinya lalu menghiburnya. Ternyata Eva diam dari tangisnya. Namun saat dia mencoba untuk menggendong, Eva menangis lagi.


"Biar sama saya saja," Ani kembali menggendong Eva.


"Ternyata mengurus anak kecil itu susah juga yah," Rian merasa jika mengurus seorang anak kecil adalah sebuah tantangan besar.


"Bukan hanya susah, tapi cape juga."

__ADS_1


Rian menatap Ani yang dengan telaten bisa membuat Eva diam dari tangisnya.


'Sepertinya aku harus belajar banyak untuk mengurus anak kecil,' batin Rian.


Cukup lama Rian menemani Eva, sekarang dia berniat kembali lagi untuk melihat Anara.


Kebetulan Bu Sinta baru menutup pintu kamar Anara.


"Tante, bagaimana keadaan Anara?"


"Dia sudah tidur, sebaiknya kamu jangan temui dia dulu."


"Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang saja. Tapi saya janji jika nanti malam akan datang lagi untuk melihat keadaan Anara.


"Terima kasih ya, karena sudah mengantar Anara pulang."


"Sama-sama, itu sudah tugas saya untuk menjaganya. Kalau begitu saya permisi," setelah mengatakan itu, Rian segera pergi keluar dari rumah itu.


🍀🍀🍀🍀


Sudah beberapa minggu ini Anara tidak pergi ke cafe. Dia memilih untuk menenangkan dirinya. Anara ingin melupakan Andika dengan memulai lembaran baru.


Pak Indra mendengar ketukan pintu dari depan rumah. Lalu dia membukakan pintu itu. Pak Indra melihat kedatangan Rian dengan membawa bingkisan kue.


"Ayo masuk, Nak!" ajaknya.


"Terima kasih," Rian tersenyum ramah menatap Pak Indra.


"Sama-sama, pasti Nak Rian mau bertemu sama Nara yah?"


"Benar, saya ingin bertemu Anara."


"Duduklah dulu! Biar saya panggilkan Anara dulu."


"Siap," Rian mendekati sofa yang ada di ruang keluarga, lalu dia duduk disana.

__ADS_1


Pak Indra sudah memanggil Anara. Kini mereka sudah berada di ruang keluarga.


"Maaf, Pak. Mungkin saya langsung saja berbicara niat kedatangan saya," sejenak Rian menjeda perkataannya. "Saya ingin meminang Anara untuk menjadi istri saya," ucapnya lagi.


Pak Indra merasa terkejut karena tiba-tiba saja Rian melamar anaknya. Padahal dia belum kenal dekat dengan Rian. Pak Indra menatap Anara yang duduk di sebelahnya.


"Bagaimana, Nak? Apa kamu menerimanya?" tanya Pak Indra.


"Iya, Pah. Anara mau menerimanya," ucap Anara.


Rian merasa lega karena Anara mau menerima pinangannya.


Pak Indra hanya menurut saja dengan keputusan Anara. Walaupun sebenarnya dia lebih setuju jika Anara bersatu dengan Andika.


'Mungkin ini keputusan yang terbaik, aku tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan hanya karena lelaki yang memberikan harapan palsu,' batin Anara.


Anara memang tahu jika saat ini


ke dua anaknya belum begitu akrab dengan Rian. Pikirnya, lama-lama juga akan terbiasa, dan anaknya pasti akan menerima Rian sebagai ayah sambungnya.


Kini mereka bertiga lanjut mengobrol.


Tak lama, Bu Sinta datang. Pak Indra mengatakan semuanya kepada Bu Sinta, bahwa Anara dan Rian akan menikah. Jujur saja Bu Sinta merasa terkejut. Dia sudah mengharapkan jika Anara menikah dengan Andika. Namun sepertinya mereka berdua tidak berjodoh.


Bu Sinta berusaha menerimanya. Dia hanya bisa berdoa agar Anara dan Rian berbahagia.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Bu Sinta di sela-sela obrolan mereka.


"Dua minggu lagi," ucap Rian.


"Semoga semuanya lancar, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik," ucap Bu Sinta, sambil tersenyum.


"Amin, semoga saja, Tan." ucap Rian.


Bu Sinta memaksakan senyumannya. Padahal dalam hatinya masih sedikit tidak rela jika Anara menikah dengan Rian.

__ADS_1


°°°°°°


Bakalan ada kejutan, lihat saja nanti. Jangan lupa like, komennya.


__ADS_2