Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.62


__ADS_3

Anara sudah di perbolehkan untuk pulang. Namun rasanya dia enggan untuk pergi. Dia tidak mau berjauhan dengan suaminya.


Anara menatap Bu Sinta yang sedang membereskan barang-barangnya. Karena sore ini mereka akan pulang.


"Nara, kamu kok sedih seperti itu?" tanya Bu Sinta.


"Iya, Mah. Aku merasa berat harus meninggalkan Kak Aldi sendirian disini."


Bu Sinta memicingkan sebelah matanya. Dia sedikit heran dengan perkataan Anara. Lalu dia menatap Andika yang sedang duduk sendirian.


"Maaf, Mah. Nara sudah tahu jika suaminya sedang koma," ucap Andika kepada Ibunya yang kini sedang menatapnya.


"Mamah kan sudah bilang jangan kasih tahu dulu," ucap Bu Sinta.


"Sudah, Mah. Jangan salahkan Kak Dika. Anara yang memaksa Kak Dika untuk menemui Kak Aldi."


"Tapi kamu jangan sedih yah, Nak! Kamu ini punya anak yang masih kecil loh. Kalau kamu sedih terus, nanti anakmu ikut sedih juga."


"Tidak, Mah. Aku akan berusaha kuat," Anara memaksakan diri untuk tersenyum di depan Bu Sinta.


Tok tok


Mereka mendengar ketukan pintu dari luar. Ternyata Ani yang datang bersama Baby Adel. Bu Sinta membukakan pintu itu.

__ADS_1


"Ani, kamu datang? Adel rewel tidak?" tanya Bu Sinta.


"Tidak, Nyonya."


"Syukurlah, saya takut loh kalau Adel rewel."


Sebenarnya Baby Adel kemarin pulang bersama Ani. Karena tidak baik dan pastinya tidak nyaman jika anak kecil berada di sekitar rumah sakit. Ternyata Baby Adel menurut dan tidak rewel.


"Wah anak Papah pintar sekali sih," Andika beranjak dari duduknya, lalu mendekati Baby Adel. Dia mengambil Baby Adel yang ada di gendongan Ani.


Baby Adel terlihat senang di gendong oleh Andika. Sesekali Andika menciumi kedua pipi anaknya.


🍀🍀🍀


Saat ini mereka sudah ada di perjalanan pulang. Baby Adel terus mengganggu Andika yang sedang mengemudi.


"Sayang, jangan gangguin Papah dong." Aldi berusaha menyingkirkan tangan mungil anaknya yang sedang memegang setir kemudi.


"Aduh, cucu Oma mau belajar bawa mobil yah. Pintar sekali sih," Bu Sinta mendudukan Baby Adel di pangkuannya. Namun Baby Adel menangis, karena ingin di turunkan dari pangkuan Bu Sinta.


"Sayang, jangan nangis dong. Ini adek bayi ikutan menangis loh," ucap Anara sambil menenangkan anaknya.


Bu Sinta menatap Andika yang sedang mengemudi.

__ADS_1


"Dika, ini Adel duduk di pangkuanmu saja. Menangis terus loh, kasihan tuh adek bayinya juga ikutan menangis," ucap Bu Sinta.


"Baiklah," Andika menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu mengambil Baby Adel dan mendudukannya di pangkuannya.


Setelah cukup lama mengemudi, kini mobil itu sudah sampai di depan rumah Aldi. Semuanya turun dari mobil, lalu melangkah menuju ke rumah.


"Nara, lebih baik kamu tidur di kamar bawah saja. Kasihan kalau harus naik turun tangga," ucap Bu Sinta.


"Iya, Mah. Nanti Nara menempati kamar tamu sebelah kamar Adel," ucap Anara.


Andika duduk di ruang keluarga. Sedangkan yang lainnya pergi ke kamar.


Setelah mengantar Anara ke kamar, Bu Sinta menghampiri Andika yang sedang duduk sendirian.


"Nak, kamu tidak kembali ke rumah sakit?" tanya Bu Sinta.


"Dika cape sekali, Mah. Beberapa hari ini kurang tidur."


"Iya sih, Mamah juga kasihan sama kamu karena harus bolak-balik pergi ke kantor juga. Bagaimana jika kita sewa suster khusus untuk merawat Aldi," ucap Bu Sinta memberikan saran.


"Andika setuju, Mah. Tapi susternya harus yang sudah menikah. Takutnya nanti terjadi kesalah pahaman dengan Anara."


"Baik, nanti Mamah akan coba tanyakan ke rumah sakit tempat Aldi di rawat."

__ADS_1


__ADS_2