
Adelia mengerjapkan kedua matanya. Dia merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya. Dia menatap ke belakang. Suaminya masih terlelap, namun wajahnya tetap terlihat tampan.
Adelia membuka sedikit selimut yang menutupi tubuhnya. Dia mengingat kejadian semalam. Masih jelas di ingatannya saat suaminya memperlakukannya penuh cinta.
"Ah apaan sih, tidak-tidak," Adelia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lagi membayangkan apa?" Rian sedikit mengangkat kepalanya, lalu dia topang dengan satu tangannya.
"Tidak, aku tidak membayangkan apa pun," ucap Adelia.
"Tidak usah pura-pura, aku tahu kok kalau kamu sedang membayangkan malam panas kita semalam."
"Itu sih kamu, aku tidak mengingatnya," ucap Adelia.
"Benarkah tidak mengingatnya? Kalau begitu kita mengulang yang semalam biar kamu mengingatnya," ucap Rian sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih," Adelia langsung menutupi wajahnya dengan selimut.
"Malu-malu kucing, seperti anak gadis saja kamu," Rian menatap istrinya dengan gemas.
Rian kembali menyingkap selimut yang menutupi istrinya, lalu dia men*ciumi istrinya penuh cinta.
"Mas mau ngapain lagi?" Adelia berusaha mendorong kepala suaminya yang ada di lehernya.
"Mengulang yang semalam, sayang."
"Mas, aku---" ucapan Adelia terhenti karena Rian sudah membungkamnya dengan cium*an.
Tok tok
Mereka berdua mendengar ketukan pintu dari luar kamar. Rian berusaha mengabaikannya, sedangkan Adelia memukul pelan dada bidang suaminya agar suaminya melepaskan ciumannya.
"Stt mengganggu saja," Rian beranjak dari atas tubuh istrinya.
Dia turun dari atas tempat tidur, lalu memakai celana kolor miliknya yang tergeletak di atas lantai.
__ADS_1
"Biar aku yang membukakan pintu," Rian melangkah mendekati pintu kamar.
Cklek
Rian melihat Bu Anara berdiri di depan pintu dengan menggendong baby Raffa.
"Ada apa, Mah?"
"Kalian belum siap? Kenapa masih bertelanjang dada?"
"Kami mau mengulang yang semalam, Mah. Ah Mamah mengganggu saja."
"Astaga, nanti saja. Sekarang kalian bersiap dulu deh, nih kasihan juga anak kalian."
"Baiklah, maaf, Mah."
"Iya, kalau begitu Mamah mau kembali ke kamar. Nanti kalau kalian sudah rapi, kita sarapan bersama."
"Iya, Mah."
"Mas, siapa yang datang?" tanya Adelia.
"Mamah sama Raffa. Katanya kita di suruh untuk bersiap. Mamah akan mengajak kita sarapan bersama," ucap Rian.
"Kalau begitu Mas Rian saja yang mandi duluan. Biar aku nanti saja karena aku mandinya lama."
"Kenapa tidak berdua saja, sayang?"
"Kalau berdua, nanti kita tidak selesai-selesai mandinya."
"Ah gagal deh pegang-pegang dikit," ucap Rian sambil menatap istrinya.
"Iissss dasar me*sum."
Rian segera pergi ke kamar mandi setelah dia selesai berbicara dengan istrinya.
__ADS_1
Kini Adelia dan Rian sudah selesai mandi. Penampilan mereka juga sudah terlihat rapi. Keduanya keluar dari kamar itu.
Kebetulan Bu Anara juga membuka pintunya. Niatnya akan kembali memanggil Adelia dan Rian. Namun ternyata mereka juga baru keluar dari kamar.
"Kalian sudah siap, ayo!" ajak Bu Anara, sambil menatap mereka.
"Papah dimana, Mah?" tanya Adelia.
"Ada tuh di belakang."
Pak Andika keluar dari kamar, lalu menutup pintu kamar itu.
Mereka pergi ke restoran yang ada di hotel itu.
Sesampainya di restoran hotel, mereka langsung saja mencari tempat duduk. Kebetulan Bu Anara dan Adelia duduk bersebelahan. Sedangkan Rian dan Pak Andika duduk di hadapan mereka.
Tak sengaja Bu Anara melirik ke bawah, dan melihat tanda merah di paha Adelia. Kebetulan Adelia menggunakan dres pendek.
"Del, itu apa di paha kamu? Kok merah-merah gitu?" tanya Bu Anara.
Adelia melirik ke pahanya, dia terbelalak melihat tanda itu. Karena itu tanda kecu*pan dari suaminya.
"Ini semalam Adel di gigit nyamuk besar, Mah." ucapnya.
"Astaga, kalian sampai segitunya." ucap Bu Anara sambil menatap Adelia dan Rian secara bergantian.
"Hehe, habisnya Adel manis sih, Mah." ucap Rian.
"Ah kalian bikin Papah jadi ingin. Gara-gara jagain anak kalian nih, Papah jadi berpuasa," sahut Pak Andika.
"Ah Papah sudah tua, jangan mikirin itu," ucap Adelia.
"Justru yang tua yang lebih bertenaga," jawab Pak Andika.
Mereka hanya tertawa kecil sambil menatap Pak Andika.
__ADS_1