Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.41


__ADS_3

Kiara sedang duduk sendirian di taman belakang, sambil memandangi bunga-bunga indah.


Bu Vanesa menghampiri Kiara. Saat ini Bu Vanesa sudah berdiri di belakangnya.


"Kia, ayo ikut Tante," ucap Bu Vanesa.


Kiara menoleh ke belakang, lalu dia menimpali perkataan Bu Vanesa.


"Kemana, Tan?" tanya Kiara.


"Tante mau ke butik cari baju. sekalian Tante beliin untuk kamu. Nanti bisa di pakai ke nikahan Adel," ucap Bu Vanesa.


"Siapa Adel?"


"Anak pertama dari Bu Anara," ucapnya.


"Oh anaknya Tante Anara. Tapi sepertinya saya pakai baju biasa saja, Tante."


"Tidak bisa, Kia. Ini pesta orang kaya loh, yang datang pasti para pebisnis. Jadi kamu harus memakai pakaian yang pantas juga.


"Baiklah, saya mau." kata Kiara.


"Kalau begitu sekarang kamu bersiap saja," pinta Bu Vanesa.


"Baik, Tante." jawabnya.


Kiara dan Bu Vanesa masuk ke dalam rumah.


Kiara sudah selesai bersiap. Bu Vanesa mengajaknya untuk segera pergi.


Saat ini keduanya sudah ada di perjalanan.


Hanya dua puluh menit saja, kini mereka sudah sampai di butik langganan Bu Vanesa.


Kiara hanya mengikuti langkah Bu Vanesa, hingga kini keduanya memasuki butik itu. Kiara melihat pakaian di butik itu terlihat mewah semua. Pasti harganya juga mahal.


"Kiara, cepat kamu pilih yang kamu suka!" pinta Bu Vanesa.

__ADS_1


"Baik, Tan." jawabnya.


Kiara melihat-lihat gaun yang dia suka. Namun ternyata harganya mahal-mahal.


Dari kejauhan Bu Vanesa menatap Kiara. Bu Vanesa melihat jika Kiara seperti sedang kebingungan memilih gaun pilihannya. Bu Vanesa mendekati Kiara untuk bertanya.


"Kia, kamu pilih yang mana?"


"Saya bingung, Tan. Ketiga gaun ini bagus semua, tapi harganya mahal. Tidak ada yang murah. Saya jadi bingung milihnya," kata Kiara.


"Tapi kamu suka?"


"Suka, Tan."


"Ya sudah kamu ambil semua saja, sinih biar saya bayarin," Bu Vanesa mengambil gaun yang sedang di pegang oleh Kiara.


"Tan,, tapi itu mahal? Lebih baik ambil satu saja."


"Tidak mahal kok, cuma lima juta," ucap Bu Vanesa.


Bu Vanesa pergi ke kasir, sedangkan Kiara hanya mengikutinya.


Bu Vanesa juga mengajak Kiara pergi ke toko tas dan sepatu. Bu Vanesa tahu jika Kiara pasti tidak punya tas dan sepatu yang bagus untuk di pakai ke acara pesta nanti.


Saat di toko sepatu, Kiara melihat seseorang yang di kenalnya.


Bu Vanesa melihat Kiara yang diam di tempat, tanpa mengikuti langkahnya.


"Kia, kenapa kamu masih disitu? Cepat sinih! Pilihlah sepatu yang kamu suka," pinta Bu Vanesa.


"Maaf, Tan. Sepertinya perutku sedikit kram Bagaimana jika Tante yang pilihkan saja," ucap Kiara sambil melirik ke arah Alan dan Nela yang juga ada di toko itu. Untung saja Alan belum menyadari kehadirannya.


"Baiklah, ukuran sepatu kamu berapa?" tanya Bu Vanesa.


"37, bu."


Kiara sudah keluar dari toko. Dia masuk ke mobil, dan menunggu Bu Vanesa disana.

__ADS_1


"Tante," ucap Alan memanggil Bu Vanesa.


Bu Vanesa menoleh ke sumber suara. Bu Vanesa melihat Alan bersama dengan Nela.


"Alan, Nela, kalian disini juga?°


"Iya, Tante. Kebetulan Alan nganterin aku beli sepatu. Tante beli sepatu juga?"


"Iya nih. Baru lihat-lihat dulu."


"Ya sudah kami duluan, Tan. Kebetulan kita sudah mau pergi," kata Alan.


"Hati-hati, Nak."


"Siap, Tan." jawab keduanya.


Kiara yang ada di dalam mobil, melihat Alan dan Nela keluar dari toko sepatu. Lalu keduanya masuk ke mobil, yang kebetulan terparkir di sebelah mobil Bu Vanesa.


Kiara melihat mereka masuk ke mobil dan saling mengobrol. Mereka tidak langsung pergi. Beruntung kaca mobil Bu Vanesa tidak bisa di lihat dari luar, sedangkan dari dalam bisa melihat jelas yang di luar. Kiara melihat Alan mendekatkan wajahnya dengan Nela. Mereka berci*uman cukup lama.


Kiara mengusap perutnya yang sudah terlihat buncit. Entah kenapa ada perasaan sedih saat melihat ayah dari bayinya berci*uman dengan wanita lain. Walaupun wanita itu kekasihnya.


Kiara melihat keduanya sudah selesai berci*uman, dan Alan mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran.


Bu Vanesa sudah masuk ke mobil, dan melihat Kiara yang sedang menangis.


"Kia, kamu kenapa, Nak? Kamu ngidam? Kamu mau apa?"


"Tidak, Tan. Aku tidak ngidam, aku tidak ingin apa-apa."


"Perut kamu masih kram?"


"Tidak, Tan."


"Kalau mau apa-apa, jangan sungkan untuk meminta sama saya."


"Baik, Tan."

__ADS_1


Bu Vanesa melihat Kiara seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Namun Bu Vanesa tidak akan bertanya sekarang. Takutnya jika nanti Kiara bertambah sedih.


__ADS_2