
Esok hari merupakan hari ke tujuh usia anak ke dua Anara. Namun Anara sama sekali belum menyiapkan nama untuk anaknya. Dia masih mengharapkan Aldi untuk memberikan nama untuk anak mereka. Namun sampai sekarang keadaan Aldi masih sama, belum ada perkembangan apa pun.
Bu Sinta mendekati Anara yang sedang menidurkan anaknya.
"Nara, nanti kamu keluar yah. Mamah mau bicara sama kamu," ucap Bu Sinta.
"Iya, Mah."
Setelah melihat anaknya tidur nyenyak, Anara memanggil Ani dan memintanya untuk menjaga anaknya sebentar.
Anara pergi menemui Bu Sinta. Kebetulan Bu Sinta sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
"Mah, apa yang mau Mamah bicarakan?" tanya Anara.
"Begini, Nak. Besok itu hari ke tujuh setelah kelahiran cucu Mamah. Biasanya umur tujuh hari itu kita ngasih nama. Kamu sudah menyiapkan nama belum?"
"Belum, Mah. Anara ingin sekali yang memberi nama itu Kak Aldi."
"Kita doakan saja yang terbaik untuk Aldi agar cepat sadar dan bisa berkumpul lagi dengan kita."
"Iya, Mah. Nara selalu mendoakan yang terbaik untuk Kak Aldi," ucap Anara.
"Sekarang kita cari nama yah untuk anak kamu. Pasti Aldi senang kok jika kamu yang memberi nama untuk anak kalian."
Anara tampak memikirkan sesuatu. Terlihat Anara sedikit menarik sudut bibirnya.
"Bagaimana jika namanya Eva Calista," ucap Anara.
"Wah bagus juga, Mamah setuju. Kalau begitu nanti Mamah belanja, kita adakan syukuran kecil-kecilan untuk kelahiran anak kamu."
"Apa tidak sebaiknya saat Kak Aldi sudah siuman saja, Mah."
__ADS_1
"Nara, kasihan loh anak kamu. Masa hanya syukuran juga harus menunggu Aldi siuman."
Anara sadar, dia tidak boleh egois seperti ini. Apalagi syukuran itu memang harus di lakukan.
"Baiklah, tapi Mamah yang urus semua yah," ucap Anara.
"Kamu tenang saja, sayang. Nanti biar Mamah sama Andika yang mengurus semuanya.
•••••••
Keesokan harinya, Bu Sinta sedang sibuk membantu Bi Inem memasak. Niatnya nanti malam akan ada acara doa bersama. Bu Sinta tidak mengundang orang banyak, hanya beberapa jama'ah dari masjid yang ada di belakang komplek perumahan itu.
Kebetulan Andika baru pulang dari rumah sakit. Dia sengaja pergi ke rumah Aldi. Karena sudah berjanji akan membantu Ibunya. Andika menghampiri Bu Sinta yang sedang berkutat di dapur.
"Mah, belum selesai yah?"
Bu Sinta menoleh ke sumber suara, dan melihat anaknya sedang berdiri tak jauh darinya.
"Siap, Mah." Andika segera pergi dari sana. Dia bergabung dengan Adel yang sedang bermain bersama Ani.
"Ani, kamu bantu Mamah saja di dapur! Biar Adel saya yang jagain," ucap Andika.
"Baik, Tuan." Ani beranjak dari duduknya lalu pergi ke dapur.
Setelah cukup lama berkutar di dapur, kini semua masakan sudah matang. Ani membantu Bu Sinta memasukan semua menu makanan itu ke dalam wadah yang sudah di sediakan. Setelah semuanya siap, Bu Sinta memanggil Andika.
"Dika, cepat kamu bagikan tuh makanan!" pinta Bu Sinta kepada anaknya yang sedang menemani Adel bermain.
"Ke perkampungan belakang komplek yah, Mah."
"Iya, kamu datang saja ke masjid. Kasih saja ke Ustad Umar. Biar nanti Ustad Umar yang membagikan ke jama'ahnya."
__ADS_1
"Baik, Mah."
Andika mengikuti Bu Sinta pergi ke dapur. Mereka membawa bingkisan makanan dan menaruhnya di mobil Andika.
Setelah mengantar bingkisan makanan ke Ustad Umar, Andika kembali pulang. Sekarang tinggal membagikan makanan ke tetangga yang tinggal di sekitar rumah Aldi.
°°°
Pukul delapan malam, rumah Aldi sudah cukup ramai. Saat ini semuanya sedang doa bersama untuk mensyukuri kelahiran Eva Calista.
Bu Sinta menghampiri Andika yang sedang ikut doa bersama.
"Al, tolongin Nara! Anaknya menangis tapi tidak mau berhenti juga. Siapa tahu jika kamu yang menggendong, Eva akan tenang," ucap Bu Sinta.
"Baiklah, Dika akan mencoba menenangkannya," Andika beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamar Anara.
Andika sudah ada di depan pintu yang kebetulan tertutup, tapi tidak terlalu rapat. Dia langsung saja mengetuk pintu itu.
"Masuk!" ucap Anara dari dalam.
Andika membuka pintu itu dan langsung masuk.
Andika mendekati Anara yang sedang menenangkan Eva.
"Biar sama saya," ucap Andika.
Anara memberikan Eva kepada Andika. Dalam hitungan detik, bayi mungil itu seketika diam.
Anara merasa bersyukur karena anaknya sudah tidak menangis lagi. Mungkin saja anaknya sedang merindukan ayahnya.
'Sebaiknya besok aku ajak Eva untuk menemui Kak Aldi di rumah sakit,' batin Anara.
__ADS_1
°°°