Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode 15


__ADS_3

Adelia sedang bersiap untuk pulang. Dia juga sudah membayar administrasi rumah sakit.


Clarissa melihat Adelia yang sedang berjalan ke arah luar rumah sakit.


"Adel, kamu mau pulang?" tanya Clarissa.


Adelia menoleh ke sumber suara.


"Iya, Kak.


Clarissa berjalan mendekati Adelia.


"Bisa kita bicara sebentar," ucap Clarissa.


"Boleh," ucap Adelia sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Adelia dan Clarissa pergi ke taman rumah sakit.


Saat ini keduanya sudah berada di taman. Mereka duduk bersebelahan di kursi panjang yang ada di taman itu.


"Kamu dari indonesia ya, kebetulan saya juga asal indonesia," ucap Clarissa membuka suara.


"Kok tahu?"


"Maaf, sebelumnya aku melihat kartu identitasmu."


"Oh itu, tidak apa-apa kok. Kak Clarissa ini sedikit mirip dengan adik saya loh," kata Adelia sambil memperhatikan Clarissa.


"Benarkah?"


"Iya, nih aku ada fotonya," Adelia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Lalu dia memperlihatkan foto Eva kepada Clarissa.


"Tidak mirip sama kamu, wajah dia indo banget, kalau kamu terlihat seperti blasteran," ucap Clarissa sambil memperhatikan Adelia. Apalagi kedua matanya berwarna biru.


"Ya begitulah, kami satu ibu beda ayah." ucapnya.

__ADS_1


"Pantas saja kalian terlihat berbeda. Oh iya, apa keluarga kamu tinggal disini juga?"


"Tidak, mereka di indonesia. Aku disini sendiri. Sebenarnya sih aku tidak mau melanjutkan S2. Aku sudah nyaman mengurus perusahaan warisan dari Nenek. Tapi setelah kejadian itu, aku jadi menjauh dari keluargaku. Itu sebabnya sekarang aku ada disini," ujar Adelia.


"Kejadian apa?" tanya Clarissa yang merasa penasaran.


"Ah tidak, rasanya aku bercerita terlalu berlebihan."


"Ceritakan saja jika kamu mau bercerita. Aku mau kok mendengarkannya."


"Kejadian di malam pertama pernikahan adikku," sejenak Adelia menghirup udara lalu menghembuskannya perlahan.


Terlihat Clarissa yang sedang menunggu kelanjutan cerita Adelia.


Entah kenapa Adelia terlihat tenang menceritakan semua hal yang di alaminya, yang selama beberapa bulan ini dia pendam.


"Aku di nodai oleh adik iparku sendiri. Dia melakukan itu karena pengaruh minuman."


"Lalu bagaimana dengan Eva?"


"Lalu, apa sekarang pernikahan mereka baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti mereka masih menjadi suami istri."


"Aku tidak bisa berkomentar apa pun. Masalahmu terlalu rumit. Bagaimana bisa ada lelaki seperti itu? Sudah menghamili Kakak iparnya, tapi masih mempertahankan pernikahannya, aku jadi penasaran dengan lelaki itu," ujar Clarissa.


"Dia sangat tampan, itu sebabnya Eva terlihat begitu mencintainya," ucap Adelia.


"Bolehkah aku melihat fotonya?"


"Aku tidak punya fotonya," jawab Adelia.


"Yah, sayang sekali."


Adelia hanya tersenyum menanggapi perkataan Clarissa.

__ADS_1


"Apa kamu ada niat untuk memberitahukan kehamilanmu kepada keluargamu?"


"Tidak, aku tidak mau membuat Eva sedih."


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"


"Mungkin berhenti kuliah, dan pergi jauh dari negara ini," ucapnya.


"Bagaimana jika kamu ikut aku ke korea? Kebetulan aku dan suamiku akan menetap disana."


"Apa aku tidak merepotkan Kakak?"


"Tidak sama sekali, aku malah senang jika kamu ikut."


"Tapi, bolehkan aku meminta satu hal," pinta Adelia, dan tatapannya terlihat serius.


"Boleh, nanti akan aku penuhi demi bumil."


"Bisakah bantu aku untuk menghilangkan jejakku di kota ini. Aku tidak mau jika keluargaku menemukanku. Biarlah aku sendiri yang menemui mereka, tapi nanti jika aku sudah siap."


"Hanya itu?"


"Iya, Kak. Itu saja," ucap Adelia.


"Kamu tenang saja, kebetulan teman suamiku itu hacker yang handal, nanti dia bisa membantu untuk menghilangkan jejakmu di negara ini."


"Terima kasih, Kak." Adelia memeluk Clarissa. Dia begitu senang karena walaupun dia di negara orang, tapi masih ada yang mau membantunya.


"Sama-sama," Clarissa mengusap pelan punggung Adelia.


Saat pertama kali melihat Adelia, Clarissa merasa kasihan. Apalagi saat tahu jika Adelia sedang hamil tanpa suami. Clarissa berniat membantunya dengan tulus.


"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Nanti kirimkan alamatmu. setelah pulang kerja, aku akan menjemputmu," ucap Clarissa.


"Boleh," Adelia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Lalu dia memberikannya kepada Clarissa dan membiarkannya untuk menyalin nomornya.

__ADS_1


__ADS_2