
"Memangnya Papah dengar apa?" tanya Andika.
"Tadi saya cuma dengar akhirnya saja, kalau tidak salah Sama Anara." ucap Pak Indra.
Andika dan Bu Sinta merasa lega karena ternyata Pak Indra tidak mendengar sepenuhnya perkataan mereka.
"Oh, tadi saya tanya sama Dika. Ngapain mau ke kamar Anara? Kebetulan tadi saya lihat Dika sedang mengetuk pintu kamar," ucap Bu Sinta berbohong demi kebaikan.
"Biarkan saja, mereka sudah sama-sama dewasa. Mungkin hanya mau saling mengobrol," ucap Pak Indra. "Ya sudah, saya kembali ke depan," setelah mengatakan itu Pak Indra pergi ke ruang keluarga.
"Kalau begitu Dika juga pamit dulu, Mah," ucap Andika kepada Ibunya. Sedangkan Bu Sinta menatapnya dengan tatapan tajam.
"Awas kalau kamu ketahuan berbuat yang macam-macam, nanti Mamah nikahkan sekalian."
"Nikahkan saja, Mah. Dika malah merasa senang," ucapnya, lalu segera pergi dari sana sebelum Bu Sinta mengomel lagi.
Anara membuka pintu kamarnya karena dia mendengar suara berisik dari luar. Namun saat dia membuka pintu, di depan tidak ada siapa pun.
°°°
Bu Sinta mengetuk pintu kamar Anara, untuk mengajaknya makan malam. Namun tidak ada sahutan dari dalam.
'Mungkin Nara sedang di kamar anaknya,' batin Bu Sinta.
Bu Sinta pergi ke kamar Adelia. Dan benar saja Anara ada disana.
"Nara, makan malam yuk!" ajak Bu Sinta, yang kini berdiri di depan pintu yang kebetulan tidak tertutup.
"Iya, Mah. Sebentar!" ucapnya.
Anara menatap ke dua anaknya yang sedang tertidur, lalu dia beranjak dari atas tempat tidur dan pergi memanggil Ani. Dia meminta Ani untuk menjaga ke dua anaknya, karena dia akan makan malam bersama dengan keluarganya.
__ADS_1
Anara sudah sampai di ruang makan. Dia menarik kursi untuk di duduki.
"Nara, kamu tidak duduk di sebelah Dika saja," ucap Bu Sinta yang sedang duduk di sebelahnya.
Anara menatap sekilas ke arah Andika yang sedang duduk di depannya, lalu dia menatap Bu Sinta yang sedang duduk di sebelahnya.
"Tidak mau, lebih nyaman disini," ucapnya.
Mereka berempat hanya fokus makan saja. Tidak ada yang bersuara saat makan.
Anara menghentikan sejenak tangannya, yang hendak menyendok makanan di dalam piring. Dia merasakan geli di kakinya. Dia menatap ke bawah dan melihat kaki Andika bermain-main di atas punggung kakinya.
'Lagi makan enak-enak malah di gangguin,' batin Anara.
"Nara, kok diam? Itu nasinya masih utuh loh?" tanya Bu Sinta.
"Iya, Mah." Anara kembali fokus makan. Namun di bawah, kaki Andika masih tidak bisa diam.
Anara tersenyum menatap Andika. Andika yang melihat senyuman Anara, mengira jika Anara menikmati sentuhan di kakinya.
"Aww ... "Andika berteriak karena merasa sakit, saat kakinya di injak oleh Anara.
Semua yang ada di ruang makan menatap Andika yang bersikap aneh.
"Kamu kenapa?" tanya Bu Sinta, yang merasa heran karena tiba-tiba anaknya berteriak.
"Tidak, Mah. Tadi hanya prank," ucap Andika.
"Astaga, kamu ngagetin orang saja," Bu Sinta mengusap dadanya.
Anara tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil memberikan pelajaran kepada Andika yang sering bertindak tidak sopan kepadanya.
__ADS_1
Anara buru-buru menyelesaikan makan malamnya, lalu dia segera pergi dari sana.
Anara bersantai di taman belakang sendirian. Terlihat Andika yang menghampirinya.
"Ekhm, sendirian saja," Andika duduk di sebelah Anara.
"Hm," hanya itu yang terucap dari mulut Anara.
"Kamu marah?"
"Iya," ucap Anara.
"Jangan cuek dong, nanti cantiknya hilang," Andika mengusap pelan dagu Anara.
Anara menepis tangan Andika, lalu dia menatapnya tajam.
"Plis, jangan colek-colek! Aku bukan wanita murahan," ucap anara.
"Maaf, aku ... " perkataan Andika terpotong saat Anara meletakan jarinya di bibirnya.
"Aku tidak mau dengar apa pun itu. Jauhi aku! Aku pasti akan tenang," Anara beranjak dari duduknya, lalu dia kembali masuk ke rumah.
Andika masih diam sambil mencerna perkataan Anara.
Andika menunduk lesu sambil memejamkan ke dua matanya. Mungkin dia yang suka pegang-pegang membuat Anara ilfil.
'Baiklah, jika itu memang maumu, aku akan menjaga jarak darimu,' batin Andika.
Saat ini Anara sudah berada di kamarnya. Dia memegangi dadanya yang terasa sakit. Entah kenapa perkataan yang dia ucapkan tadi membuatnya sesak. Padahal harusnya Andika yang merasakan itu, bukan dirinya.
°°°°°°
__ADS_1