
Hari ini Adelia, Rian, dan Reno akan kembali ke indonesia. Mereka sudah bersiap untuk pergi ke bandara.
Adelia memeluk Clarissa sebagai salam perpisahan.
"Kak, nanti kalau lahiran, Kakak datang yah ke indonesia," pinta Adelia.
"Siap, nanti aku ajak suamiku untuk pergi, sekalian berlibur disana. Lagian sudah lama sekali aku tidak menginjakan kakiku di tanah air," ucap Clarissa.
"Biar aku yang bawa," Rian mengambil koper milik Adelia. Lalu dia segera pergi dari depan apartemen, membiarkan Adelia dan Clarissa yang sedang mengobrol berdua.
Melihat Rian yang sudah pergi duluan, Clarissa juga mengajak Adelia pergi. Mereka menaiki lift menuju ke lantai bawah.
Kebetulan Clarissa yang akan mengantar mereka untuk pergi. Sedangkan Reno pergi sendirian dari hotel.
Kini mereka sudah sampai di bandara. Clarissa ikut bersama mereka. Karena dia ingin melihat kepergian mereka.
Rian menghampiri Reno yang sedang duduk sendirian di kursi tunggu. Sedangkan Adelia dan Clarissa mengikutinya di belakang.
"Sudah lama?" Rian bertanya kepada Reno.
"Belum sih, baru lima menit duduk disini," jawabnya.
Rian duduk disebelah Reno. Clarissa yang baru sampai, langsung duduk disebelah Rian. Sedangkan Adelia duduk di pinggir.
Sesekali Adelia memperhatikan Clarissa yang sejak tadi menatap Rian.
'Sepertinya ada sesuatu antara Kak Clarissa dan Rian,' batin Adelia sambil menatap ke arah pandang Clarissa.
Terdengar arahan untuk penumpang dengan jurusan indonesia, untuk segera memasuki pesawat.
Clarissa terlihat tak rela jika harus berpisah dengan mereka, khususnya dengan Rian.
Setelah melihat Adelia dan yang lainnya memasuki pesawat, clarissa segera pergi dari sana.
Di dalam pesawat, Rian bertanya macam-macam kepada Adelia. Dia juga menawarkan makan dan minum kepadanya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin apa pun, aku hanya sedikit mengantuk saja," ujar Adelia.
"Tidurlah!" Rian menepuk pelan bahunya, menyuruh Adelia bersandar disana.
Adelia menurut, dia menyenderkan kepalanya disana. Perlahan-lahan Adelia mulai memejamkan matanya.
°°°°°
Setelah menempuh perjalanan panjang, kini mereka sudah sampai di bandara. Rian menggandeng tangan Adelia sambil berjalan keluar dari pesawat.
Sesampainya di luar pesawat, Adelia melepaskan tangan Rian.
"Hey, tungguin," terlihat Reno yang sedang berjalan menghampiri mereka. Kebetulan Reno keluar paling akhir dari pesawat.
"Ngapain saja kamu? Lama amat di dalam," ujar Rian.
"Dari pada desak-desakan, mending keluar paling akhir," ucapnya.
Mereka bertiga berjalan menuju ke depan bandara. Kebetulan ada supirnya Pak Dirga yang menjemput mereka.
Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, kini mereka sudah sampai di depan rumah Pak Andika. Rian keluar dan menurunkan barang bawaan Adelia. Dia membantu Adelia membawa barang-barang itu ke dalam.
Bu Anara dan Pak Andika menyambut hangat kedatangan putrinya.
"Sayang, Mamah kangen sekali sama kamu, Nak." terlihat kedua mata Bu Anara berkaca-kaca. Lalu tatapannya beralih ke perut buncit anaknya. "Apa cucu Mamah baik-baik saja?" tanya Bu Anara sambil mengusap perut buncit itu.
"Baik-baik saja, Mah. Apa Mamah tidak marah sama Adel?" tanya Adelia yang kini ikut berkaca-kaca.
"Marah kenapa, sayang?"
"Marah karena Adel hamil di luar nikah, Mah."
"Tidak, sayang. Semua ini sudah takdir. Kita harus menjalaninya dengan ikhlas. Kamu yang kuat ya," Bu Anara mengusap air mata yang menetes di sudut mata anaknya.
Pak Andika juga mendekati anaknya. Mereka bertiga berpelukan.
__ADS_1
Rian terharu menyaksikan semua itu. Dia ikut senang saat melihat kedua orang tua Adelia yang tidak memarahi Adelia sama sekali.
Bu Anara menatap Rian yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
"Nak Rian, ayo masuk!" ajaknya.
"Iya, Tante." jawab Rian.
Rian masuk setelah melihat mereka masuk duluan.
Bu Anara mempersilahkan Rian untuk duduk. Lalu Bu Anara pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
Pak Andika menatap Rian penuh selidik. Dia takut jika Rian berbuat macam-macam saat di korea.
"Del, apa Rian menyakitimu saat di korea?" tanya Pak Andika.
"Tidak, Pah."
"Apa kalian tinggal bersama?"
"Untuk satu minggu terakhir sih iya. Dia tinggal di apartemen yang aku tinggali."
"Apa kalian tidur bersama?"
"Tidak, Pah. Aku di bawah, kalau Kak Rian di atas."
Pak Andika mengeryitkan keningnya saat mendengar penuturan anaknya.
"Apa maksudmu di atas dan di bawah?" tanya Pak Andika penuh selidik.
"Adel di lantai bawah, sedangkan Kak Rian di lantai atas."
"Syukurlah," Pak Andika bernapas lega. Tadinya mengira jika atas bawah itu hal yang di lakukan oleh sepasang suami istri.
°°°°°°°°°
__ADS_1