
Dua bulan kemudian
Sudah dua bulan ini Anara mengurus anaknya tanpa seorang pengasuh. Sebenarnya dia sedikit kerepotan. Namun dia menjalaninya dengan ikhlas. Yang penting ke dua anaknya tidak kekurangan kasih sayangnya.
Pagi ini Anara sedikit kelelahan. Dia tidak tahu kenapa badannya begitu lemas tidak seperti biasanya. Padahal Anara belum melakukan aktivitas yang berat. Dia baru membersihkan kamar anaknya, kamarnya, dan memandikan ke dua anaknya.
Bu Sinta melihat wajah Anara yang terlihat pucat.
"Nara, kamu pucat sekali loh. Pasti kamu kelelahan," ucap Bu Sinta.
"Nara memang kelelahan, Mah."
"Pasti karena kamu mengurus anakmu sendiri, jadi kelelahan. Nanti deh Mamah akan coba bicara ke Dika, agar di bolehkan untuk memakai jasa baby sister lagi," ujar Bu Sinta.
"Tidak usah, Mah. Nara tidak apa-apa kok," ucapnya.
"Tapi Mamah takut jika kamu kenapa-napa, sayang."
"Tidak apa-apa kok, Mah. Nara hanya sedikit kecapean saja."
"Biat Mamah panggil Dokter yah untuk memeriksa kamu," ucap Bu Sinta memberikan saran.
"Tidak usah, Mah. Nara baik-baik saja kok."
"Tapi Mamah khawatir sama kamu, Nak."
"Jangan khawatirkan Nara, Mah. Ya sudah, Nara mau membuang sampah dulu ke depan. Kebetulan tempat sampah yang ada di dekat tangga sudah penuh."
"Nanti biar Bibi saja, Nar." ucapnya.
"Bibi lagi di pasar, Mah. Ya sudah, Nara mau ke depan dulu," Anara mengambil tempat sampah yang ada di dekat tangga, lalu dia ke depan untuk membuang sampah yang sudah penuh.
Anara sudah membuang sampah. Saat akan kembali ke rumah, tak sengaja dia terpeleset di halaman rumah.
"Aww ... " Anara memegangi perutnya yang tiba-tiba saja terasa sakit.
'Kenapa perutku sakit sekali,' batin Anara.
Anara masih diam di tempatnya. dia belum bisa berdiri karena perutnya sangat sakit.
Kebetulan Pak Indra habis jogging di sekitar komplek perumahan. Dia melihat anaknya yang sedang duduk di tanah.
"Nara, kamu kenapa?" teriak Pak Indra yang baru memasuki gerbang.
"Sakit, Pah." ucap Anara sedikit merintih.
Pak Indra mendekati anaknya. Dia melihat ada darah di pakaian Anara.
__ADS_1
"Kamu terluka, Nak. Kok berdarah?".
"Nara juga tidak ta ... " perkataan Anara terpotong karena dia jatuh pingsan.
"Nara, bangun Nak," Pak Indra merasa panik saat melihat anaknya yang tiba-tiba pingsan.
Pak Indra terpaksa meninggalkan anaknya sebentar. Dia akan memanggil Bu Sinta keluar dari rumah dengan ke dua cucunya.
"Kenapa Nara bisa pingsan?" Bu Sinta merasa panik.
"Saya juga tidak tahu, tadi saat saya baru pulang, saya melihat Nara sudah terjatuh disini," ucapnya.
Bu Sinta menelfon ambulance untuk menjemput Anara. Sengaja Bu Sinta menyuruh ambulance itu datangnya sedikit lebih cepat karena ini sangat darurat. Anara butuh pertolongan secepatnya.
Setelah menelfon ambulance, Bu Sinta kembali menatap Anara. Tak sengaja Bu Sinya melihat darah di kaki Anara.
"Darah ... "Bu Sinta mulai menduga-duga. Dia berharap jika ini bukan seperti yang dia pikirkan.
Saat ambulnce sudah datang, Bu Sinta ikut masuk untuk menemani Anara. Sedangkan Pak Indra dan ke dua cucunya pergi di antar oleh supir pribadi.
Di sepanjang perjalanan, Bu Sinta mencoba untuk menghubungi Andika.
