Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.35


__ADS_3

Terlihat Bu Sinta baru keluar dari kamarnya. Dia membawa koper besar miliknya. Bu Sinta menghampiri anak dan menantunya yang sedang duduk.


"Mah, Mamah mau pergi sekarang?" Aldi menatap Bu Sinta yang sedang berjalan ke arahnya.


"Iya nih, sekalian nanti mau mampir ke rumah Pak Indra. Mamah mau pamitan juga sama Andika." ucapnya.


"Mah, hati-hati yah," ucap Anara.


"Iya, Nak." Bu Sinta tersenyum menatap menantunya.


"Biar Aldi antar yah, Mah." Aldi menawarkan diri untuk mengantar Ibunya.


"Tidak usah, Mamah di antar supir saja," ucapnya.


"Baiklah," ucap Aldi.


Aldi dan Anara mengantar Bu Sinta ke depan rumah. Mereka menatapnya hingga Bu Sinta memasuki mobil, bahkan sampai mobil itu menjauh dari pandangan matanya.


Anara melangkah masuk duluan, tanpa mengajak suaminya.


Nara kenapa yah? Kok sedikit aneh, dia juga banyak diamnya," gumam Aldi sambil menatap kepergian istrinya.


Aldi kembali masuk ke rumah. Dia duduk di sebelah istrinya.


Anara sibuk bercerita dengan Ani. Bahkan dia mengabaikan suaminya yang ada di dekatnya.


"Sayang," Aldi menepuk pelan bahu istrinya.


"Ada apa?"Anara menoleh, manatap suaminya.


"Tidak kok, ke kamar yuk!" ajak Aldi.


"Masih sore, Kak."


"Kamu marah yah sama aku?"


"Tidak kok," ucap Anara.


"Jika ada masalah cerita saja. Aku siap mendengar apa pun itu."


"Tidak ada masalah kok," ucapnya.


"Aku ke dapur dulu yah mau masak," Anara beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi.


Nara seperti sedang menghindariku," gumam Aldi, sambil menatap kepergian istrinya.


Tring

__ADS_1


Ponsel milik Aldi berbunyi. Terlihat nomor yang tidak di kenal menghubunginya. Aldi mengangkat panggilan itu karena takutnya ada hal penting.


Ternyata itu nomor Sherina. Aldi sama sekali tidak pernah memberikan nomor barunya kepada Sherina. Namun setelah dia bertanya, ternyata Sherina tahu nomor dia dari Dinda. Hanya sebentar mereka bertelfonan, karena menurut Aldi, pembahasan mereka tidak penting.


Aldi menghampiri istrinya yang saat ini sedang ada di dapur.


"Sayang, kamu masak apa?" Aldi memeluk istrinya dari belakang.


"Sup ayam," ucap Anara, lalu dia mencoba melepaskan pelukan suaminya.


"Pasti enak nih masakan kamu," Aldi kembali mendekati istrinya, namun Anara melangkah pergi. Anara menyibukan dirinya dengan mengerjakan yang lain.


"Kenapa kamu diam saja?" Aldi merasa aneh dengan sikap istrinya.


"Lagi malas bicara," jawab Anara.


"Baiklah, aku tidak akan ganggu kamu," Aldi pergi dari sana, karena dia merasa jika suasana hati istrinya sedang tidak baik.


°°°


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Saat ini sudah menjelang jam makan malam. Aldi pergi ke kamar anaknya untuk mengajak istrinya makan malam bersama.


Tok tok


"Sayang," Aldi membuka pintu yang memang tidak terkunci. Dia menghampiri istrinya yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Iya," hanya itu yang Anara katakan. Anara meminta Ani untuk menjaga Baby Adel. Lalu dirinya pergi bersama Aldi untuk makan malam.


Anara hanya diam saja, dia tidak berbicara apa pun saat makan malam. Hanya suara dentuman sendok yang terdengar di telinga mereka. Aldi mencoba untuk membuat suasana lebih indah dengan meminta di suapi oleh istrinya.


"Sayang, suapin dong!" pinta Aldi.


Anara menurut, dia mulai menyuapi suaminya. Namun dia masih diam sama seperti tadi.


Sepertinya Nara tidak niat menyuapiku? batin Aldi, sambil melihat istrinya yang sejak tadi hanya diam.


Keduanya sudah selesai makan malam. Aldi segera pergi bersantai si ruang keluarga. Sedangkan Anara membereskan piring kotor bekas mereka makan.


"Non, biar Bibi saja yang membereskan, biasanya juga Bibi," Bi Inem menghampiri Anara dan berdiri di sampingnya.


"Tidak usah, Bi. Biar Nara saja," ucapnya.


"Bibi bantuin yah," Bi Inem membawa tempat nasi dan mangkuk berisi sup ayam. Lalu menyimpannya di tempat penyimpanan makanan.


Bi Inem melihat Anara yang sedang mencuci piring kotor.


"Non Anara kenapa? Kok tidak seperti biasanya, seperti ada masalah," Bi Inem mencium bau-bau keanehan dari sikap Anara.

__ADS_1


"Tidak kok, Bi." Anara tersenyum menatap Bi Inem.


Anara bukanlah orang yang suka bercerita ke siapa saja jika dia ada masalah, dia lebih sering diam.


Setelah selesai mencuci piring, Anara pergi ke kamar anaknya.


Aldi melihat Anara yang sedang berjalan menuju ke kamar anaknya.


Bi Inem menghampiri Aldi dan membawakan minum.


"Tuan, ini teh hangat untuk Tuan," Bi Inem menaruh gelas berisi teh hangat ke atas meja.


"Terima kasih, Bi." ucap Aldi.


"Sama-sama, Tuan. Oh iya, itu Non Anara kenapa yah? Sejak tadi hanya diam," tanya Bi Inem.


"Entahlah, saya juga tidak tahu."


"Mungkin Tuan menyinggung perasaannya. Biasanya wanita itu kalau diam terus berati sedang ada masalah atau semacamnya."


"Perasaan kami tidak ada masalah apa pun," ucap Aldi.


"Coba Tuan ingat-ingat lagi," ucap Bi Inem.


Aldi mencoba mengingat, namun dia merasa jika dia tidak ada masalah, apalagi menyinggung perasaan istrinya.


"Tidak ada masalah, Bi."ucap Aldi.


"Bibi permisi dulu yah,Tuan. Bibi doakan semoga Nona Anara ceria lagi seperti biasanya."


"Amin, Bi." ucap Aldi.


Bi Inem pergi dari hadapan Aldi.


Cukup lama Aldi duduk di sana, dia memilih untuk menghampiri istrinya yang ada di kamar anaknya.


Aldi melihat istrinya yang sedang tidur sambil memeluk anaknya. Dia mencoba untuk membangunkannya. Namun Anara tidak juga bangun. Akhirnya Aldi keluar dari kamar itu.


Setelah kepergian suaminya, Anara membuka kedua matanya. Lalu dia menatap ke arah pintu.


Maaf yah, Kak. Nara belum siap tidur sama Kakak," batin Anara.


Bayang-bayang suaminya ber*ciuman dengan wanita lain, masih saja memenuhi pikirannya.


Anara mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Sebenarnya tadi dia belum tidur, karena kebetulan susah tidur. Namun saat mendengar pintu kamar terbuka, dia berpura-pura tidur.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2