
Kiara sudah sembuh dari sakitnya. Sekarang dia bisa beraktivitas seperti semula.
Eva melihat Kiara yang baru keluar dari kamar. Penampilannya juga sudah terlihat rapi.
"Kia, kamu mau kemana?" tanya Eva.
"Mau pergi ke taman, Kak. Aku sedang ingin pergi kesana."
"Biar Alan yang antar ya," ucapnya.
"Tidak usah, Kak. Aku tidak mau merepotkannya."
"Tidak merepotkan kok. Sebentar, Kakak mau panggil Alan dulu," Eva berlalu pergi dari hadapan Kiara.
Saat ini Eva berada di depan pintu kamar Alan.
Tok tok
"Alan, bangun!" Ucap Eva.
Sudah beberapa kali Eva memanggilnya, barulah Alan membuka pintunya.
"Ada apa sih, Kak?" tanya Alan. Penampilannya sekarang masih acak-acakan, karena Alan baru saja bangun tidur.
"Cepat mandi! Nanti antar Kiara pergi ke taman."
"Kok aku sih?"
"Iyalah, memangnya siapa lagi."
"Perginya sama Kak Eva saja," pinta Alan.
"Tidak bisa, Alan. Kakak mau pergi juga," tolaknya. Sebenarnya bukannya Eva tidak mau mengantar, tapi karena dia ingin jika Alan dan Kiara semakin dekat jika terus bersama.
"Baiklah, tapi aku mau mandi dulu," Alan kembali menutup pintu kamarnya.
Kiara melihat Eva yang kini sudah kembali.
"Kia, katanya Alan mau mengantar kamu. Tapi dia mau mandi dulu, karena baru bangun."
"Baiklah, kalau begitu aku mau siapkan sarapan untuk Alan," ucap Kiara.
"Iya, aku juga mau pamit ya. Aku ada urusan di luar," pamit Eva.
"Hati-hati, Kak." ucap Kiara.
"Siap, aku pergi dulu ya."
Kiara mengantar Eva hingga keluar dari apartemen. Setelah melihat kepergian Eva, Kiara kembali menutup pintu.
Kiara pergi ke ruang makan untuk mengambilkan makan untuk Alan.
Alan keluar dari kamarnya hanya dengan menggunakan handuk saja.
"Kak Eva ... Kak Eva ... " Alan berteriak memanggil Eva.
__ADS_1
Kiara pergi ke sumber suara.
"Ada apa mencari Kak Eva?" tanya Kiara.
"Mau tanya bajuku kok tidak ada. Kak Eva dimana?"
"Tadi keluar, katanya mau pergi."
"Memangnya cari baju yang mana? Sini aku carikan," tawar Kiara.
"Tidak usah, tidak jadi." Alan kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian dia pergi ke ruang makan untuk sarapan. Dia melihat ada piring yang sudah terisi dengan nasi dan lauk. Lalu dia menatap Kiara yang berada di dapur.
"Ini makanan siapa?" tanya Alan.
"Itu makanan untuk kamu," jawab Kiara, yang kini sedang mencuci tangan di wastafel.
'Pengertian juga,' batin Alan, lalu dia mulai melahap makanan itu.
Memang selama tinggal di apartemen, Kiara selalu melayani semu kebutuhan Alan. Dia juga yang menyuci dan menyetrika bajunya. Sebenarnya Eva melarangnya karena takutnya jika Kiara kecapean. Namun Kiara sendiri yang tetap memintanya.
Setelah Alan selesai sarapan, kini dia dan Kiara segera pergi.
Saat ini Alan dan Kiara sedang ada di perjalanan menuju ke taman. Di tengah perjalanan, Alan melihat seseorang yang di kenalnya sedang berdiri di depan supermarket.
Alan memilih untuk menghentikan mobilnya, lalu dia membuka kaca mobilnya.
"Nela, ngapain kamu disini?"
"Ayo masuk, biar aku antar," tawar Alan.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri kok," jawabnya.
"Yakin nih, aku pergi kalau gitu," Alan hendak menyalakan mesin mobilnya.
" Tunggu! Aku ikut," ucap Nela.
Alan melirik Kiara yang duduk di sebelahnya.
