Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode 38


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


Di kediaman Pak Andika sedang kedatangan tamu penting. Rian dan Pak Dirga di undang makan malam bersama, sekalian penentuan tanggal pernikahan Rian dan Adelia.


"Mari semuanya, kita langsung makan malam saja," ajak Pak Andika.


Semua yang ada di ruang keluarga mengikuti Pak Andika pergi ke ruang makan.


Bu Anara melirik Eva yang sedang sibuk mengambil nasi.


"Va, katanya kamu mau ajak calon, kok belum datang juga?" Bu Anara bertanya kepada anaknya.


"Sabar dong, Mah. sebentar lagi juga datang kok," jawab Eva.


"Sepertinya ada tamu tuh, calonnya Eva datang," ucap Bu Anara.


Semuanya sudah menoleh ke arah depan. Namun ternyata yang datang itu Nela.


"Ah Nela, kirain yang datang itu calonnya Eva," gumam Bu Anara.


"Malam semua, maaf telat," ucap Nela sambil tersenyum menatap mereka.


"Kami juga baru mulai kok," ucap Bu Anara.


Nela ikut bergabung dengan mereka.


"Lebih baik kita berdoa dulu," ucap Pak Andika, lalu melirik ke arah Rian. "Rian, kamu pimpin doa," pinta Pak Andika.


"Kok aku?"


"Kamu kan calon imam, harus bisa dong," ujar Pak Andika.


Setelah Rian memimpin doa, semuanya langsung melahap makanan mereka.


Semuanya sudah selesai makan malam. Pak Andika mengajak mereka untuk mengobrol bersama. Kebetulan penentuan hari pernikahan Rian dan Adelia sudah di tentukan tadi sebelum mereka makan malam. Jadi setelah makan malam, mereka hanya tinggal bersantai.


Rian mendekati Adelia yang sedang duduk di dekat ibunya.


"Del, aku mau bicara berdua sama kamu," ucap Rian.


"Semuanya, Adel permisi dulu," setelah mengatakan itu, Adelia pergi di ikuti oleh Rian di belakangnya.


Adelia pergi ke taman belakang rumah. Saat ini dia dan Rian duduk berdampingan di bangku panjang.


"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Adelia.


"Aku hanya mau mengucapkan terima kasih karena kamu mau menikah denganku," ucap Rian.

__ADS_1


"Mungkin kita sudah di takdirkan bersama. Apalagi ada anak di antara kita. Tapi aku penasaran deh, kenapa kamu mau sama aku? Padahal kamu suka wanita asli indo, bukan wanita sepertiku yang bermata biru."


"Ya aku itu memang suka wanita indo karena kesannya itu lebih biasa dan pasti mau menerimaku. Jika wanita cantik sepertimu, aku takut di tolak. Itu alasanku kenapa sebelumnya lebih menyukai wanita indo."


"Lalu, sekarang bagaimana perasaanmu saat aku mau bersamamu?" tanya Adelia.


"Senang, akhirnya aku bisa memilikimu, apalagi---" Rian menatap tubuh Adelia dengan tatapan nakal.


Plak


Adelia memukul lengan Rian dengan pelan.


"Kondisikan itu mata jelalatan tidak jelas," ucap Adelia menegur Rian.


Rian hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Kalau yang atas boleh?"


"Bilang sekali lagi, aku kabur di hari pernikahan."


"Pelit amat, ayolah, sedikit saja masa tidak boleh," rengek Rian.


Adelia beranjak dari duduknya, lalu melangkah pergi.


"Adel," Rian berteriak memanggil Adelia.


Rian mengejar Adelia yang sudah pergi duluan.


Adelia sudah kembali ke ruang keluarga. Di melihat Reno yang kini sudah berada disana. Kebetulan Reno terlihat akrab dengan Pak Andika.


"Kak Reno, baru datang?"


"Iya nih, tadi ada urusan dulu di luar."


"Del, Reno ini calonnya Eva loh," ucap Bu Anara.


"Benarkah?" Adelia terkejut saat tahu bahwa Reno itu calonnya Eva. Eva sendiri tidak pernah bercerita kepadanya.


Adelia melirik Eva yang sedang duduk di dekat Ibunya.


"Kamu curang ya, punya calon tidak bilang-bilang," ucap Adelia.


"Tidak sengaja jadi calon, Kak. Awalnya hanya iseng-iseng saja."


"Bagaimana ceritanya? Aku mau dengar dong," Adelia terlihat penasaran.


"Besok saja aku ceritain" kata Eva.

__ADS_1


"Baiklah," kata Adelia.


°°°°°°°°°°°


Pagi ini Kiara baru saja di usir oleh ibu kosnya. Karena salah satu teman kuliahnya bercerita jika saat ini Kiara sedang hamil.


Terlihat Kiara yang sedang berjalan di pinggir jalan raya. Dia belum tahu kemana arah tujuannya sekarang. Tidak mungkin jika dia pulang kampung, pasti orang tuanya sangat kecewa jika tahu bahwa dia sedang hamil.


Beberapa kali dia berhenti karena merasa lelah.


Kiara akan menyeberang, namun kendaraan di jalan raya terus padat. Saat jalanan sedikit sepi pengendara, Kiara memutuskan untuk menyeberang. Namun dia kaget saat ada mobil yang melaju kencang. Untung saja mobil itu tidak menabrak Kiara. Namun Kiara sudah jatuh pingsan karena kaget.


"Pah, ayo kita turun! Kita tolongin wanita itu," pinta Bu Anara.


"Ayo, Mah." Pak Andika membuka pintu mobilnya.


Pak Andika menggendong Kiara dan membawanya ke mobil. Setelah menidurkan Kiara di jok belakang, Pak Andika segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Saat ini Pak Andika sudah sampai di rumah sakit.


Lalu Pak Andika menggendong Kiara dan membawanya ke dalam rumah sakit.


Bu Anara sudah mengurus administrasi. Kini Kiara juga sedang di periksa oleh Dokter.


Bu Anara meghempiri suaminya yang sedang duduk di depan ruang pemeriksaan.


"Pah, bagaimana kata Dokter?" tanya Bu Anara.


"Dokter belum keluar, Mah." jawabnya.


Cklek


Pintu ruangan terbuka, terlihat Dokter yang baru selesai memeriksa Kiara.


"Apa ibu dan bapak ini orangtua dari Nona Kiara?" tanya Dokter.


"Bukan, tadi kami yang menolongnya saat jatuh pingsan di jalan."


"Nona Kiara saat ini sedang hamil muda. Sepertinya pingsan karena kekurangan asupan."


"Hamil, Dok?" Bu Anara tak menyangka jika wanita muda seperti Kiara saat ini sedang hamil.


"Bolehkah kami menengoknya?"


"Boleh, Pak, Bu. Silakan!"


Bu Anara dan Pak Andika masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2