Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.68


__ADS_3

Eva yang sedang duduk di pinggir ranjang, dia merasa gelisah.


"Sayang, kamu kenapa?" Reno mendekati istrinya, lalu duduk di sebelahnya.


"Aku masih gelisah, takutnya Kiara di luar sana kenapa-napa, Mas."


"Kamu tenang saja, sayang. Lagian Mas kan sudah bilang ke Mamah Nara, jika Kia datang tapi tidak masuk ke pesta. Mungkin sekarang mereka yang sedang mencari Kia. Begini saja, lebih baik kita buka saja kado darinya. Kamu penasaran tidak kado yang di berikan oleh Kia?"


"Iya, Mas. Aku ambil dulu kadonya."


"Sekalian yang dari Kak Reno, dan keluarga lain saja yang kita buka dulu."


"Baik, Mas." Eva beranjak dari duduknya, lalu mengambil kado yang di taruh di pojok ruangan kamar itu.


Reno juga membantu istrinya untuk membawa kado-kado itu.


Kado yang pertama kali Eva buka, yaitu kado yang diberikan oleh Kiara. Ternyata isi kado itu mukena berwarna putih dan sajadah. Terlihat sekali jika itu bukan harga yang mahal, namun Eva senang dengan kado itu yang menurutnya sangat bermakna.


"Aku hampir lupa, kapan terakhir kali melaksanakan Shalat," gumam Eva sambil memandang mukena berwarna putih itu.


"Sekarang kamu harus rajin Shalat, sayang. Ada Mas disini yang siap menjadi imam kamu."


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama, lagian itu sudah menjadi kewajiban Mas sebagai suami."


Kini Eva beralih membuka kado yang di berikan oleh Adelia dan Rian. Ternyata di dalamnya ada lingeria berwarna merah dan ada kotak kecil yang dia juga tidak tahu apa namanya.


"Mas, ini apaan?" Eva memperlihatkan kotak kecil itu.


"Sini biar Mas buka," Reno mengambil kotak kecil yang ada di tangan istrinya, lalu dia membukanya.


Ternyata isi kotak kecil itu jamu kuat. Ukuran botolnya memang kecil.


"Astaga, ini itu jamu kuat, sayang. Pasti ini kerjaannya Kak Rian."


"Kak Rian ada-ada saja deh, orang kaya kok kasih kado cuma jamu doang. Tidak niat sekali kasih kita kado mahal."


"Mungkin ini juga bermakna, sayang. Siapa tahu dengan jamu ini, malam pertama kita jadi lancar."


"Awas saja jika Mas Reno minum jamu itu, kita tidak usah malam pertama."


"Baiklah, sayangku. Jamu ini untuk lain waktu saja."

__ADS_1


Kado terakhir dari keluarga yang mereka buka, yaitu kado yang di berikan oleh Bu Anara.


Eva dan Reno kembali membereskan kado yang telah mereka buka. Sekarang mereka akan tidur.


"Aku mau cuci muka dulu," Eva beranjak dari duduknya, lalu dia pergi ke kamar mandi.


Kini Eva sudah kembali ke kamar. Dengan langkah yang sedikit canggung, dia melangkah mendekati suaminya yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Bagaimana, sayang? Apakah malam ini kita—“ Reno sengaja menjeda perkataannya.


"Aku malu," ucap Eva dengan sedikit menundukkan pandangannya.


"Jangan malu-malu, sayang." Reno memegang tangan Eva, lalu mengarahkannya untuk duduk.


Saat ini mereka saling berhadap-hadapan.


"Apa kamu siap untuk malam ini?" Reno meminta izin terlebih dahulu kepada istrinya.


"Siap, lakukanlah!" ucap Eva.


Reno mengajaknya naik ke atas tempat tidur. Dia merebahkan istrinya ke atas ranjang, lalu mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir istrinya.


Eva hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Saat ini keduanya sudah tak berbusana.


"Apa kamu siap?" Reno kembali bertanya saat hendak menyatukan miliknya.


Setelah mendapatkan lampu hijau, langsung saja dia melakukan penyatuan. Namun ternyata tak semudah yang dia kira.


"Kenapa sulit sekali? Sayang, kamu masih virgin?"


"Iya, Mas."


"Wah Mas tidak menyangka sama sekali. Apa Mas boleh melanjutkannya? Tapi sepertinya akan sedikit sakit, sayang."


"Lakukan saja, Mas."


Reno mencoba lagi untuk menyatukan miliknya. Setelah mencoba tiga kali, akhirnya dia berhasil.


"Sakit hiks ... " terlihat Eva yang merasa kesakitan. Air matanya keluar dari sudut kedua matanya.


"Maaf, sayang. Karena aku sudah menyakitimu," ucap Reno sambil mendiamkan miliknya.


"Tidak apa-apa, Mas. Lagian ini sudah kewajibanku sebagai seorang istri."

__ADS_1


"Apa kita sudahi saja, sayang. Aku kasihan melihatmu kesakitan."


"Lanjutkan saja, Mas. Aku tidak apa-apa kok."


"Baiklah, mas akan menggerakkannya perlahan."


Malam ini merupakan malam terindah untuk mereka berdua. Sama-sama untuk pertama kalinya mereka melakukan itu. Reno tidak menyangka jika istrinya itu masih virgin.


Reno mengelap keringat di kening istrinya. Dia merebahkan diri di samping istrinya setelah mereka selesai melakukan percintaan panasnya.


"Terima kasih, sayang. Karena kamu sudah menjaga kesucianmu untukku."


"Sama-sama, Mas."


"Sekarang kita langsung tidur saja, sayang."


"Iya, Mas."


Reno memeluk istrinya, lalu mulai memejamkan matanya. Begitu juga dengan Eva yang juga memejamkan kedua matanya.


°°°°°


Pagi harinya, Eva terbangun lebih dulu. Dia menatap suaminya yang masih tertidur dengan pulas.


"Lebih baik aku mandi dulu," gumam Eva, lalu dia hendak turun dari atas tempat tidur. Namun ternyata dia merasakan sakit di pangkal pahanya.


"Awww aduh," pekik Eva dengan sedikit meringis menahan sakit.


Reno langsung saja membuka kedua matanya saat mendengar suara istrinya.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Reno.


"Sakit, Mas."


"Maaf, sayang. Aku jadi merasa kasihan sama kamu."


"Tidak apa-apa, Mas. Lagian semua istri pasti pernah merasakannya."


"Kamu mau mandi? Mau Mas bantu gendong," tawar Reno.


"Terima kasih, Mas. Maaf merepotkan."


"Tidak sama sekali, sayang." Reno segera turun dari atas tempat tidur. Lalu dia menggendong istrinya, dan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


Mereka akhirnya mandi berdua. Reno membantu istrinya untuk mandi. Di antara keduanya tidak melakukan sesuatu yang lain, mereka hanya mandi saja.


Sebenarnya Eva merasa malu, namun dia tahan karena suaminya memang berhak atas dirinya. Lama-kelamaan dia juga akan terbiasa jika mereka harus selalu saling melihat saat tidak berbusana seperti itu.


__ADS_2