"Cepat pindah ke belakang!" pinta Alan.
"Kenapa aku?"
"Menurut saja," pintanya.
Kiara membuka pintu mobil. Dia keluar dan pindah duduk di belakang.
Sepanjang jalan Alan dan Nela saling mengobrol. Nela juga sudah memaafkan Alan karena pernikahan mereka batal. Dia berpikir, mungkin mereka berdua itu tidak berjodoh. Namun saat dekat lagi seperti ini, perasaan cinta Nela terasa hadir lagi.
Kiara merasa cemburu melihat Alan dan Nela yang sedang bercanda tawa seperti itu.
'Mungkin Alan memang tidak menginginkanku disisinya,' batin Kiara.
°°°°°°
__ADS_1
Saat ini Eva dan Reno sedang berada di rumah orang tua Eva. Niatnya mereka ingin membicarakan hal yang serius.
"Jadi apa yang ingin kalian katakan?" tanya Bu Anara.
"Niat saya datang kesini, karena saya berniat untuk melamar Eva menjadi istri saya," ucap Reno dengan ramah.
"Wah Mamah senang mendengarnya. Jadi kapan kalian akan menikahnya?" Bu Anara kembali bertanya.
"Mah, aku ingin ijab dulu saja. Nanti resepsinya sekalian bareng Alan dan Kiara jika mereka menikah. Lagian biar Mamah lebih irit biaya," ucap Eva.
"Bagus juga, Mamah setuju, Nak."
"Nanti setelah menikah, saya ingin ajak Eva tinggal di luar negeri. Karena saya mengurus perusahaan disana," ucap Reno.
"Mamah setuju saja. Yang penting kalian bahagia."
"Untuk lamaran resminya, nanti saya bicara dulu sama Papah. Mungkin untuk beberapa hari lagi saya akan datang mengajak Papah."
"Kami tunggu kedatangannya," ucap Bu Anara.
Bu Anara senang karena anak keduanya akhirnya menikah lagi. Bu Anara hanya berharap jika pernikahan mereka akan langgeng, tidak seperti pernikahan yang sebelumnya.
Setelah Reno selesai berbicara, Bu Anara langsung pergi ke belakang. Sebenarnya Bu Anara pergi ke kamar, karena akan menelepon suaminya, dan memberitahukan jika Reno datang berniat melamar Eva. Kebetulan saat ini Pak Andika sedang berada di luar kota untuk mengurus perjalanan bisnis.
Pak Andika sangat senang saat mendengar kabar bahagia itu. Pak Andika juga mengatakan jika akan cepat-cepat pulang setelah pekerjaannya selesai. Karena Pak Andika sudah kangen berkumpul dengan keluarganya.
Setelah selesai menelepon suaminya, Bu Anara kembali menghampiri Eva dan Reno. Mereka terus bercerita hingga menjelang jam makan siang.
Bu Anara menatap jam yang ada di dinding.
"Sudah siang nih, Mamah mau masak dulu ya," ucap Bu Anara.
"Biar Eva bantuin, Mah."
"Tidak usah, kamu temani Nak Reno saja disini. Lagian ada Bibi yang bantuin Mamah. Nanti setelah selesai memasak, kita makan siang bersama," ucap Bu Anara.
"Baik, Mah." ucap Eva.
Bu Anara berlalu pergi dari hadapan mereka.
Setelah cukup lama berkutat di dapur, akhirnya Bu Anara sudah selesai memasak.
Bu Anara memanggil Eva dan Reno, dan akan mengajaknya untuk makan bersama.
"Eva, Reno, ayo makan!" ajak Bu Anara.
"Iya, Mah." jawab Eva.
Eva dan Reno segera beranjak dari duduknya, lalu mereka pergi ke ruang makan.
"Terima kasih, Tante. Saya jadi tidak enak nih, seperti numpang makan saja," ucap Reno.
"Jangan berpikiran seperti itu, Nak Reno. Lagian Nak Reno sudah saya anggap seperti bagian dari keluarga saya," ucap Bu Anara.
" Iya, Tante." Reno tersenyum menatap Bu Anara.
__ADS_1
Eva mengambilkan makan untuk Reno. Bu Anara yang melihat itu, ikut merasa senang.