
Adelia sudah terlihat rapih. Dia akan pergi ke bandara di antar oleh keluarganya.
"Adel, sudah siap?" Bu Anara menghampiri anaknya yang berada di kamar. Kebetulan pintu kamar itu tidak tertutup, jadi Bu Anara bisa langsung masuk.
"Sudah, Mah." Adelia menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum manis menatap ibunya.
Bu Anara mendekati anaknya lalu memeluknya.
"Mamah bakalan kangen sama kamu, Nak. Kamu sering-sering telfon ya," pinta Bu Anara. Lalu Bu Anara melepaskan pelukannya.
"Mamah tenang saja, nanti aku akan sering telfon kok," ucapnya.
"Padahal Nenek akan datang kesini loh, kamu malah pergi."
"Nenek Sinta?"
"Iya, Nak. Katanya Nenek kangen sama cucunya."
"Yah, padahal aku juga kangen sama Nenek. Tapi ya bagaimana lagi, sekarang juga harus pergi."
"Tidak bisa di undurkah?" tanya Bu Anara.
"Tidak bisa, Mah. Adel harus pergi hari ini juga," ucapnya.
Sebenarnya Adelia kangen sekali dengan neneknya. Namun dia harus tetap pergi. Dia tidak bisa berlama-lama di rumah itu. Karena untuk saat ini, hal yang dia butuhkan itu menenangkan diri.
"Baiklah, kalau memang tekadmu sudah bulat. Ya sudah ayo siap-siap! Yang lainnya sudah menunggu di bawah."
"Iya, Mah." Adelia mengambil koper miliknya yang ada di dekat ranjang, lalu dia mengikuti ibunya yang sudah melangkah keluar kamar.
__ADS_1
Sebelum menutup pintu, sejenak Adelia menatap sekeliling kamarnya.
Adelia dan ibunya sudah sampai di lantai bawah. Pak Andika mengambil koper yang sedang di pegang oleh anaknya.
"Biar Papah yang bawakan," ucapnya.
"Terima kasih, Pah." Adelia menggandeng tangan ayahnya dengan manja.
"Sama-sama," ucapnya. Lalu Pak Andika mencubit gemas pipi anaknya.
"Papah kalau sama Kak Adel selalu bersikap seperti itu, ibarat ke anak kecil saja," ucap Eva yang melihat interaksi antara ayah dan kakaknya.
"Maklum, karena Adel sangat mirip dengan Papahmu," sahut Bu Anara.
"Ih Papah, Adel sudah besar loh. Malu tuh di lihatin mereka," ucap Adelia sambil menatap Eva dan Rian yang sedang menatapnya.
"Ingat Del, kamu kesayangan Papahmu, jadi Mamah harap, kamu tidak akan mengecewakan kita," ucap Bu Anara yang sedang berjalan di belakang anaknya.
Mendengar kata mengecewakan, tentu membuat Adelia ingat dirinya yang tidak bisa menjaga kesuciannya sendiri. Tentu itu sudah sangat mengecewakan.
"Iya, Mah. Adel akan berusaha untuk tidak mengecewakan Mamah dan Papah," ucap Adelia menyahut perkataan ibunya.
Bu Anara menatap Eva dan Rian yang berjalan di belakangnya.
"Kalian mau pakai mobil sendiri atau bareng kita?" Bu Anara bertanya sambil menatap keduanya.
"Biar Rian bawa mobil sendiri saja, Mah." jawab Rian.
"Baiklah, kalian hati-hati."
__ADS_1
"Siap, Mah." Eva menimpali perkataan Ibunya.
Kini mereka sudah ada di dalam mobil. Pak Andika segera mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya. Rian juga mengemudikan mobilnya di belakang mobil yang di kendarai oleh Pak Andika.
Setelah cukup lama di perjalanan, kini mereka sudah sampai di bandara. Adelia dan yang lainnya segera turun dari mobil.
Setelah pesawat tujuan london take off, Pak Andika dan keluarganya barulah meninggalkan bandara. Mereka sengaja menunggu pesawat yang di naiki oleh Adelia terbang ke atas awan.
Selama perjalanan, Adelia hanya tidur saja. Sebenarnya semalam dia sengaja tidak tidur lama agar hari ini dia bisa tidur saat di pesawat.
•••••••
Pak Andika dan keluarganya sudah sampai di rumah. Mereka segera beristirahat.
Eva mengajak suaminya pergi ke kamar. Saat ini mereka sudah duduk di pinggiran ranjang.
“Jadi kapan kita akan melakukan hubungan itu?” tanya Eva.
“Kenpa kamu bertanya seperti itu?”
“Bukankah semalam Mas Rian berjanji akan melakukannya setelah kita mengantar Kak Adel ke bandara?”
"Tapi bukan sekarang juga, Eva." kata Rian.
"Kenapa Mas Rian seperti menghindariku? Kenapa seolah tidak mau melakukan itu?" tanya Eva.
Eva merasa jika suaminya selalu menjawab muter-muter saat dirinya membahas malam pertama mereka yang sampai saat ini belum mereka lakukan.
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri, aku gerah, mau keluar dulu," setelah mengatakan itu Rian berlalu pergi keluar dari kamar.
__ADS_1