•••••○○○•••••
Andika baru saja selesi meeting pagi. Dia kembali pergi ke ruangannya. Andika menatap layar ponselnya yang sedang menyala. Ternyata baru saja ada panggilan masuk tak terjawab. Andika mengambil ponsel miliknya lalu mengecekmya. Ternyata itu panggilan masuk dari Ibunya. Andika kembali menghubungi ibunya.
"Hallo, Mah." ucap Andika dari balik telfon.
Bu Sinta mengatakan jika Anara di bawa ke rumah sakit.
"Apa?" Andika kaget saat tahu jika istrinya di bawa ke rumah sakit.
Andika segera bersiap untuk pergi. Dia sangat mengkhawatirkan istrinya.
Andika keluar dari rungannya dengan tergesa-gesa. Dia tidak perduli dengan tatapan semua karyawannya yang mungkin saja menganggapnya aneh.
Andika sudah sampai di parkiran depan. Dia segera pergi ke rumah sakit tempat istrinya di rawat.
Setelah mengemudi dengan cukup cepat, akhirnya Andika sampai juga di rumah sakit. Dia langsung pergi ke runag UGD. Dia melihat Ibunya dan Pak Indra berdiri disana.
"Mah, bagaimana keadaan Nara?" tanya Andika yang saat ini sudah berada di dekat Ibunya.
"Belum tahu, Nak. Dokter baru saja masuk untuk memeriksanya," ucap Bu Sinta.
Tiba-tiba ruangan itu terbuka. Dokter yang baru beberapa menit masuk ke dalam, kembali keluar untuk menemui keluarga Anara.
"Dengan keluarga pasien?"
__ADS_1
"Saya suaminya, Dok." ucap Andika.
"Dok, bagaimana kondisi menantu saya?" tanya Bu Sinta.
"Maaf, tapi kandungannya tidak bisa di selamatkan. Karena Bu Anara juga sudah pendarahan cukup lama."
"Istri saya hamil? Tapi kenapa ... "Andika merasa lemas. Dia sama sekali tidak tahu jika istrinya sedang hamil.
"Lakukan yang terbaik untuk menantu saya, Dok." pinta Bu Sinta.
"Baik, Bu. Saya mau melanjutkan lagi pekerjaan saya," Dokter itu kembali masuk, lalu menutup pintu.
Andika duduk di salah satu kursi tunggu. Dia menopang dagunya menggunakan ke dua tangannya.
"Nak, kamu yang sabar, ya." Bu Sinta mencoba menenangkan anaknya.
"Mamah tahu jika Anara hamil?" tanya Andika.
"Mamah tidak tahu, Nak. Ini pertama kalinya Mamah tahu. Tapi beberapa hari ini wajah istrimu terlihat pucat. Mamah kira dia hanya kecapean karena harus menjaga dua anak sendirian," ucapnya.
"Kenapa Nara tidak bilang kalau dia sedang hamil?" Andika mengacak kasar rambutnya. Dia begitu terpukul mendengar kabar duka itu.
"Sabar, Nak. Kamu harus tenang, doakan saja yang terbaik untuk istrimu," ucap Bu Sinta.
"Iya, Mah. Dika akan mencoba ikhlas. Mungkin anak itu belum rezeki Dika dan Nara."
Bu Sinta mengusap punggung anaknya.
Tak lama ruangan itu sudah terbuka. Terlihat Dokter keluar dengan beberapa perawat di belakangnya sambil mendorong brankar pasien dimana Anara berbaring.
Saat ini Anara masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.
Andika dan yang lainnya mengikuti perawat itu pergi. Kebetulan Anara akan di pindahkan ke ruang inap.
Setelah beberapa perawat itu keluar, Andika mendekati istrinya. Dia mengambil kursi, lalu duduk di samping ranjang pasien dimana istrinya berbaring. Andika terus memegang tangan Anara dan menciuminya.
"Sayang, cepat sadar!" ucap Andika.
Cukup lama mereka ada di ruangan itu. Bu Sinta dan Pak Indra pergi keluar bersama ke dua cucunya. Kebetulan tadi Adelia dan Eva merengek. Mungkin mereka sumpek berada di ruangan itu. Jadi Bu Sinta mengajaknya untuk pergi ke taman yang ada di rumah sakit.
Andika menundukan pandangannya sambil memegang tangan kanan istrinya.
Andika merasa jika ada pergerakan dari tangan Anara.
"Mas, aku dimana?"
°°°°°
__ADS_1