
Sudah beberapa kali Alan menjalin hubungan, namun tidak pernah bisa bertahan lama. Dia juga sampai bingung, kenapa dia sampai di putuskan begitu saja. Padahal dia itu termasuk laki-laki tampan, dari keluarga kaya, calon CEO, namun dia bingung kenapa wanita di luar sana tidak ada yang bertahan lama saat menjalin hubungan dengannya.
Sore ini setelah pulang dari kantor, Alan pergi ke cafe langganannya. Karena sudah beberapa hari ini dia tidak pergi ke cafe itu. Alan yang baru masuk ke cafe, dia menengok kanan kirinya mencari tempat duduk yang kosong. Tak sengaja dia melihat mantan kekasih yang kebetulan tiga hari yang lalu memutuskannya, ada di cafe itu juga. Bahkan mantan kekasihnya itu bersama laki-laki muda yang tak jauh tampan dari Alan.
"Oh jadi ini alasan kamu mutusin aku? Kamu punya laki-laki lain?" Alan berdiri di depan mereka, sambil menatap keduanya.
"Atas dasar apa kamu menyalahkan aku? Salahkan saja itu ayah kamu yang menyuruhku untuk mutusin kamu. Katanya kamu sudah punya anak dari wanita lain. Ya aku tidak mau ya sama kamu lagi."
'Jadi ini ulah Papah. Lalu pacar-pacarku yang kemarin, apa Papah juga yang membuat mereka semua pergi dari hidupku,' batin Alan.
Alan pergi begitu saja dari sana. Dia memutuskan untuk pulang. Dia sudah tidak sabar untuk bertanya kepada ayahnya.
Tak butuh waktu lama untuk Alan mengemudi sampai ke rumah. Saat ini mobil yang dia kendarainya, memasuki gerbang rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Alan segera turun dan melangkah memasuki rumah.
Bu Anara melihat anaknya yang baru pulang.
"Nak, kamu sudah pulang?"
"Iya, Mah. Papah dimana?" Alan melihat sekelilingnya mencari keberadaan ayahnya.
"Ada di kamar, memangnya ada apa kamu mencarinya?"
"Ada hal penting yang ingin Alan bicarakan kepada Papah," ucapnya.
"Biar Mamah panggilkan dulu," Bu Anara beranjak dari duduknya, lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Bu Anara tidak bertanya hal apa yang ingin Alan bicarakan dengan suaminya. Karena Bu Anara mengira mungkin saja anaknya itu akan membicarakan masalah pekerjaan.
Kini Bu Anara sudah kembali ke ruang keluarga bersama suaminya.
"Alan, katanya kamu mau bicara penting, memangnya kamu mau bicara apa?" tanya Pak Andika.
"Jadi Papah yang menyuruh semua wanita itu untuk memutuskanku?"
"Memangnya kenapa Alan? Kamu ini sudah punya anak kan? Kenapa tidak menjalin hubungan saja dengan ibu dari anakmu?" tanya Pak Andika.
"Alan kan tidak suka sama Kia. Lagian dia bukan tipeku," jawabnya.
"Terserah kamu mau bicara apa, Alan. Yang penting Mamah sama Papah itu tidak suka jika kamu menjalin hubungan dengan wanita di luar sana," sahut Bu Anara.
"Berani keluar dari rumah ini, papah coret nama kamu dari daftar keluarga kita," ucap Pak Andika.
Seketika Alan diam di tempatnya berdiri. Dia kembali menoleh ke belakang, menatap kedua orang tuanya.
"Baiklah, aku tidak akan pergi," setelah mengatakan itu Alan pergi ke kamarnya.
Alan tidak mau jika dia di coret dari daftar keluarga. Bisa-bisa nanti dia hidup jadi gelandangan di luaran sana.
••••••••
Alan hanya fokus dengan kuliah dan pekerjaannya. Lagian jika dia cari pacar lagi, pasti ayahnya kembali membuatnya putus. Untuk saat ini dia harus menurut.
__ADS_1
Semakin hari kinerja Alan semakin baik. Bahkan dia sering pergi ke luar kota untuk bertemu klien, menggantikan ayahnya. Pak Andika juga masih menyuruh orang suruhannya untuk mengikuti kemana pun Alan pergi. Tapi kata orang suruhannya, saat ini Alan tidak pernah lagi bertemu dengan wanita di luaran sana.
Setidaknya untuk saat ini Pak Andika sedikit lega. Mungkin harus sedikit menggertak biar anaknya itu mau menurut.
Tring tring
Bu Anara yang sedang mengobrol bersama dengan suaminya, mendengar ponsel miliknya berdering. Bu Anara mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu segera mengangkat panggilan telepon itu. Kebetulan Kiara yang meneleponnya. Keduanya tampak asyik mengobrol. Kiara juga berbicara banyak hal dengan Bu Anara. Dia bercerita, jika dia betah tinggal di luar negeri.
Bu Anara meminta foto Kiara dan anaknya saat ini. Kiara langsung saja mengambil foto dan mengirimnya kepada Bu Anara.
Pak Andika melihat istrinya yang sudah selesai bertelponan.
"Mah, Kiara bicara apa?"
"Hanya berbicara seperti biasanya kok. Tidak ada hal penting yang dia bicarakan."
"Papah kok jadi kangen ya sama cucu Papah. Kira-kira dia sudah sebesar apa ya sekarang?"
"Sama, Pah. Mamah juga kangen sama Keandra. Kapan-kapan kita tengokin lagi yuk!"
"Iya, Mah. Tapi nanti nunggu kesehatan Papah membaik. Mamah kan tahu sendiri jika akhir-akhir ini Papah sering sakit."
"Baik, Pah.
°°°°°°°
__ADS_1