
Alan yang sedang jalan bersama Nela, terpaksa harus segera pergi setelah mendapat telepon dari Eva. Sebenarnya Alan pergi itu karena Nela yang memaksa. Karena sebentar lagi dia akan berangkat ke luar negeri untuk waktu yang lama.
Terpaksa Nela pergi sendiri, karena Alan sudah pergi setelah tadi dia menerima telepon. Entah alasan apa, Alan tidak memberitahunya. Tapi yang pasti, Alan pergi untuk mengurus sesuatu yang penting.
Alan sedang mengemudikan mobilnya melewati keramaian ibukota. Dia sedang mencari keberadaan Kiara sesuai permintaan Eva.
'Sebenarnya dia kemana sih? Menyusahkan saja,' batin Alan.
Alan sudah berkeliling untuk mencari Kiara, namun dia tidak menemukannya. Akhirnya Alan memilih untuk pulang.
Eva yang sedang duduk sendirian, melihat pintu apartemen terbuka.
"Alan, dari tadi Kakak telepon kamu, tapi nomor kamu tidak aktif terus. Kamu kemana saja sih? Dimana Kiara?"
"Maaf, Kak. Ponselku kehabisan baterai. Aku sudah mencari Kiara, tapi tidak menemukan keberadaannya."
"Nyari kemana kamu? Jangan-jangan dia pergi juga karena kamu," Eva menatap Alan penuh selidik.
"Kakak apa-apaan sih main tuduh saja," ucap Alan.
"Lagian tidak mungkin jika dia pergi begitu saja tanpa penyebabnya."
"Mungkin dia itu merasa menjadi beban keluarga kita, jadinya dia pergi," ucap Alan.
"Jaga bicara kamu, Alan! Harusnya kamu itu merasa bersalah. Jadi laki-lali kok mau enaknya doang."
"Saat itu aku tidak sadar, Kak. Aku mana tahu saat itu enak atau tidak."
"Ah pusing kalau bicara sama kamu. Mending Kakak ke kamar saja," Eva beranjak dari duduknya, lalu dia pergi dari sana.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Eva segera menghubungi ibunya dan memberitahukan bahwa saat ini Kiara pergi dari apartemen. Jujur saja Bu Anara tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Karena Kiara dan Alan terlihat baik-baik saja, bahkan mereka juga sudah menerima pernikahan yang sudah di rencanakan oleh keluarga. Tapi mungkin ada sesuatu yang membuat Kiara memilih untuk pergi.
Setelah menghubungi ibunya, Eva memutuskan untuk beristirahat.
°°°°°°°°
"Mah, siapa yang menelepon?" tanya Pak Andika saat melihat istrinya yang baru selesai berteleponan.
"Ini, Pah. Tadi Eva menghubungi Mamah. Dia bilang Kiara pergi dari apartemen," ucap Bu Anara.
"Apa? Bagaimana bisa? Apa masalahnya tiba-tiba Kia pergi begitu saja?" Pak Andika terkejut saat tahu jika Kiara pergi.
"Mamah tidak tahu, Pah. Begitu juga Eva yang tidak tahu," jawabnya.
"Pasti ini karena Alan. Coba deh Mamah telepon Alan, lalu memintanya untuk datang kesini."
"Sekarang, Pah?" tanya Bu Anara.
Bu Anara segera menghubungi nomor Alan, namun nomornya tidak aktif. Bu Anara kembali menghubungi nomor Eva dan memintanya untuk memberikan ponselnya kepada Alan, karena Bu Anara akan berbicara kepadanya.
Bukan hanya Bu Anara yang berbicara kepada Alan, namun Pak Andika juga ikut berbicara. Pak Andika meminta Alan untuk segera pulang, karena ada hal yang ingin di bicarakan.
Alan sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. Pasti dia akan dimarahi karena kepergian Kiara yang tiba-tiba.
Kini Alan keluar dari apartemen. Dia akan segera pergi ke rumah orang tuanya.
Tak butuh waktu lama untuk dia sampai di rumah. Karena Alan mengemudikan mobilnya dengan cukup cepat.
Terlihat Bu Anara yang sudah berdiri di depan rumah. Sengaja Bu Anara menunggu kedatangan Alan.
__ADS_1
"Mamah, ngapain berdiri disini?" tanya Alan yang kini sudah berada di dekat ibunya.
"Mamah sengaja nungguin kamu. Ayo masuk! Ayah kamu sudah menunggu," ucapnya.
"Baik, Mah." Alan melangkah duluan memasuki rumah, di ikuti oleh Bu Anara di belakangnya.
Pak Andika menatap anaknya yang sedang melangkah mendekatinya.
"Duduklah!" pinta Pak Andika.
Alan mendudukkan dirinya di sofa depan ayahnya.
"Coba kamu jelaskan yang sejujurnya kepada kami. Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan Kia?" tanya Pak Andika.
"Tidak ada masalah apa pun, Pah." jawab Alan.
"Tidak mungkin jika tidak ada masalah. Lalu, kenapa tiba-tiba Kia pergi?"
"Aku juga tidak tahu, Pah." jawabnya.
"Pah, jika di lihat dari karakternya, mungkin Kia menyimpan sesuatu dari kita semua. Mungkin ada unek-unek yang tidak bisa dia ungkapkan sehingga dia memilih pergi," ujar Bu Anara.
"Benar juga sih," ucap Pak Andika.
"Pah, ada yang ingin Mamah katakan sama Papah. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat," ucapnya sambil melirik Alan yang sedang duduk.
"Kalau begitu nanti saja bicaranya, Mah."
"Iya, Pah. Kalau begitu Mamah mau ke belakang dulu," setelah mengatakan itu, Bu Anara pergi ke belakang.
__ADS_1
Sebenarnya Bu Anara pergi karena akan menghubungi Eva, karena ada hal penting yang harus di bicarakan. Tidak bisa di biarkan begitu saja Kiara pergi dari kehidupan mereka. Apalagi saat ini dia sedang hamil anaknya Alan.