Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.36


__ADS_3

Aldi meraba ke sebelahnya, ternyata tidak ada istrinya. Dia mengerjapkan kedua matanya, lalu duduk di atas kasur.


Hampir lupa, semalam aku tidak tidur bersama istriku," gumam Aldi, lalu dia menatap jam yang ada di dinding. Ternyata sudah pukul lima pagi. Aldi beranjak dari atas tempat tidur, lalu dia pergi ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Aldi segera kaluar dari kamarnya.


Saat ini Aldi sedang berdiri di depan kamar Baby Adel. Dia membuka pintu itu dengan pelan. Dia hanya melihat Baby Adel yang sedang tidur sendirian. Dia mendengar gemercik air dari kamar mandi. Sudah pasti jika itu istrinya yang sedang mandi. Aldi duduk di pinggir ranjang, sambil menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.


Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Anara melihat suaminya yang sedang duduk di dekat Baby Adel.


"Sayang, kamu habis mandi?" tanya Aldi dengan suara sedikit berbisik karena takut jika Baby Adel terusik.


"Iya nih," ucap Anara, lalu dia melangkah mendekati meja rias. Dia duduk sambil bercermin.


Aldi melihat istrinya yang sedang menyisir rambutnya. Dia menghampirinya dan mengambil sisir yang sedang di pegang oleh istrinya.


"Biar aku bantu," Aldi mulai menyisir rambut panjang istrinya.


Anara menatap suaminya dari balik cermin.


Aldi terlihat telaten menyisir rambut istrinya. Dia mengambil kuciran yang tergeletak di atas meja rias, lalu dia mengikat rambut istrinya.


"Nah sudah selesai," Aldi menatap istrinya dari pantulan cermin.


"Terima kasih," ucap Anara.


"Sama-sama, sayang." jawab Aldi.


Tok tok


Terdengar ketukan pintu dari luar. Aldi membuka pintu itu. Ternyata yang datang itu Ani.


"Silahkan masuk!"


"Saya mengganggu tidak yah? Takutnya mengganggu kebersamaan Non Nara sama Tuan Aldi," Ani sedikit ragu untuk masuk.


"Tidak kok," ucap Aldi.


Ani melangkahkan kakinya masuk ke kamar.


Anara beranjak dari duduknya. Lalu dia mendekati Ani yang saat ini sudah ada di dekat Baby Adel.


"Kak Ani, tolong jagain Adel yah. Aku mau ke dapur bantu Bibi masak," ucap Anara.


"Baik Nona," Ani tersenyum menatap Anara.


Anara keluar dari kamar itu di ikuti oleh suaminya. Aldi mengekor istrinya hingga ke dapur.


"Bi, Ada yang bisa Nara bantu?" Anara mendekati Bi Inem yang sedang sibuk di dapur.


"Tidak ada, Non. Ini juga hampir selesai," ucap Bi Inem.


"Yah, Nara ngapain dong," gumam Anara, namun masih terdengar oleh Bi Inem dan Aldi.


"Kamu ikut aku saja, sayang. Kita duduk bersantai sambil nunggu masakan Bibi matang semua."


"Hm, iya deh," Anara melangkah pergi begitu saja.

__ADS_1


Aldi mengejar istrinya yang sudah melangkah duluan.


Sepertinya Non Anara sedang ada masalah," gumam Bi Inem sambil menatap kepergian majikannya.


Aldi duduk di sebelah istrinya.


"Sayang, kamu kenapa sih?" Aldi merasa jika Anara sedang ada masalah.


"Tidak apa-apa, hanya sedang bad mood saja," ucapnya.


"Kamu marah sama aku?" Aldi menatap istrinya yang sedang mengarahkan pandangannya ke depan.


"Tidak kok," ucapnya.


Aldi memegang wajah istrinya. Lalu dia membalikan arah pandang istrinya agar menatapnya. Kini pandangan keduanya saling berhadapan.


"Ceritalah jika ada masalah. Aku ini suami kamu, jadi apa pun masalah kamu, aku perlu mengetahuinya."


"Jangan bicara disini," kata Anara.


"Baiklah, kita ke kamar atas."


Anara dan Aldi beranjak dari duduknya. Lalu mereka melangkah menuju ke kamar mereka yang ada di lantai atas.


Aldi membuka pintu kamarnya, lalu membiarkan istrinya masuk terlebih dahulu.


