
Pacar baru Vanesa sudah datang kembali ke rumah Vanesa bersama ke dua orang tuanya. Namun mereka datang bukan untuk melamar Vanesa. Justru sebaliknya, mereka menolak untuk menikahkan anaknya dengan Vanesa. Mereka tak rela jika anaknya manikah dengan seorang janda.
Pak Indra mendengar suara barang berjatuhan dari kamar Vanesa. Karena penasaran, Pak Indra datang ke kamar itu untuk mengeceknya.
Ternyata Vanesa sedang membanting semua barang yang ada di kamar. Saat ini kamar itu terlihat seperti kapal pecah.
"Arrgghhhhh, kenapa hidup ini tidak adil untukku," teriak Vanesa.
"Nesa, apa-apaan kamu?"
Vanesa menatap ayahnya yang sedang berdiri di depan pintu masuk.
"Kenapa semua orang berbahagia sedangkan aku tidak?"
"Itu karena kamu yang tidak mau berubah, Nesa. Coba saja kalau kamu menjadi orang yang lebih baik lagi, mungkin hidup kamu akan penuh kebahagiaan. Jangan iri dengan kebahagiaan orang lain," ujar Pak Indra memberikan nasihat kepada anaknya.
"Tetap saja ini tidak adil. Apa salahnya jika aku seorang janda? Tuh Anara juga mantan janda, tapi dia terlihat bahagia hidupnya."
"Rezeki itu sudah ada yang mengatur, Nak. Kamu jangan iri sama adikmu. Cukup sudah adikmu selama ini menerima perlakuan buruk dari kita. Sekarang saatnya dia berbahagia."
"Aiishhh ... Sudahlah, Papah jangan banyak ceramah," Vanesa pergi keluar kamar, membiarkan kamarnya tetap berantakan.
Pak Indra juga keluar dari kamar itu. Lalu memanggil asisten rumah tangga untuk membersihkan kamar yang terlihat berantakan.
°°°°°°°°°
Siang ini Vanesa melihat ayahnya yang sudah terlihat rapih. Sepertinya akan pergi keluar.
"Pah, Mau kemana?" tanya Vanesa yang melihat ayahnya sedang menutup pintu kamar.
"Papah mau pergi nih, mau ajak cucu Papah main," jawabnya.
"Nara sama Kak Dika ikut tidak?"
"Katanya sih ikut, memangnya kenapa? Apa kamu mau ikut juga?"
__ADS_1
"Tidak, ngapain aku ikut," gumam Vanesa.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau ikut, Papah titip rumah ya. Kalau sudah malam tapi Papah belum pulang, jangan lupa kunci semua pintu dan jendela," pinta Pak Indra.
"Papah seperti mau pergi lama saja, kok bicara seperti itu," ujar Vanesa.
"Takutnya Papah pergi lama, Nak." ucapnya.
Setelah selesai mengobrol dengan anaknya, kini Pak Indra berlalu pergi.
Vanesa juga buru-buru ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobil. Niatnya dia akan mengikuti kemana ayahnya pergi.
Pak Indra sudah sampai di kediaman Anara. Mereka pergi sama-sama dari sana. Vanesa hanya mengintai dari kejauhan. Saat dia melihat mobil Andika keluar dari halaman rumah, barulah dia mengikutinya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan dekat, kini mobil yang di kendarai oleh Andika sudah sampai di sebuah taman hiburan. Mereka semua sudah turun dari mobil. Adelia melihat ada pedagang es krim di pinggir jalan.
"Mamah, Adel mau es krim," rengek Adelia sambil menarik-narik pakaian Anara.
"Ayo Mamah antar!" ucap Anara kepada anaknya.
"Baiklah, Nara sama yang lain masuk duluan," ucap Anara, lalu melangkah pergi dengan menggandeng tangan Eva dan Alan.
Pak Indra dan Adelia langsung menyeberang. Pak Indra segera memesankan es krim untuk cucunya.
Saat Pak Indra masih membayar. Adelia yang ada di belakangnya sedang bermain persis di pinggir jalan raya.
"Sayang, ini sud----" Pak Indra terkejut saat melihat cucunya sedang bermain di pinggir jalan raya. Kebetulan banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Pak Indra berjalan cepat mendekati anaknya. Kebetulan ada sebuah mobil yang melaju kencang. Pak Indra menarik cucunya hingga terjatuh ke tanah. Sedangkan dia baru akan mendekati cucunya, namun sudah tertabrak lebih dulu.
Brak
Pak Indra terpental dengan jarak yang lumayan jauh. Adelia berdiri lalu mencari keberadaaan Pak Indra.
"Kakek ... " Adelia menangis memanggil Pak Indra.
__ADS_1
Seorang ibu-ibu mendekati Adelia.
"Nak, orang tua kamu dimana?" tanya seorang ibu itu.
Adelia menunjuk ke arah taman hiburan.
"Ayo kita ke orang tua kamu!" ajaknya.
"Tapi Kakek Adel dimana, tadi Adel lihat Kakek tertabrak mobil," Adelia menangis terisak.
Sebenarnya Ibu itu tidak mau mengajak Adelia untuk bertemu Kakeknya. Karena Kakeknya terluka cukup parah, takutnya Adelia terauma jika melihat kakeknya yang bersimba darah.
"Kita ke orang tua kamu dulu, Nak. Nanti kita baru melihat Kakekmu," ucapnya membujuk Adelia.
Adelia menganggukan kepalanya. Lalu ibu itu menggendong Adelia, dan menyeberang melewati jalan raya.
Anara melihat anaknya di gendong oleh orang asing. Kebetulan dia dan keluarganya sedang menunggu Adelia dan Pak Indra.
"Loh Adel, kamu kenapa nangis? Kakek mana?" Anara mendekati ibu itu yang sedang menggendong Adelia.
"Tadi kakeknya kecelakaan di seberang jalan sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah jalan.
"Kecelakaan?" Anara terkejut mendengar berita duka itu.
"Benar, saya juga melihat sendiri kejadiannya. Tadi kakek itu menolong cucunya yang hampir tertabrak mobil," jelasnya.
"Terima kasih sudah mengantar anak saya," Anara beralih menggendong Adelia.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya.
Setelah kepergian wanita itu, Anara dan keluarganya pergi ke seberang jalan sana untuk melihat kondisi Pak Indra. Namun Anara dan anak-anaknya hanya melihat dari jarak jauh. Karena dia takut anaknya trauma jika melihat kondisi Pak Indra.
°°°°°°°°°°
Mohon maaf baru update, sedikit sakit efek vaksin.
__ADS_1
Season 1 tinggal beberapa Bab lagi, nanti lanjut season 2 disini juga. Mohon bersabar.