
Sudah satu minggu sejak kepergian suaminya, Anara masih saja bersedih. Dia tidak bisa begitu saja melupakan suaminya. Dengan keadaannya yang saat ini menjanda, pasti dia harus berjuang keras untuk mencukupi kebutuhan anaknya.
Bu Sinta melihat Anara yang baru keluar dari kamar anaknya. Lalu dia mengajak Anara untuk saling mengobrol. Kini ke duanya duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Nara, ada yang mau Mamah bicarakan sama kamu," ucap Bu Sinta.
"Mamah mau bicara apa?" tanya Anara.
"Sebaiknya kamu mulai menyibukan diri agar kamu melupakan semua kesedihanmu," ucap Bu Sinta.
"Nara juga berniat seperti itu, Nara harus bekerja untuk menghidupi kebutuhan Adel dan Eva."
"Kamu teruskan untuk mengurus cafe saja, Nak. Nanti minta di ajarin sama Dika. Saat ini yang mengelola cafe itu Dika. Tapi Mamah kasihan sama dia, karena pekerjaannya saja di kantor sudah banyak. Di tambah lagi harus mengurus cafe," ucap Bu Sinta.
"Mungkin mulai besok Nara pergi ke cafe."
"Mamah setuju, Nak. Nanti Mamah bicara sama Dika. Jika soal Adel dan Eva, kamu tenang saja. Mereka biar di rumah saja. Jika rewel, nanti bisa di antar ke cafe untuk bertemu kamu," ujar Bu sinta memberikan saran.
"Baiklah, Mah." Anara setuju dengan keputusan Bu Sinta.
Obrolan mereka terhenti saat mendengar tangisan Eva. Anara pergi ke kamar anaknya untuk menenangkannya.
Bu Sinta melihat Andika yang baru datang. Lalu menyuruhnya untuk duduk bersantai dengannya.
"Nak, Mamah mau tanya sesuatu nih," ucap Bu Sinta.
"Tanya apa, Mah?"
"Setelah Vanesa keluar dari penjara, apa ada kemungkinan untuk kamu kembali kepadanya?" tanya Bu Sinta.
"Tidak akan, Mah. Andika tidak mau lagi terikat pernikahan dengan wanita sepertinya."
"Mamah setuju sama kamu, Nak." ucapnya.
__ADS_1
Ke duanya masih asyik mengobrol hingga menjelang sore.
🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Anara sudah memakai pakaian rapih. Dia akan pergi ke cafe dan akan memulai untuk mengurusnya. Kebetulan Andika datang untuk mengajaknya pergi bersama.
Glek
Andika menatap Anara yang terlihat seperti karyawan kantoran. Bahkan rok yang dia pakai panjangnya di atas lutut.
"Kak, ayo pergi!" ucap Anara, namun Andika masih diam di tempat sambil memperhatikannya.
"Kak ... " ucapan ke dua Anara barulah menyadarkan Andika.
"Eh iya, kenapa?" tanya Andika.
"Ayo pergi!" ajak Anara.
Andika mengikuti Anara yang sudah melangkah duluan. Andika tidak kuat melihat penampilan Anara yang baru. Dia lebih terlihat feminin dan cara berpakaiannya lebih dewasa.
Sepanjang perjalanan, ke duanya hanya diam. Sesekali Andika menatap Anara yang duduk di sebelahnya.
Setelah melewati keramaian ibu kota, kini mobil yang di kendarai Andika sudah sampai di depan cafe. Saat keduanya masuk, semua karyawan memberi hormat. Mereka tahu jika yang datang itu Anara, karena sebelumnya Anara juga kerja disana sebelum Aldi menikahinya.
Andika dan Anara pergi ke ruang kerja yang biasa di tempati oleh Aldi. Sesampainya di ruangan, Andika menyuruhnya duduk di kursi depan meja kerja yang akan dia tempati. Andika mengambil kursi lain lalu menaruhnya di sebelah tempat duduk Anara, dan dia duduk disana.
Andika mulai menjelaskan cara menginput data, dan yang lainnya. Karena mereka terlihat serius, sampai tidak sadar jika posisi keduanya begitu dekat.
"Apakah be ... "Anara menoleh menatap Andika. Namun dia terkejut melihat posisi mereka yang ternyata begitu dekat.
Andika tersenyum menatap Anara dari jarak dekat.
"Mau tanya apa?"
__ADS_1
Bahkan Anara bisa mencium aroma khas tubuh kakak iparnya itu. Dia kembali menatap ke laptop.
"Apakah begini?" tanya Anara.
"Benar, kamu pintar adikku," ucap Andika.
Anara sedikit heran dengan Andika yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan adikku.
Cukup lama Andika mengajari Anara. Dia berpamitan kepada Anara karena akan pergi ke kantornya.
"Aku pergi dulu ya, oh iya sebaiknya besok jangan pakai pakaian seperti ini. Apalagi rok pendek yang kamu pakai." ucap Andika, lalu dia mendekatkan kepalanya di telinga Anara. "Bikin jiwa kelelakian bangkit," ucapnya lagi.
Setelah kepergian Andika, Anara pergi ke toilet dan menatap penampilannya di depan cermin. Dia baru sadar jika rok yang dia pakai begitu ketat. Tadinya dia asal pakai saja, karena pakaian itu pemberian dari Aldi. Dan belum pernah dia pakai.
"Ekhm, janda lebih menggoda," ucap Dinda yang baru keluar dari salah satu toilet. Dia hanya melewati Anara sambil menatap penampilannya.
Anara hanya diam, dia tidak mau berdebat.
Anara melangkahkan kakinya keluar dari toilet setelah dia selesai bercermin. Dia kurang nyaman karena beberapa karyawan lelaki memperhatikannya.
"Ekhm, serius aman lihatinnya," ucap Dinda kepada Agus.
"Tidak, kata siapa?"
"Biasa Din, atasan kita yang baru bikin susah napas," ucap salah satu teman kerja yang lain.
"Rindu belaian tuh pastinya," ucap Dinda.
"Hus jangan bicara sembarangan, nanti dia dengar," ucapnya.
"Aku juga mau kok sama dia, janda lebih menarik," ucap Agus.
Untung saja Anara tidak mendengar ucapan mereka. Karena langkahnya sudah jauh dari mereka.
__ADS_1
'Nara ini hobinya tebar pesona, dulu Aldi, sekarang semua karyawan lelaki disini terpikat olehnya,' batin Dinda.
°°°°