Anara duduk di sofa yang ada di kamar itu. Aldi ikut mendudukan dirinya di sebelah istrinya.


"Siapa wanita itu?" Tanpa berbasa-basi, Anara langsung bertanya.


"Wanita yang ber*ciuman dengan Kak Aldi. Apa dia kekasih baru Kak Aldi?"


Kenapa Anara berbicara seperti itu? Apa dia melihatku saat aku ber*ciuman dengan Sherina," batin Aldi.


"Wanita mana?" tanya Aldi.


"Kak Aldi pasti tahu kok, memangnya ada berapa wanita yang di*cium oleh Kakak?"


"Maaf, biar aku luruskan semuanya. Agar tidak menjadi kesalah pahaman seperti ini."


"Kesalah pahaman apa? Sudah jelas-jelas Kak Aldi men*cium wanita itu," ucap Anara.


"Apa kamu lihat sendiri kejadian itu?"


"Tidak, aku tahu dari Kak Dinda. Dia mengirim video kepadaku," ucapnya.


Astaga, apa maunya Dinda?" batin Aldi.


Dia tidak mengira jika Dinda akan mengirim video dia dan Sherina sedang ber*ciuman.


"Jadi hari itu Sherina datang ke cafe. Dia itu mantan kekasihku. Kami putus empat tahun yang lalu. Lebih tepatnya dia yang ninggalin aku karena harus pergi ke luar negeri atas permintaan orang tuanya. Sebenarnya di antara kami tidak ada kata putus sih. Tapi aku sudah menganggap hubungan kita berakhir saat itu juga," jelas Aldi, lalu dia menghentikan sejenak perkataannya.


"Dan untuk ciuman* itu, dia yang meminta untuk yang terakhir kalinya. Maaf karena aku sudah berani men*cium wanita lain tanpa sepengetahuanmu," ucapnya lagi.


"Jangan lakukan itu lagi!"


"Tidak, sayang. Itu yang terakhir dan untuk tanda perpisahan. Aku berjanji tidak akan pernah berhubungan lagi dengan wanita lain."

__ADS_1


"Aku pegang janjimu, dan sebagai hukuman, aku tidak akan memberikan jatah."


"Jatah apa sayang?" Aldi tidak mengerti maksud perkataan istrinya.


"Jatah tidur bareng, Nara hukum Kak Aldi selama dua minggu."


"Apa? Kamu kok tega sekali sih,sayang."


"Kak Aldi juga tega, aku bisa lebih tega," ucapnya.


"Iya deh," Aldi menunduk lesu karena harus berpuasa untuk beberapa hari ke depan. Namun dia merasa lega karena permasalahan dengan istrinya sudah selesai.


Anara berpamitan untuk keluar kamar. Aldi mengikuti istrinya keluar dari kamar itu.


Anara pergi ke kamar anaknya. Dia melihat Ani yang sedang menggendong Baby Adel. Kebetulan Baby Adel sedang menangis.


"Anak Mamah kenapa nih?" Anara menghampiri Ani.


"Adel baru bangun," ucap Ani.


"Biar sama saya," Anara mengambil Baby Adel yang ada di gendongan Ani. Lalu dia merebahkannya kembali di atas kasur. Anara me*nyusui anaknya. Baby Adel terdiam dari tangisnya.


"Ternyata kamu haus yah, sayang." Anara menatap anaknya yang terlihat kehausan.


Ani langsung pergi dari kamar itu saat melihat Aldi masuk ke dalam. Dia tidak mau mengganggu privasi suami istri.


Aldi duduk di pinggiran ranjang. Dia menatap Baby Adel yang sedang me*nyusu.


"Sayang, jangan di habisin dong. Papah juga ingin loh," ucap Aldi.


Pluk


Anara memukul lengan suaminya.


"Kak Aldi jangan lihatin deh, nanti kalau ingin, repot loh."


"Kan bisa gantian sama Adel, sayang." kata Aldi.


"Enak saja, Kak Aldi lupa yah kalau sedang Nara hukum."


"Tidak kok, sayang. Tapi kan hanya yang bawah saja. Kalau yang atas boleh kan," ucap Aldi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Atas bawah, semuanya tidak boleh. Kak Aldi sedang Nara hukum."


"Yah," Aldi menunduk lesu. Dia merasa jika hukuman yang di berikan oleh istrinya membuat dia tidak bersemangat.


°°°°


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA.


LIKE


KOMEN


VOTE


GIFT

__ADS_1


__ADS_2