
Reno dan Eva hanya menghabiskan waktu di dalam kamar hotel. Eva tidak mau kemana-mana karena masih merasakan sakit di pangkal pahanya. Bahkan untuk sarapan dan makan siang, Eva menyuruh suaminya untuk membelikannya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Saat ini sudah pukul empat sore.
Reno mendekati istrinya yang sedang serius menonton acara televisi.
"Sayang, kita pulang yuk! Nanti keburu malam loh," Reno duduk di sebelah istrinya.
"Tapi masih sakit, Mas."
"Biar Mas bantu gendong kamu sampai keluar hotel."
"Malu, nanti di lihatin orang-orang."
"Terus, kamu maunya pulang kapan?" tanya Reno.
"Nanti saja deh. Aku mau kirim pesan ke Kak Adel dulu."
"Mau kirim pesan apa?"
"Cuma mau nanya saja. Sudahlah, Mas Reno jangan kepo."
Eva mulai mengetik pesan, lalu mengirimnya kepada Adelia.
Tring
Tak lama, Eva mendengar notif pesan masuk dari Adelia. Dia buru-buru membuka pesan itu.
☆Kak Adel☆
Hahahaha kamu tanya obat pereda nyeri, tinggal kalian lakuin lagi, nanti juga lama-lama enak, tidak nyeri lagi.
__ADS_1
Sekiranya seperti itu balasan pesan dari Adelia.
"Astaga, apa-apaan Kak Adel ini," gumam Eva, lalu langsung meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Ada apa, sayang?" tanya Reno yang kebetulan mendengar istrinya bergumam.
"Tidak apa-apa kok, Mas. Oh iya, kita langsung pulang sekarang saja, Mas." ucap Eva.
"Kamu yakin kita pulang sekarang juga?"
"Iya, Mas. Tapi Mas Reno yang beresin semua barang kita ya."
"Siap, sayang. Kamu duduk saja disitu."
Eva menatap suaminya yang sedang membereskan barang mereka.
Reno yang sudah selesai membereskan barang mereka, dia kembali menghampiri istrinya.
“Baik, Mas.” Eva beranjak dari duduknya, dia segera bersiap berganti pakaian.
Setelah selesai bersiap, mereka segera pergi keluar dari kamar hotel. Reno yang membawa koper berisi barang-barang mereka. Reno menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang, melihat istrinya yang tertinggal di belakang.
“Sayang, kamu kok lama sekali jalannya?”
“Masih sakit tahu. Tidak pengertian sama sekali sih.”
“Bukan begitu, sayang. Biar Mas jalan pelan juga deh seperti kamu.”
Kini keduanya sudah sampai di depan hotel. Reno meminta istrinya untuk menunggu disana, sedangkan dia pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya.
Setelah cukup lama mengemudi, akhirnya mereka sampai juga di kediaman Pak Andika. Keduanya segera keluar dari mobil. Eva melangkah duluan, sedangkan Reno mengambil koper mereka di bagasi mobil.
__ADS_1
Eva masuk begitu saja ke dalam rumah. Kebetulan pintu rumah itu juga terbuka lebar.
Bu Anara melihat anak dan menantunya yang sudah pulang.
“Wah pengantin baru sudah pulang nih,” ucap Bu Anara sambil menatap anaknya.
“Kak Eva, kenapa jalannya seperti itu?” tanya Alan sambil memperhatikan cara jalan Eva yang menurutnya aneh.
“Kamu tidak usah kepo, Alan.” Bu Anara menepuk bahu anaknya.
Eva duduk disana bersama ibu dan adiknya. Sedangkan Reno pergi ke kamar untuk menaruh koper yang dia bawa.
“Eva, kalian mau bulan madu kemana?” tanya Bu Anara.
“Belum memikirkannya, Mah. Terserah Mas Reno saja.”
“Mamah bangga loh sama kamu dan Adel. Kalian ini jadi anak kebanggaan Mamah. Sebentar lagi pasti kamu juga hamil, dan cucu Mamah bertambah deh. Tidak seperti adikmu, di kasih rezeki anak dan calon istri, tapi malah dia cueki,” ucap Bu Anara sambil menyindir Alan.
“Jadi Mamah menyindir aku?”
“Ya kalau kamu ngerasa,” ucap Bu Anara.
Reno keluar dari kamar, dia ikut bergabung bersama mereka sambil mengobrol.
“Mah, mungkin Reno hanya satu bulan disini. Nanti Reno mau ajak Eva untuk menetap di luar negeri. Karena Reno harus mengurus perusahaan disana.”
“Iya, Nak. Tidak apa-apa, lalu kalian mau bulan madu kemana?”
“Sepertinya tidak usah bulan madu deh. Nanti saja bulan madunya kalau sudah kembali ke luar negeri. Reno ingin menghabiskan waktu selama satu bulan ini bersama keluarga,” ucapnya.
“Eva juga setuju, Mah.”
__ADS_1
“Baiklah jika memang itu kemauan kalian. Mamah hanya menurut saja.”